
Mobil berhenti tepat didepan pintu rumah. Oma turun bersama Liana, dan Kia menyusul menggandeng Bisma. Meski rumah ayahnya cukup mewah, tapi Kia masih terpana ektika melihat rumah Bisma Dua kali lebih besar dan mewah dibanding rumah ayahya disana.
"Kia, ayo masuk," ajak Oma dengan ramah dibalas anggukan oleh gadis itu. Bahkan Bismapun mengeratkan gandengan tangan mereka dan berjalan masuk kedalam. Justru Ia yang menuntun Kia saat ini, meski seharusnya adalah kebalikannya. Dan itu seketika membuat gadis itu bengong pada suaminya.
" Aku bahkan sudah sangat hafal seluk beluk rumah ini," bisik lembut Bisma pada istrinya.
Langkah keduanya pun kompak masuk, membuat Kia semakin takjub dengan isi di dalamnya yang begitu rapi dan mewah.
"Selamat datang, Nona." seorang wanita paruh baya datang bersama anggota nya yang lain. Ia lah Bik Mis, dan para rekan yang membantunya mengurus rumah besar itu.
"Kamu ngga kaget kan, sama rumah ini. Karen aku tahu, rumah kamu juga dasarnya mewah."
"Rumah ayah, Mas. Bukan rumah Kia. Kia belum menghasilkan apapun di usia Kia yang sudah segini." jawabnya lemah.
__ADS_1
"Bisa asal kau siap."
"Hah, apa itu?"
"Hasilkan anak-anak yang cantik untuk ku, bisa?" goda Bisma padanya. Terdengar desah tawa Liana dan Daksa dibelakang keduanya, yang ikut gemas mendengar rayuan Bisma pada sang istri.
"Astaga, ferontal sekali..." cebik Daksa dengan menggelengkan kepala dengan tingkah Bisma yang mulai aneh sejak mengenal Kia. sementara Kia tertunduk dengan wajah memerah dan telapak tangan nya yang teras dingin.
"Sudah, Daksa. Ada aja godain orang. Ayo ah, beresin kamar terus biarin mereka istirahat." sergah liana, karena dirinya sendiri pun sudah merasakan lelah ditubuhnya saat ini. Dan berhuung tugas kantornya libur, Ia memutuskan memanfaatkan waktunya untuk istirahat sore hingga malam ini.
Kia masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaian nya dengan yang lebih lega. Saat Ia keluar, di dapatinya Bisma duduk sendirian disofa. Daksa atau Liana bahkan tak membantunya mengganti pakaian yang lebih santai terlebih dahulu.
"Mas, Daksa mana?"
__ADS_1
"Pulang, karena pekerjaannya sangat banyak. ia bahkan harus mampir kehotel sebentar." jawab Bisma. Ia pun berdiri dan mulai membuka kemejanya sendiri untuk Ia ganti. Tak tega, lalu Kia menolongnya meski sedikit canggug dengan apa yang Ia lihat.
Ya, tubuh Bisma yang cukup atletis dengan dada yang cukup berotot. Kia Tak pernah menemukan itu ketika merawatnya, karena belum pernah kabgian jatah memandikan Bisma ketika koma diruangannya. Kini, tubuh itu terpampang jelas di depan mata, nyaris tak membuat Kia berkedip dalam beberapa saat.
"Kia?" Bisma mengibaskan tangan di depan mata Kia. Untung saja tak mengenai wajah atau hidungnya.
"Ya, mas? Maaf, Kia bengong."
"Bengong lihat apa? Kau kaget dengan tubuhku?"
"Ehmmm, anu... Itu, apa?"
"Curang, kenapa aku belum bisa melihat tubuhmu? Pasti sangat indah," tatapan Bisma seperti tengah menhayal yang tidak tidak mengenai yang ia ucapkan.
__ADS_1
"Maaaasss!!!" Kia kesal dan memelintir pinggang Bisma dengan cubitannya. Membuat Bisma seketika memekik kesakitan dan geli yang bercampur menjadi sebuah tawa di bibir indahnya. Tak lupa, omelan Kia yang selalu terdengar merdu ditelinganya. Dan setelah ini, Ia akan sering mendengar itu karena Kia sudah ada bersamanya setiap hari.