
"Mas, udah siap?" panggil Kia yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia mempersiapkan kemeja Bisma dan membiarkannya memakai sendiri.
"Sayang... Coba lihat, apakah sudah benar?" Bisma membalik tubuh dan memperliihatkan hasilnya memakai pakaian sendiri. Kia datang lalu memujinya karena semua telah beres dan hanya tinggal merapikan beberapa bagian yang belum dikancing oleh Bisma.
"Pinternya," colek Kia pada hidung sang suami. Kia lalu memakai pakaiannya sendiri, lalu turun kebawah menemui Oma dan yang lain. Bisma penasaran, bagaimana penampilan Jinan saat ini yang akan bekerja dikantor untuk yang pertama kalinya.
Melangkah turun dari tangga, Kia dan Bisma mendengar kericuhan dari kamar Jinan dan Surya. Kericuhan saat Jinan amat sibuk mengurus suaminya, dengan anaknya sendiri yang bahkan belum sempat Ia mandikan hingga saat itu. Tapi heran, karena Jinan sendiri telah rapi dengan makeup tebalnya.
"Mandiin anak dulu, baru dandan sendiri. Ini anak belum keurus, malah dandan." omel Surya yang masih acak-acakan. Karena memang biasanya Jinan yang selalu merapikan dirinya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kamu ngga tahu, aku sibuk seperti ini biar cantik saat kerja. Emang kamu aja yanv mau terlihat keren?" sergah Jinan pada suaminya itu.
__ADS_1
"Kamu kerjanya apaan? Paling staf biasa. Kuliah aja ngga lulus,".
"Aku ngga lulus gara-gara kamu, ya! Kalau kamu ngga...."
"Jinan... Surya..." hardik Bisma pada keduanya. Mereka diam, dan tak menjawab apa-apa atas panggilan yang dilontarkan Bisma.
"Sini... Aku yang mandiin sena. Siapin pakaiannya aja, aku mandiin dikamar Oma." Kia menghampiri Jinan dan mengambil putranya yang masih lusuh itu. Ia membawanya kekamar Oma, dan Ia mandikan seperti kemarin sambil bermain. Tak ada rikuh sama sekali, meski Ia sudah dandan cantik dan rapi.
"Berani ya, kamu puji dia didepan aku? Sialan kamu," jengah Jinan padanya. Ia menyiapkan beberapa pakaian Surya dan membawanya kekamar Oma. Sementara suaminya Ia biarkan sendirian dalam keadaan yang masih berantakan dikamarnya.
"Sena... Kita mandi dulu sayang," goda Kia pada keponakannya itu. Sena tampak membalasnya dengan senyum yang menggemaskan, membuat Kia rasanya ingin terus memainkan tubuhnya yang gembul itu.
__ADS_1
"Kia mandiin sena?" tanya Oma yang baru saja membersihkan dirinya.
"Iya, Oma. Maaf, ya Kia pakai lagi kamarnya. Sepertinya besok, Kia akan buatkan kamar khusus Sena agar semua barangnya dikamar itu. Kia bebas mau dandanin dia," ucap Kia yang tengah menyabuni Sena, serta mengajaknya bermain gelembung sabun ditangannya.
"Mau dandanin anakku sesuka hati? Bikin anak sendiri kalau mau. Jangan karena dititipin, lantas merasa punya hak, kamu..." ucap Jinan dengan ketusnya. Kia lantas mengangkat kepala dan menghela napas panjang, tanpa menoleh kepadanya.
"Jangan ditanya masalah bikin. Aku bahkan bisa setiap jam buat anak sama Mas Bisma. Dan mengenai hak... Aku berhak atas Sena, sejak kamu mulai bekerja. Tunjukkan sama aku, kalau kamu lebih baik dalam mengurus anakmu. Bagi waktu sebaik mungkin antara kerja dan sena, itu saja." tantang Kia padanya. Dan untuk kali ini, Jinan tak menjawab apa-apa. Hanya mengepalkan tangannya dan keluar dengan hentakan langkah yang kuat.
Bukan kejam, tapi Kia hanya mengajarkan kerasnya hidup pada Jinan. Karena setidaknya Jinan lebih beruntung dibandingkan dirinya yang bahkan tak bisa memilih jalan hidupnya sendiri kala itu.
"Untung udah dapat izin Mamas. Jadi aman, kalau Jinan mau ngamuk nanti. Biarin, yang penting Sena aman." godanya pada pria kecil itu. Sayangnya sena akan Ia tinggalkan beberapa waktu bersama Oma, untuk Ia mengantarkan kontrol Bisma.
__ADS_1