
"Pak Arman Wijayatama, pemilik Nala hotel sekaligus Mobil Mercy hitam dengan plat Bf9031NL. Benar?" Bisma menyeringai dengan lengkungan senyum diujung bibirnya saat itu. Sementara Pak Arman langsung mematung dan diam seribu bahasa dengan ucapan snag menantu didepan matanya.
"Itu mobil Ayah, memang kenapa?" Kia menatap keduanya bergantian dengan penuh tanda tanya.
"Ada apa dengan mobilku?" tanya pak Arman, yang wajah gugupnya tak dapat disembunyikan dari mata putrinya.
"Mas... Tolong jelasin, Mas. Ini kenapa? Kia masih ngga ngerti sama sekali, Mas." desak Kia yang amat penasaran kali ini.
" Satu tahun lalu, Pak Arman. Aku bahkan tak tahu Adan memiliki acara penting apa saat itu, hingga sepertinya terlalu sibuk dan terburu waktu. Anda meninggalkan saya yang terkapar penuh darah dan tertinggal rombongan saat sunmory. Saya nyaris merengang nyawa sendirian dalam keadaan setengah sadar disana, bahkan berfikir akan segera mati. Hhh, untung saja Tuhan masih memberi saya kesempatan meski harus kehilangan pengelihatan saat itu," ungkap Bisma panjang lebar.
Jantung Kia berdebar amat kencang saat itu. Seolah tak percata, tapi Bisma tak mungkin berbohong padanya apalagi mengenai sebuah kejahatan yang cukup fatal dilakukan oleh ayahnya sendiri.
__ADS_1
"Tabrak lari?" lirih Kia dengan suaranya yang cukup berat saat itu. Ia tak menyangka jika sang ayah bisa sekejam itu dengan orang lain, meski jika itu bukan Bisma suaminya.
"Ayah melakukan tabrak lari, Yah? Jawab Kia, Ayah!" Kia berteriak sejadi-jadinya saat itu, Iapun menangis tersedu-sedu dan tak bisa lagi menahan segala rasa kecewa yang ada. Bukan karena Bisma, melainkan sang ayah memiliki otak kriminal dengan segala rasa tega dihatinya. Hati kia hancur dan remuk redam saat ini.
Untung saja Daksa segera datang. Ia masuk dan menyaksikan semua kejadian yang ada kala itu. Dan tanpa dijelaskan, Ia tahu apa kejadian sebenarnya. Apalagi ada Pak arman disana dengan tangisan dari Kia yang semakin menjadi-jadi.
"Kau sudah cerita?" tanya Daksa dengan suara lirihnya.
"Kenapa ngga bilang sejak awal, Mas?" Kia dengan suara sesaknya, terdengar begitu perih dihati Bisma saat itu.
"Kia... Ayah bisa jelaskan, Kia. Ini semua demi kamu, Kia!" Pak Arman mencoba membela diri kala itu. Dan bercerita jika semuanya Ia lakukan demi membuat Kia bahagia dengan cara Ia berusaha sekuat tenaga untuk menghadiri acara wisuda kia kala itu. Ia yang dikejar semua scedule yang begitu banyak, harus bisa membagi waktunya sendiri agar bisa menghadiri semuanya.
__ADS_1
"Demi Kia, Ayah tega membuat nyawa orang lain nyaris melayang, Yah. Perjuangan macam apa itu?" sergah Kia dengan segala rasa kecewanya.
Pak arman mulai frustasi, dan mencoba mencari pembelaan pada dirinya sendiri saat ini. Ia bahkan menyalahkan Bisma, yang Ia tuduh memiliki rencana busuk pada dirinya agar bisa menghancurkannya melalui Kia.
"Jika Saya hanya ingin menghancurkan Anda, itu akan sangat mudah saya lakukan sejak dulu. Tapi itu tak saya lakukan, karena Kia. Saya tak ingin Kia sedih lagi karena Ayahnya, dan saya tak pernah mau ada airmata setetespun mengalir hanya karena kita berdua. Tidak," geleng Bisma saat itu, membuat Pak Arman sadar betapa besar cinta Bisma pada putrinya meski masih sulit Ia akui.
"Kau mau apa denganku? Memasukkan aku kedalam penjara, atau menghancurkan semua milikku?"
"Sudah Saya katakan. Jika saya ingin, maka saya akan melakukannya sejak dulu tanpa diketahui siapapun. Dan tangan saya akan tetap bersih dari noda, seperti apa yang Anda lakukan pada saya kala itu."
"Jadi apa maumu?!!!!" pekik Park arman yang seolah tak dapat mengontrol emosinya saat ini.
__ADS_1
"Tetap diam, dan jangan beritahu siapapun tentang pertemuan kita. Ingat... Satu orang saja tahu, maka Nala akan hancur tanpa melihat siapa Anda dihidup saya." ancam Bisma dengan suara baritonnya, terdengar tegas dan menakutkan. Bagai Bisma tengah menampakkan mode aslinya pada kia yang selama ini manis dihadapannya.