Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Astaga! Aku harus apa?


__ADS_3

Bisma melerai mereka dengan sekali ucapan yang seketika membuat Jinan diam. Meski menangis pada akhirnya, Jinan masuk ke kamar dan menutup pintunya sekuat tenaga hingga bunyinya mengagetkan oma untuk mengelus dada.


"Jinan," lirih Oma. Kia langsung menghampiri dan menenangkan oma dengan air minum sisa miliknya. Yang terdekat, karena takut oma syok jika tak langsung diberi air putih.


"Oma, maaf." sesal Kia, yang merasa menjadi pemicu semua keributan yang ada.


"Sudah, ngga papa. Kia naik aja, bantu Bisma membersihkan diri sore ini. Tinggal menunggu waktu untuk makan malam bersama." sebenarnya, oma ingin memberi waktu yang intim untuk keduanya saat ini.


"Iya, Oma." angguk Kia. Ia pun meraih tangan Bisma dan membawanya naik ke kamar.


Meski canggung dan dadanya bergemuruh, Kia berusaha melayani suaminya dengan baik. Ia membuka pakaian Bisma satu persatu. Dan saat itu kia tahu, tubuh Bisma begitu atletis meski tampak kurus. Kia meneguk salivanya, berusaha membuang muka dengan apa yang Ia lihat.


Padahak untuk apa, toh Ia akan melihatnya setiap hari sejak hari ini.


"Kau, canggung?" tanya Bisma. "Jika canggung atau belum bisa, biarkan aku mandi sendiri. Aku, bisa."

__ADS_1


"Mas... Mas Bisma bisa? Maaf, kia hanya..."


"Ya, aku bisa. Hanya siapkan saja pakaian gantiku."


"Iya, mas. Maaf," angguk Kia.


Bisma berjalan menuju kamar mandi tanpa terbentur atau bahkan terpeleset. Tak ada bunyi keributan untuk benda jatuh, atau salah sentuh dan Bisma terdengar mandi dengan rapi. Penasaran sebenarnya, untuk kia mengintip Bisma. Apa benar mandinya bersih, atau bagaimana. Tapi Ia menahannya saat ini.


"Ntar dikira mes sum." geli kia membayangkan aksi Bisma padanya jika itu terjadi.


"Astaga!" Kia refleks berucap saat melihat kegagahan suami yang tiada tara. Dan surya? Pastinya lewat tak ada tandingannya jika dibandingkan dengan Bisma.


"Kia?" panggil Bisma, yang mulai meraba semua arah mencari istrinya. Karena Ia tak memegang tongkat saat ini.


"Eh... Iya, mas, maaf." Kia langsung menghampiri dan meraih handuk untuk mengusap rambut Bisma yang basah. Bisma pun menunduk sedikit, karena sadar Kia kesulitan meraihnya saat ini.

__ADS_1


Pasti sangat manis, ketika Bisma dapat menatap wajah Kia dalam posisi seperti ini. Mereka berhadapan dengan begitu dekat, dan Bisma harusnya dapat menatap matanya dengan lekat. Penasaran juga, dengan bibir kia yang selalu bawel dan cerewet ketika bersamanya.


Tangan Bisma naik, menyentuh bahu Kia. Naik terus ke rahang hingga menyentuh wajah kia yang hangat terasa ditangannya yang dingin. Menyentuh bibirnya dan mengusap sedikit disana. Kia seketika diam, dan berhenti bergerak dengan apa yang Bisma lakukan padanya.


"Astaga, aku harus apa?" batin Kia bergemuruh dengan begitu kuat. Apalagi, saat tangan Bisma meraih tengkuk lehernya dan mulai mempererat tatapan mereka.


Bibir Bisma mulai mendekat, semakin intens pada bibir Kia saat ini. Sayangnya, kia masih menghindar dan tampak ragu dengan apa yang Bisma lakukan padanya.


"Kenapa?"


"Mas, kia belum mandi. Kia belum gosok gigi, dan...."


"Hhh, kau ini." senyum Bisma tampak begitu menggemaskan. Dengan sikap Kia yang terlanjur blak-blakan padanya. Tapi Ia suka, dan itu lah yang membuatnya menyukai sang istri.


Kia menggenggam tangan Bisma lalu menciumnya dengan lembut. Membawanya untuk membantu memakai pakaian yang telah Ia persiapkan tadi.

__ADS_1


Jujur, rasanya Kia belum bisa membayangkan sama sekali dengan apa yang akan Bisma lakukan padanya, walau mau tak mau itu akan tetap terjadi dan Kia harus siap.


__ADS_2