Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Perjuangan Daksa untuk Bisma


__ADS_3

"Daksa, bagaimana?" Bisma kembali menelpon assitennya itu. Seolah begitu tak sabar untuk segera di pertemukan kembali dengan Akia dengan lebih fromal .


"Besok, rencananya aku akan membuat jadwal untu kalian. Hari ini aku ada pertemuan dengan Ayahnya. Sabar saja,"


"Baiklah, aku menunggu kabar selanjutnya." Bisma kembali menutup dam menaruh benda pipih itu dari tangan nya.


Nining datang dan siap melayani Tuan nya. hari yang memang sudah sore mengharuskan Bisma membersihkan diri dan meminum semua obat yang telah Ia persiapkan. Bisma berusaha bertahan sejenak dengan Nining, hingga nanti Ia akan mendapatkan Kia sebagai miliknya. Ia begitu yakin jika Kia akan berhasil Ia dapatkan bagaimanapun caranya.


Sementara itu, Daksa dan sekretarisnya telah tiba di Nala hotel, milik keluarga Akia. Ia mengatur jadwal dengan sangat baik hingga mereka bisa bertemu dan membicarakan kembali rencaca bisnis yang sempat tertunda. Pak Arman pun tak asing lagi dengan nya, yang merupakan perwakilan dari  pemilik hotel ternama dan terbesar di kota itu. Alexis, hotel bintang Tujuh dengan segala kemewahan yang ada. Saiap yang akan menolak jika diajak bekerja sama dengan mereka. Apalagi Ayah Kia memiliki hutang cukup besar di bank dan butuh suntikan dana besar untuk mengembangkan  bisnisnya itu.

__ADS_1


"Selamat siang, Pak Daksa..." sambut Pak Arman, bahkan tak segan menunduk kan kepala padanya.


"Siang, Pak Arman. Bagaimana, Anda sehat?" sapa Daksa, sedikit berbasa basi dengan pria paruh baya itu.


Obrolan terjalin dengan ramah. Keduanya membicarakan bisnis secara profesional, hingga toba saat nya Daksa untuk mempertanyakan perihal Akia padanya. 


"Bapak, bukan nya punya anak? Kenapa Bapak masih harus mengurus hotel sebesar ini sendiri?" Pal Arman hanya tertawa mendengarnya. Tak disangka, jika pengetahuan Daksa tentang dirinya begitu luas hingga ke anak gadisnya.


"Setahu saya, itu adalah tugas yang sangat mulia. Kenapa Bapak tak mengizinkan? Tapi, saya tak berhak untuk menggurui cara Anda mendidik anak." Dakda merendah, untuk meraih simpati Pak Arman padanya. Benar saja, pak Arman kemabali tersenyum padanya saat ini.

__ADS_1


"Tapi, saya punya Satu anak lagi. Meski anak sambung dari istri kedua saya, tapi Dia bisa diandalkan. Nanda namanya," puji Pak Arman pada gadis itu. Daksa hanya mengangguk kan kepala. Karena jujur, fokusya kali ini hanya kah Akia yang menjadi incaran sahabatnya. Hingga sebaik apapun pujian Pak Arman, DAksa hanya tersenyum dan mengangguk padanya.


"Akia masih lajang?" Daksa mencoba mempertanyakan status Kia pada Ayahnya.


"Hah? Bagaimana?" Pak Arman mengulang pertanyaan. Takut jika akan  menimbulkan kesalahpahaman diantara mereka, jika Ia tak dapat menerima pertanyaan dengan jelas di telinganya.


"Ya, saya beratanya, apakah Kia lajang? Susah punya pacar, atau bahkan...."


"Ah, tidak... Setahu saya Kia itu jomblo dan bahkan tak memiliki banyak teman saat ini. Ia bahkan berubah menjadi Apatis, setelah pacarnya berkhianat dan menyakiti hatinya. Ditambah lagi, Ibunya meninggal dan saya menikah lagi. Dia merasa menjadi anak paling terasikiti di dunia saat ini." terang Pak Arman. Daksa pun kembali mengangguk, dan mencerna lagi semua perkataan itu. Dalam kondisi yang seperti ini, kemungkinan Kia adalah gadis yang akan sulit untuk dijodohkan. Apalagi dalam keadaan terpaksa.

__ADS_1


"Bapak, tak berminat mencarikan jodoh untuknya?" tanya Daksa. Tak ada salahnya mencoba, karena setidak nya Ia pun berusaha demi Bisma yang mengharapkan nya disana.


__ADS_2