Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Ayah mu lagi?


__ADS_3

Satu jam sebelumnya.


Akia berjalan dengan begitu malas menuju restaurant yang telah Ayah nya janjikan. Semuanya terasa malas, apalagi ketika sang Ayah lagi-lagi akan mempertemukan nya pada seseroang yang akan dijodohkan padanya.


"Kia bukan perawan Tua, Ayah. Jangan ngebet cariin jodoh, deh. Males, Kia tuh."


"Menurut, Kia." ucap Sang Ayah dengan santai tapi tegas. Kia hanya menghela nafas, dan mengeluarkan nya dengan kasar dari mulutnya. Kemudian meminum jus yang telah di pesan kan sang Ayah.


Hingga beberapa menit kemudian, datang seorang pria bertubuh tinggi dan besar. Memiliki otot yang nyaris sempurna datang menghampiri keduanya. Ayah Kia langsung berdiri dan menyambutnya dengan super ramah, menepul bahu Kia untuk melakukan hal yang sama.


"Perkenalkan, Pak Rangga. Ini putri saya, Akia namanya." Rangga pun langsung mengulurkan tangan nya dengan senyum yang begitu ramah. Tampaknya Ia menyukai Kia, tapi tatapan itu terasa aneh bagi Kia yang melihatnya. Apalagi, ketika Ia bersalaman sembari menggelitik sedikit bagian telapak tangan Kia.


"Wah, ngga beres nih orang." perasaan Kia tak enak, dan langsung melepas genggaman tangan itu darinya. Lalu spontan mengusap bekas itu ke kemeja yang Ia pakai.


Awalnya Ayah Kia membicarakan bisnis dengan nya. Kia pun mendengar kan dengan tenang sembari menikmati cemilan yang Ia pesan. Lama kelamaan, obrolan menjurus pada sesuatu yang lebih serius mengenai status dan hubungan  antar dua orang dewasa.


Parahnya, Ayah Kia yang memulai semua itu. Hingga Kia makin merasa jika Ayah nya benar-benar ingin membuangnya dari keluarga. Semakin parah lah, perasaan Kia pada sang Ayah.

__ADS_1


"Saya ke tolilet sebentar. Bisa kalian lanjutkan obrolan berdua." pamit Pak Arman, meninggalkan keduanya tanpa rasa ragu.


Rangga mulai mendekati Kia. Ia menatap gadis itu secara intens dengan kepala Ia miringkan dan ditopang menggunakan tangan. Membuat Kia gemetar, tapi bukan karena jatuh cinta. Melainkan karena rasa geli dan cemas dengan tatapan mesum yang diberikan.


"Mau kah, malam ini kita kencan?" tawarnya tanpa basa basi. Bahkan, Rangga pun tanpa segan mengajak Kia menginap di hotel miliknya yang ada di dekat pantai. Menjanjikan malam dengan pemandangan yang indah dan hangat.


"Maaf, maksudnya? Anda ajak saya menginap?" Kia balik bertanya untuk memperjelas semuanya.


"Ya, apalagi? Kencan, jalan dan makan berdua. Dan berakhir menghabiskan malam berdua. Apa kau belum pernah, Kia?"


"Hhhh, belum sama sekali." Geleng Kia, semakin kuat menyeruput minumannya. 'Gila, nih orang' racau Kia dalam hati.


"Apa maksudmu? Kau fikir, aku wanita macam apa yang bisa kau tiduri seenaknya? Kau fikir aku jalaang? Hah!" sergah Kia, menamparkan tas pada wajah tampan pria itu.


"Jangan munafik! Semua pasangan pasti menginginkan itu. Jangan berlagak-....."


Buuuggh! Sebuah bogem melayang ke rahang pria itu dengan kuat.

__ADS_1


"Jangan samakan saya dengan wanita yang sering anda pakai, ya. Sembarangan!"


"Kau! Ingat, Ayahmu membutuhkan Ku!" Rangga mencengkram lengan Kia dengan kuat, hingga nyeri di rasa gadis itu.


"Lepasin! Saya teriak, supaya Anda di keroyok sama orang-orang yang ada disini!" ancam Kia. Dan Rangga pun melepasnya setelah melihat keadaan yang ramai. Dan Kia pun lari setelah nya.


"Mau kemana lagi, kamu?" sang Ayah mencekal lengan nya lagi. Tak dirasa, meski masih perih karena ulah Rangga.


"Biarin Kia pergi! Kalau Ayah udah ngga mau Kia ada, mending Ayah biarin Kia keluar dari rumah!" Kia menghempas tangan Ayahnya, lalu kembali berlari sekuat tenaga. Tak perduli sang Ayah mengejarnya, bahkan Rangga masih ikut untuk menangkapnya.


Buuuggh! Kia menabrak pria di depan nya. Ia mendongak, dan pria itu tersenyum begitu ramah padanya.


" Hay, Kia?" sapa Bisma padanya. Lagi-lagi, Bisma yang Ia tabrak ketika Ia dalam kejaran sang Ayah.


"Pak Bisma? Maaf, saya harus...."


"KIAAAA!" pekik Pak Arman dari arah berlawanan.

__ADS_1


"Ayahmu lagi?" Kia tak menjawab apapun. Ia hanya kembali berlindung di belakang Bisma, lalu mencengkram bahunya dengan kuat karena semua rasa takutnya. Itu cukup, untuk sekedar memberi jawaban pada Bisma. Tangan nya memundurkan Kia, agar semakin berada dibelakangnya.


__ADS_2