Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Kia akan bersama saya


__ADS_3

Suasana tampak tegang. Daksa duduk disamping Bisma dengan Liana di sisi lainnya, membuat Bisma ada ditengah keduanya. Pak arman duduk bersama Rangga, dan Kia duduk di sisi lain nya menyendiri tanpa mau di apit siapapun.


"Jadi, bagaimana Pak Arman? Bukan kah Bapak sudah sepakat menjodohkan Kia dengan Bos saya? Beliau lah orangnya." ucap daksa dengan melirik Bisma di sampingnya. Dan menerangkan kembali akan kabar bahwa sebenarnya kedua orang itu sempat bertemu nyaris dalam ekadaan yang sama di Rumah sakit beberapa waktu lalu.


Pak Arman masih berusaha membuang muka dari semuanya. Belum benar-benar mau menerima Bisma untuk menjadi menantunya karena keadaan cacat yang Ia miliki saat ini.


"Mau apa nikah sama orang buta? Ganteng dan kaya pun, ngga akan bisa apa-apa. Menafkahi lahir dengan memperkerjakan orang lain, bagaimana menafkahi batin. Mending aku, sudah  ketahuan betapa perkasanya,." cicit rangga, yang kembali membanggakan dirinya sendiri.


"Ya, saya tahu kamu perkasa. terlalu sibuk melindungi keperkasaan itu, sampai takut di pukul oleh pria yang kau bilang tak berguna." cecar Kia. Seketika membuat Daksa dan Liana tertawa meski sedikit tertahan, dan Bisma tersenyum dengan lebar di depan nya. Ia senang, karena Kia membelanya di depan orang lain terutama sang Ayah.


"Kia!" tegur pak arman padanya.


"Kia ngga mau dijodohin sama Rangga, Yah. Kia ngga suka." sergahnya.

__ADS_1


"Tapi kamu juga ngga mungkin menikah sama dia, karena..."


"Yah, jangan bawa fisik lagi, Kia mohon. Dia yang sempurna pun, belum tentu bisa menjaga Kia dengan baik, Yah."


"Kamu kekeh memilih dia?" tatap Pak Arman dengan tajam pada putrinya. Kia hanya bisa tertunduk diam, dan meremas rok dari gaun yang Ia pkai saat ini. 


Bisma merasakan kegalauan Kia. Dan andai Ia  bisa, Ia akan mendekat dan menggenggam tagan Kia dengan kuat untuk sekedar menenangkan hatinya yang gelisah.  Apalagi ketika Bisma mendengar isak tangis yang keluar dari bibir Kia, yang membuat hatinya begitu sakit dan perih saat ini.


"Saya akan mencintai Kia, dan menjadikan ia satu-satunya wanita dalam hidup saya."


"AYAH!! Keterlaluan!" perih hati Kia mendengar penghinaan yang lagi-lagi terlontar dari mulut sang Ayah pada Bisma.


"Ayah hanya bicara jujur, Kia."

__ADS_1


"Dan bolehkah Kia juga jujur saat ini? Kia jujur, jika Kia benci Ayah. Kia ingin lari sejauh mungkin dari Ayah dan semua peraturan ayah yang selalu mengekang Kia. Kia ngga suka, Kia benci dengan itu semua. Meski Ayah selalu bilang itu demi Kia."


Bisma dan yang lain, hanya bisa menyaksikan semua perdebatan yang ada di depan mata. Mereka tak mampu dan tak memiliki hak apapun untuk menjadi penengah diantar keduanya, kecuali jika Kia telah menyatakan dengan yakin jika Ia mau menikah dan menjadi istri Bisma saat itu juga.


"Dan jika dengan menikahi Bisma adalah cara Kia untuk lepas dari Ayah, maka Kia akan menikah dengan nya." jawaban itu lah yang ditunggu Bisma dan Daksa. 


"Kia," Bisma langsung berdiri, dan mengulurkan tangan nya menyambut sang calon istri. Dengan perlahan, Kia pun melangkahkan kakinya untuk menghampiri dan mendekat pada bisma.


"Begini," Liana menautkan tangan keduanya agar tampak mesra dan meyakinkan.


Pak Arman tampak syok kali ini. Serasa jantungnya akan copot, dengan rasa sakit yang tiada terhingga, terhuyung dan nyaris jatuh kebelakah. Untung saja, rangga dengan cepat menangkap tubuhnya agar tak jatuh dan memperparh keadaan.


"Jika kamu nekat, maka Ayah akan mencoret kamu dari warisan. Kamu akan jadi gelandangan," 

__ADS_1


"Tidak... Karena Kia akan bersama saya." ucap Bisma secara lantang.


"Kia ngga minta apapun dari Ayah. Hanya satu, yaitu nikahkan Kia dengan Bisma. Setelah itu, tugas Ayah pada Kia, selesai."


__ADS_2