
Suara isak tangis terdengar disudut ruangan diujung koridor Rumah sakit. Daksa yang mendengarnya langsung menghampiri dan duduk disebelahnya saat ini, karena wanita yang menangis itu adalah Jinan. Ia sendirian disana, saat yang lain saling memberi semangat dan berpelukan bersama mendoakan si kecil Sena.
"Minumlah," ucap Daksa yang menyodorkan sebotol air mineral untuk Jinan.
Jinan menoleh dan mengusap air matanya, dan Ia lalu meraih air minum itu lalu Ia teguk sebagai pelepas dahaga. Menangis memang melelahkan dan membuat haus, hingga tanpa terasa Jinan menghabikan setengah dari botol air mineral itu dan memberikannya lagi pada Daka.
"Terimakasih," ucap Jinan sembari menarik ingus dari hidungnya yang nyaris meler. Sayangnya Daksa tak terampil membawa sapu tangan atau tisu disakunya, tapi Ia dengan sigap mencari meski hanya mendapat gulungan dari tisu toilet yang terdekat dengan posisinya saat itu.
"Maaf, aku hanya menemukan ini... Di toilet itu," tunjuk Daksa. Jinan meraihnya untuk mengusap airmata yang amat deras itu, namun bukan berhenti tapi justru semakin deras dan air matanya semakin mengalir membasahi pipinya. Itu sontak membuat Daksa kebingungan saat ini dan entah harus berbuat apa untuk menenangkan Jinan.
"Kenapa, Kak? Kenapa mereka semua jahat sama Jinan? Jinan cuma kecapean abis pulang kerja. Jinan ngga sengaja ketiduran," ucapnya dalam tangis tanpa henti itu.
__ADS_1
"Hey... Tenanglah, aku juga tahu jika kau lelah. Tapi kau punya batita hingga selelah apapun kau harus tetap waspada, itu saja. Dan satu pelajaran lagi untukmu..."
"Apa?" usap Jinan pada matanya yang mulai bengkak karena menangis.
"Sebenci apapun kamu dengan Kia, Kia tetap Kakak iparmu. Kamu benci Kia, dan Kia benci dengan surya. Tapi Kia ngga pernah menjadikan Sena pelampiasan amarahnya," Jinan mamsih sesegukan dan berusaha menenangkan diri, tapi Ia masih dapat mendengarkan setiap ucapan Daksa dengan baik.
Dan satu lagi yang Ia tangiskan adalah, kemana surya saat anaknya seperti ini? Bahkan surya sama sekali tak bertanya meski hanya lewat telepon.
Daksa hanya diam untuk saat ini. Ia tahu bagaimana kinerja Surya, yang meski pekerjaaan menumpuk tapi Ia masih bisa santai dengan apa yang ada didepan matanya. Hanya saja Daksa tak mau menambah kesedihan Jinan saat ini, dan Ia hanya mengangguk meraih kepala Jinan dan mengusapnya dengan lembut. Sentuhan itu membuat Jinan nyaman dan sedikit bisa menenangkan dirinya saat ini.
"Jinan!! Kamu dimana?" panggil Kia padanya. Jinan langsung berdiri dan menghampiri, akrena pasti ada kabar mengenai Sena darinya.
__ADS_1
"Iya, Ki... Ada apa?" tanya Jinan. Dan benar, bahwa Kia membawa kabar mengenai sena padanya. Bayi kecil itu sudah ditindak lanjuti dan suhu tubuhnya mulai membaik dengan segala cairan dan terapi yang telah diberikan. Hanya saja Sena diharuskan utuk menginap beberapa malam untuk mempermudah proses pengobatan.
"Ngga papa kalau harus menginap. Yang penting, sena bisa cepat sembuh." ucap Jinan. Mereka berjalan bersama menuju Sena yang sebentar lagi akan dibawa keruang perawatan.
Saat itu Bisma berdiri saat tahu Jinan datang. Ingin bicara, tapi Kia segera mencekal tangan suaminya agar menjaga lisannya untuk saat ini. Kia ingin memberikan waktu Jinan berdua dengan putranya, duduk mengenggam tangan mungil itu dan mengecupnya mengucap sebuah kata maaf atas segala keteledorannya.
"Maafin Mama, sayang. Mama janji akan jaga sena baik-baik setelah ini. Sena ngga akan pernah sakit lagi, mama janji. Cepet sembuh, sayang." Jinan membawa tagan mungil itu untuk mengusap pipinya. Rasa yang tadi amat panas, kini mulai hangat Ia sentuh. Mengartikan bahwa kondisi sena memang sudah lebih baik dari sebelumnya.
Kini perawat datang lagi, dan mereka membawa sena menuju ruangan perawatan yang telah disiapkan. Jinan menggendongnya didpan dan berjalan dengan perawat terus memegangi infusnya agar tak mampet, dan Kia menggandeng Bisma mengikutinya dari belakang.
"Lihat Mas, terkadang memang perlu sebuah peringatan atau pelajaran. Agar kita tahu, betapa berharga sesuatu yang kita miliki saat ini." ucap Jinan, mengecup lengan kekar suaminya selama perjalanan itu.
__ADS_1