
Mobil berhenti tepat dipintu masuk hotel. Supir bernama yanto itu turun dan membukakan mobil untuk Kia, lalu membantu Bisma untuk ikut turun bersama istrinya. Kia terpana dengan sambutan yang Ia terima, bahkan sampai terperanjat melihat semua orang berbaris menundukkan kepala padanya dengan penuh hormat.
"Sayang, kenapa?" tanya Bisma pada istrinya yang seketika terdiam tanpa suara.
"Ehhhmm, Mas. Ini ngga berlebihan kah? Kok kayak menyambut ratu atau artis begini? Kia, kaget." jawabnya jujur, dan lagi-lagi membuat Bisma tersenyum gemas padanya.
"Ini wajar, mungkin karena aku tak melihatnya. Tapi, nereka pasti sudah merancangnya dengan baik. Turuti, dan senyum saja untuk menghargai kerja keras mereka untuk kamu." bisik Bisma.
Kia hanya mengangguk, dan kembali menggenggam lengan Bisma untuk berjalan masuk kedalam. Dan hingga didalam lobipun, mereka masih sangat banyak dan melakukan hal yang sama seperti diluar tadi. Kia terbiasa dengan hotel ayahnya, tapi ini rasanya Tiga kali lipat besar dan mewahnya dari hotel sang ayah. Belum lagi, yang katanya sudah menyebar diberbagai kota besar di Indonesia.
"Hey, Pak Bisma. Anda sudah sampai?" sambut Daksa dengan formal didepan para pegawainya. Iappun menyapa Kia dengan ramah sebagai Nyonya baru mereka selalin Oma sekar. Dan Jinan meski itu tak wajib untukya.Daksa membawa keduanya masuk keruangan pribadi Bisma, dan beristirahat disana sejenak untuk membicarakan pertemuan yang akan dilakukan beberapa waktu nanti.
__ADS_1
"kia siap? Nanti akan ada sesi wawancara mengenai diri Kia. Mereka hanya ingin tahu, bagaimana Kia yang telah menjadi istri Bisma selaku Direktur utama dihotel ini." tanya Daksa.
"Iya, Kia siap." angguknya dengan memperkuat dekapannya di lengan kekar sang suami. Bisma hanya mengelus tangan itu dengan lembut, agar Kia sedikit tenang saat ini.
"Baiklah, saya keluar sebentar untuk melihat segala persiapan yang ada. Jika ada sesuatu, Kia hubungi saja Liana atau siapapun yang Kia lihat.Mereka akan membantu,"
"Iya..." angguk Kia lagi. Dan memang Ia tak mengerti, hingga hanya bisa menuruti arahan Daksa padanya saat ini.
"Lebay, gitu aja disambut seperti ratu. Nikah aja dadakan ngga pakai pesta, apa bagusnya."
"Jinan kapan mau lanjut kuliah lagi?" tanya Oma, meraih cemilan yang ada dimeja.
__ADS_1
"Kenapa? Jinan ngga perlu kuliah lagi. Toh, masa depan Jinan udah terjamin. Suami Jinan kerja, dan warisan papa banyak. Cukup, kalau untuk JInan sampai Sena besar." jawabnya dengan bangga.
"Lalu, kalau Sena sudah besar bagaimana? Kan kamu suruh kerja dan membiayai masa tua kamu, begitu?"
"Omaaaa? mau oma gimana sih? Oma may Jinan kerja, terus ngga urusin Sena, gitu?"tukasnya kesal.
"Jika kamu kuliah, setidaknya cara kamu berfikir dan wawasan kamu lebih luas dari ini, Jinan.Kamu ngga hanya terjebak dengan apa yang Bisma berikan. Apalagi Surya, bisa apa?"
"Oma lagi tergila-gila sama Kia? Sampai berusaha membandingkan kami? Astaga, Oma. Rupanya Oma tuh jahat banget ya, sama Jinan? Pilih kasih tau ngga!!"
Jinan yang emosi langsung membawa putranya kembali kekamar. Sena tenga tidur, usai mendapat asupan Asi dari sang Mama, serta beberapa makanan tambahan dari Oma. Ia kesal, karena sejak ada kia, Ia merasa selalu ada perbandingan diantara mereka. Apalagi, Kia selalu tampak lebih dimata Bisma dan Oma.
__ADS_1
"Sakit diginiin tuh, sakiiiit!!!" Jinan mengusap dadanya, merasa perih karena ucapan sang Oma yang halus tapi amat menusuk didasar hatinya yang terdalam. Ia ingin menangis, seperti wanita yang tengah tersakiti didunia ini.