
Oma sekar pulang dari rumah Jinan. Ia terdiam ketika melihat rumah dalam keadaan berantakan. Lampu tak dihidupkan meski sudah nyaris malam, jendela dan pintu tak tertutup seperti yang seharusnya. Ia pun seketika teringat Bisma, dan berlari tergopoh-gopoh mecari cucu kesayangan nya. Di sofa, di meja makan yang juga begitu berantakan. Hingga akhrinya pencarian berakhir ke kamar, dan Bisma tengah duduk di kursinya menatap jendela dengan segala kegelapan yang tak Ia rasakan. Karena tanpa lampu pun, semua sudah gelap bagi Bisma saat ini.
"Oma, sudah pulang?" tanya Bisma, yang mendengar langkah kaki dan mencium aroma tubuh wanita paruh baya yang telah mengurusnya selama ini.
"Astaga... Bisma!! Kenapa bisa seperti ini, Nak? Nining kemana? kenapa kamu sendirian, sayang?" Oma sekar memekik histeris melihat keadaan yang terpampang di depan mata. Begitu menyakitkan baginya, ketika Bisma dalam keadaan tak terurus seperti ini.
"Nining pergi. Tapi, bukan Bisma yang memecatnya kali ini. Da pergi sendiri," jawab Bisma, sesuai dengan kenyataan yang ada. Bik Is langsung menyusul keatas, meninggalkan semua kekacauan dibawah. Ia fokus menenangkan Oma yang begitu syok saat ini.
__ADS_1
"Bisma tak apa. Maaf jika membuat rumah tampak berantakan dan gelap. Hhh, Bisma bahkan tak bisa membantu meski hanya sekedar menghidupkan lampu rumah ini. Apa Oma khawatir?" ucapnya dengan sedikit senyum diujung bibir.
Plaaak! Oma seketika memukul Bisma. Membuatnya langsung meringis dan tertawa terbahak-bahak. Apalagi, ketika sang oma mulai mengomel dengan ciri khas yang selalu Ia sukai selama ini.
"Kenapa tidak menelpon Oma? Kenapa malah memilih sendirian dirumah? Untung kamu ngga kenapa-napa. Apalagi kalau ada perampok nyasar yang masuk dan... Dan melukai kamu, Bismaaaa!" Oma lantas menjewer cucu kesayangan nya itu, hingga Bisma semakin mengencangkan tawanya dengan penuh bahagia tak terkira.
Seluruh ke khawatiran yang terdengar, membuat Bisma merasa damai dengan segala perhatian yang ada.
__ADS_1
"Sebentar lagi Daksa pulang. Kita makan malam sama-sama." ucap Oma, mengusap bahu Bisma dengan lembut, lalu pergi meninggal kan nya.
Sore ini, Bisma mencoba mandi sendiri meski harus terus meraba hingga sampai di kamar mandi. Meraba semua yang Ia perlukan seperti sikat gigi dan sabun yang harus Ia pakai. Ia bahkan tersengat air panas yang salah Ia putar dari showernya. Membuat bahunya sedikit memerah. Untung saja tak melepuh, hingga Oma kembali histeris karena tingkahnya kali ini.
Dalam kesendirian yang terulang. Kembali lagi Bisma teringat akan Akia. Omelan gadis itu terdengar begitu merdu di telinganya, hingga tak bisa Ia lupakan. Ingin segera menghubungi Daksa untuk kembali bertanya, tapi Bisma menundanya.
"Dia sibuk. Sebentar lagi, pasti akan pulang dan kesempatan ku bertanya." gumam Bisma. Ia batal mencari hp yang di taruh Nining di ranjang, dan memilih tetap di tempatnya saat ini. Menunggi sahabatnya pulang untuk kembali mmeperjuangkan cintanya.
__ADS_1
"Uhuk! Uhuuuk, uhuuuuk! Haish, orang lagi diem. Bisa-bisanya tersedak sampai batuk begini. Mana segala air mata ikut keluar." racau Kia.
Ia yang baru saja selesai mandi, tengah duduk di depan meja rias dan merapikan dirinya sendiri saat ini. Tapi mood nya serasa hancur, ketika harus batuk dengan tekanan yang menyakitkan dada bawahnya. Air mata pun sampai keluar, dan Ia benci itu.