
"Kiaaaa!!!" Oma menghampiri dengan tangisan dan mata sendunya. Begitu juga Jinan yang langsung memeluk Kia saat itu dengan aura sedih terpancar dari matanya. Kia langsung membalas pelukannya dengan erat dan kembali menitikan air mata tanpa mengucapkan sepatah katapun saat itu.
"Polisi dan Tim lain tengah melakukan pencarian. Mereka akan berusaha sebaik mungkin untuk segera bisa menemukan Bisma bagaimanapun keadaannya,"
"Mas Daksa..." Kia menegurnya, dan tatapannya penuh ketakutan. Tapi Daksa hanya menganggukkan kepala dan memberinya kekuaran saat itu.
Oma meraih tangan Kia, Ia membawa cucu mantunya itu untuk masuk kedalam kamar. Bik Is datang membawakan teh hangat dan sarapan untuknya, namun Kia begitu enggan untuk menyentuh semuanya saat ini. Tatapannya kosong dengan wajah yang pucat, tubuhnya amat dingin hingga Oma mematikan Ac yang ada dikamarnya saat itu.
"Setidaknya Kia minum tehnya dulu," bujuk Oma, dan Kia menurutinya. Ia kembali merebahkan diri dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal hingga batas lehernya dan diam tanpa bersuara sedikitpun disana.
"Bagaimana dengan perkembangan pencarian, Kak?" tanya Jinan yang mendampngi Daksa meminum tehnya kala itu.
"Belum ada perkembangan sama sekali, Jinan. Dan surya masih disana untuk mengawasi semuanya, tentunya dibantu oleh yang lain."
__ADS_1
"Ya, baiklah. Setidaknya dia tidak sendirian saat bekerja,"
"Kau sendiri ragu pada suamimu?" tatap Daksa. Jinan hanya mengangguk kecil, mengisyaratkan jika Ia membenarkan seua pertanyaan Daksa padanya saat itu. Karena jujur, perasaanya tak tenang akan surya.
"Orangku sudah menyelidiki semuanya. Dan jika ada sesuatu, pasti mereka akan melaporkan semua penemuan meski kecil."
"Segera beritahu Jinan jika..."
"Jika waktunya, aku akan memberitahumu tentang semuanya. Untuk saat ini, jaga Kia dari siapapun yang mungkin mengancam. Dan aku akan menjga kalian semua dari kejauhan."
Daksa pamit pergi setelahnya. Ia begitu banyak pekerjaan saat ini dengan segala tanggung jawab yang kembali dibebankan olehnya. Harusnya memang Jinan, tapi Ia terbukti belum mampu mengerjakan apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab saat Bisma tak ada. Dan saat itu juga, menjadi sebuah penyesalan teramat dalam bagi Jinan.
"Andai ngga membangkang, andai belajar dengan baik kala itu. Pasti semua ngga akan seperti ini. Maafin Jinan, Kak." sesalnya mendalam merutuki segala kebodohan yang ada.
__ADS_1
Kabar akan hilangnya Bisma segera terdengar ketelinga PAk Arman dan Nanda. Pak arman tampak tenang, dan amat datar saat mendengar berita itu seolah Ia senang karena Ia akan mengambil kembali Kia dari mereka. Sementara itu Nanda dan Mama Lisa amat cemas, dan mengatur jadwal untuk segera menjenguk Kia disana.
"Papa ikut," ucap Pak arman, yang langsung membuat anak dan istrinya membulatkan mata.
"Papa ngga akan berbuat macem-macem kan?" tanya Nanda, yang memang semakin hari semakin bisa bicara sesuai kata hatinya.
"Ya, kenapa? Papa ingin menjenguk anak Papa yang baru saja kehilangan suaminya."
"Dan setelah itu?" tatap Nanda curiga.
"Hanya tinggal menunggu, kapan Kia bisa pulang kerumah ini lagi." jawab Pak arman dengan penuh harap. Ia bahkan memakai kemeja hitam untuk datang kesana, sebagai simbol berkabung atas musibah yang terjadi. Bukan mama Lisa tak memintanya mengganti pakaian itu, tapi Papa begitu keras untuk tetap memakainya.
"Yasudah, ngga papa. Nanti kita cepet pulang kalau papa buat ulah," ucap Nanda pada sang Mama. Mereka bertigapun pergi menjenguk Kia saat itu, dan nanda mempersiapkan diri untuk mengatasi hal buruk yang mungkin terjadi disana nanti.
__ADS_1
"Semoga setidaknya ada Kak Daksa disana," harapnya dalam hati.