
"Aku tak mau, jika ada yang kau sembunyikan dariku, Daksa." Bisma melepas pulpen nya, dan menunggu sejenak hingga Daksa merapikan semua map yang ada di meja. Lalu, Ia duduk untuk kembali mengobrol menghabiskan waktu dengan sahabatnya itu.
"Surya, meminta ku menandatangani berkas. Ia ingin membeli sebuah mobil baru dengan dana perusahaan."
"Lalu?"
"Aku menolaknya. Tapi, Dia mengancamku dengan mu."
"Dia tak pernah bisa menyentuh ku dengan tangan kotornya. Kau tenang saja." Bisma meraba, dan meraih menepuk bahu Daksa. Mereka tampak saling menguatkan saat ini, tak perduli dengan bahasan orang lain mengenai keduanya.
Buta memang lah sebuah kelemahan, tapi Bisma tak lantas lemah hanya karena tak dapat melihat. Ada untungnya, sang Ayah sempat mendidiknya dengan begitu keras di masa remaja. Ia sempat membenci Ayahnya kala itu, hingga Ia sadar, jika sang Ayah melakukan itu demi kebaikan nya. Dan semua itu terbukti saat ini.
Daksa membereskan semua berkas miliknya, lalu Ia membantu Bisma untuk berjalan menuju tempat tidur agar Ia segera beristirahat malam ini. Memang malam telah larut, dan Bisma harus mengistirahatkan matanya yang tanpa cahaya itu. Apalagi, Ia akan segera bertemu dengan Akia untuk membahas perjodohan mereka.
"Aku kembali ke kamarku. Hp, ku taruh di nakas yang dekat dengan drimu hingga nanti kau bisa menghubungi ku kapan saja." Bisma hanya mengangguk, karena memang telah lelah danĀ mengantuk meski Ia tak mengerjakan apapun dirumah. Daksa pun keluar, menutup pintu dan kembali ke kamarnya, yang tepat ada di sebelah kamar Bisma.
__ADS_1
**
Sementara itu, Kia kini tengah gusar dan gundah gulana. Ucapan Ayahnya membuat nya benar-benar tak dapat memejamkan mata saat ini. Ia tak ingin di jodohkan, meski pernah gagal menjalin hubungan dengan trauma yang masih tersisa.
"Jahat! Memang selalu jahat sejak awal. Hanya gara-gara Ibu pergi, sifat aslinya keluar. Menyebalkan!" racaunya sendirian di malam yang mulai larut itu.
Tok... Tok... Tok..! Pintu diketuk, terdengar pelan dan memastikan Akia telah terlelap atau belum di kamarnya.
"Kak Kia, ini Nanda. Bisa ngobrol sebentar?"
"Kenapa? Mau wakili Ayah buat bujuk aku?"
"En-engga, Kak. Nanda cuma mau ketemu Kakak aja kok. Dan lagi, Sumpah Nanda ngga pernah tahu rencana itu sebelumnya."
"Kalian itu sama saja. Emang cocok jadi ayah dan anak. Pantes, sampai lupa anak kandung dan milih anak tiri." ucapan yang hanya bisa membuat Nanda menarik napas dalam dan mengehembuskan nya dengan kuat.
__ADS_1
"Papa itu sayang, sama Kakak. Nyatanya, Papa selalu cari Kakak dan nitip hotel ke Nanda. Begitu ingin nya Papa akan kepulangan Kakak. Andai Nanda bisa, Nanda mau malakukan apapun yang Kakak perintah. Sebagai permintaan maaf Nanda untuk Kakak. Nanda sadar, menerima orang baru dalam keluarga memang begitu sulit."
" Udah tahu, pakai ngomong. Kamu ngga sulit tuh, menerima Papa mu sebagai Papa baru."
"Kita beda, Kak. Nanda udah lama kehilangan Papa Nanda, hingga Nanda seneng kalau Papa Arman gantiin. Maaf, maaf sekali lagi."
Nanda terus saja merendahkan dirinya di hadapan Kia. Besar harapan di hatinya, agar Kia bisa memaafkan nya dan berhubungan baik seperti yang Ia harapkan. Tapi agaknya sulit, karena kepribadian Kia yang memang keras dan sulit di taklukan hanya dengan ucapan maaf. Entah harus dengan apa lagi, cara Nanda untuk membujuknya.
"Gantikan aku bertemu pria itu, besok." ucap Kia dengan nada santai. Toh baginya, pria itu buta dan tak bisa mengenali antara Kia dan Nanda.
"Buat dia ilfil, hingga pihak mereka yang membatalkan perjodohan."
"Ta-tapi, Kak?"
"Dan jika pria itu justru mau dengan kamu? Yaudah, kalian berarti jodoh. Nikah aja berdua."
__ADS_1