
Kia telah tiba dirumah besar itu. Ia menatap sebuah mobil yang terparkir didepan, tapi Ia cuek dan masuk saja kedalam untuk istirahat.
"Kak Kia, sudah pulang?" sapa Jinan yang tengah duduk diruang tamu bersama Surya dan beberapa pengacaranya disana.
"Ada apa ini?" tanya Kia, yang awalnya cuek dan akhirnya menghampiri mereka semua disana.
"Mau... Ehmm..."
"Aku minta Jinan tanda tangan surat pengalihan kuasa. Kenapa?" potong Surya pada ucapan istrinya yang gugup.
"Oh...." cuek Kia tanpa menambah ucapan apapun lagi.
Kia lalu berbalik lagi dan hendak naik keatas, tapi Jinan mencegah agar Kia mau memegang sena untuknya. Ia merasa tak aman saat sena ada disampingnya saat itu, karena surya seolah akan memanfaatkan putranya jika Ia tak mau mendantangani surat-surat yang ada didepan mata.
__ADS_1
"Sudah dibilang Kia capek, kamu kenapa sih? Sini, Sena sama aku aja. Tanda tangan surat begitu aja kamu lama banget." sergah Surya pada istrinya dengan nada keras.
"Aku... Aku kan butuh baca dulu semua isi suratnya, Pa. Jadi..."
"Aku udah bilang, aku cuma mau surat kuasa untuk menjalankan hotel. Bukan mau merebut hotel dari kalian! Kenapa sulit kamu percaya sama aku?!"
Kerasnya ucapan itu sampai membuat Jinan memundurkan kepalanya karena takut. Tubuhnya bergetar, bahkan Sena meringik dan nyaris menangis karena ulah sang Papa didepan matanya.
Kia akhirnya mengalah dan mengambil sena saat itu. Ia melirik sedikit akan surat dan dokumen yang ada, tapi seketika disingkirkan oleh pengacara surya.
"Oh, gitu? Terus kamu?"
"Aku suami Jinan, dan setidaknya aku akan jadi penanggung jawab atas keluarga ini. Apalagi aku ayah sena, yang merupakan keturunan keluarga Prada. Kau tak punya apapun yang bisa kau andalkan, bukan?"
__ADS_1
Kia tersenyum sengit padanya. Jika bukan karena rencana, pasti Ia akan melayangkan tinjunya pada ayah sena itu hingga giginya rontok. Tapi Ia memilih memutar badan dan segera pergi darisana untuk mengasuh sena dikamarnya.
" Sebenarnya ngga tega lihat kamu tertekan, Jinan. Tapi akhirnya kamu tahu, bagaimana surya sebenarnya. Dan setelah itu, tergantung kamu akan bagaimana dengan hubungan kalian." gumam Kia didalam kamarnya sembari bermain bersama sang keponakan yang sudah amat akrab dengan dirinya itu.
Kiapun tak tinggal diam, Ia sembari mencicil untuk mengemasi beberapa barang yang akan Ia bawa pulang kerumah Ayahnya. Dan setelah itu, Ia akan menemani suaminya untuk operasi kornea mata seperti yang telah mereka tunggu selama ini.
Tak banyak yang Ia bawa. Karena Ia juga tak ingin surya semakin curiga dengan apa yang Ia lakukan. Kia juga berjaga-jaga jika rupanya sang ayah memiliki kerjasama berdua dengan mantan calon menantunya itu.
Ya, siapa tahu. Meski dulunya mereka tak akur, pasti akan ada sebuah jalan mengakrabkan diri. Apalagi dengan jalur dan target yang sama.
"Semoga tak ada masalah lain, dan bisa fokus sama Mas suami. Iya kan, Sena? Doain biar Om cepet sehat dan bisa main sama sena nantinya." goda Kia pada sang keponakan, hingga Ia tertawa karena tingkah tantenya yang begitu ceria saat ini.
"Bener-bener ngga ada rasa dukanya kamu ya, Kia?" tegur Surya yang mendadak masuk kekamarnya. Dan langsung melotot dengan sebuah koper kecil yang ada didekatnya, tampak sudah siap untuk ia bawa pergi segera.
__ADS_1
"Duka untuk? Lagipula menangis sampai darah yang keluarpun tak akan membuat Mas Bisma hidup lagi. Dan itu jika benar-benar meninggal." ujar Kia padanya.