Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Makan malam bersama


__ADS_3

Bisma duduk setelah memakai pakaiannya dengan rapi. Ia menunggu Kia yang tengah mandi sembari mendengarkan beberapa pesan suara dari Daksa. tak lupa, beberapa ledekan yang keluar dari sahabatnya itu dan membuat Bisma tersipu malu.


"Hmmm, aku tak akan mengganggumu malam ini." 


"Kenapa? Ada masalah, kau sibuk?" tanya Bisma dengan mengerenyitkan dahinya.


"Hey, Broooo. Ini malam pertamamu dengan Kia. Mana bisa aku mengganggumu? Menghubungi disaat ini saja aku merasa bersalah, apalagi nanti malam." cicit Daksa. Bsima hanya emenlan salivanya dengan kasar pada apa yang dikatakan sahabatnya itu.


Kreeek!


Pintu kamar mandi terbuka. Tedengar suara langkah kaki Kia keluar dari sana dan menutup kembali pintunya perlahan. Jantung  Bisma rasanya mulai tak aman, apalagi saat Daksa terus memprovokasi dirinya.


"Sudahlah, Daksa! Ku matikan teleponnya," kesal bisma.


 Ia yang merasa tak nyaman pun berusaha berdiri dari tempatnya setelah menaruh Hp diatas meja. Ia meraih tongkat yang terlipat dan berusaha membukanya agar memanjang. tapi entah kenapa, semuanya menjadi sangat sulit hingga tongkat itu justru memukul kepalanya sendiri.


"Aaaakkhhh!!!" Bisma memekik dengan mengelus dahinya yang nyeri.

__ADS_1


"Mas Bisma!!" Kia  yang tengah memilih pakaianpun spontan berlari menghampiri suaminya. Tanpa memperhatikan bagian mana Ia berjalan hingga tersandung kaki meja dan jatuh.


Duuuuggh!!


"Aakh! Sakit," rintih Kia yang tersungkur di lantai. Kala itu, Bisma menatapnya tajam dari sumber suara yang Ia dengar.


"Aaaarggh!! Mas Bisma?" Pekik kia padanya. 


"Kenapa? Aku bahkan tak bisa melihatmu," ucap bodoh Bisma ke istrinya.


Bismapun melotot sebesar biji jengkol. Menelan lagi salivanya demgan kasar dan wajahnya memerah seperti kepiting yang baru saja direbus. 


"Kenapa ,mendeskripsikan itu? Padahal, A-aku..." 


Kini giliran Kia yang merutuki dirinya sendiri. Ia merasa sangat bodoh dihadapan Bisma yang sebenarnya sudah menjaga diri dari semua bayangan akan dirinya. Tapi, Ia justru memperjelas semuanya. Sangking malunya, Kia terdiam seribu bahasa dan menggigit bibirnya lari menuju tempat pakaian.


"Kia, maaf... Aku,"  

__ADS_1


"Udah ngga papa. Ngga usah dibayangin, Kia malu." jawabnya dengan kepala tertunduk. Ia segera memakai pakaian yang memang telah siap sebelumnya secepat kilat. Entah bagaimana rasanya saat ini, apalagi membayangkan wajah yang Bisma berikan padanya.


Bisma pun masih diam. Fikirannya gamang, dan Ia harus menjaga isi kepalanya agar tetap bersih. Meski saat sehat Ia juga bukan pria yang amat baik dan suci, tapi Ia setidaknya tak bisa menyamakan sang istri dengan bagaimana wanita yang sering Ia lihat sebelumnya.


"Ayolah otak, bersihkan dirimu." mohon Darma pada bayangan dari kepalanya sendiri.


"Mas," panggil Kia, membuyarkan diamnya Bisma saat itu.


"Ah, iya sayang. Kenapa?"


"Kia udah pakai baju, udah rapi. Yuk, makan malam. Pasti udah pada nungguin," ajak Kia dengan manja. Bisma pun berdiri dan berjalan keluar, dengan tangan Kia yang merangkulnya dengan erat. Saat itulah, semua bayangan kotor Bisma seketika menghilang dari fikirannya.


Keduanya tiba dibawah. Oma, Jinan dan Surya pun sudah menunggu cukup lama disana. Tampak dari tatapan Jinan yang semakin sinis dengan kegelisahan yang ada diwajahnya. Mungkin terlanjur lapar, apalagi Ia memang tengah menyusui sang bayi hingga butuh asupan ekstra saat ini.


"Pengantin baru, ngapain aja sampe lama banget? Ngga tahu apa, orang nungguin daritadi. Kalau ngga mikir oma, udah gue tinggal Lu." Jinan kembali nyinyir pada keduanya, terutama pada kia yang menurutnya sok anggun dan cantik saat ini. Apalagi saat Surya menatap kia tanpa kedipan dari matanya. 


Semakin jengah saja Jinan pada kia. Seperti telah mengalihkan dunia mereka yang harusnya pada dirinya. Dia, yang selama ini menjadi tuan putri dengan segala fasilitas dan kekuasaan yang ada. Semua yang akan dituruti tanpa pernah meminta Dua kali, dan semua yang tak akan pernah ditentang oleh seisi rumah itu. Dan kini, Kia yang seolah mengambil alih semuanya. Bahkan Bisma saja berani bernada tinggi padanya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2