Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Nala tanpa Prada


__ADS_3

"Pa, hari ini ada pertemuan kembali dengan Tuan Ameer." ucap Nanda saat perjalanannya menuju kantor bersama sang Papa. 


"Jika dia masih membawa nama Prada, Papa batalkan semua proyek yang ada." balas Papa Arman dengan  segala keras hatinya.


"Tapi, Pa... Ini proyek yang cukup besar dan ngga main-main. Apa salahnya membawa nama Prada dan Kak bisma, asal kita masih bisa berjalan dengan apa yang kita miliki. Anggap saja itu sebuah previlage, pa. Dan dengan ini hotel akan makin berkembang," bujuk Nanda panjang lebar. Ia tahu, jika sudah cukup lama hotel tak mendapat proyek besar apalagi untuk skala Internasional seperti ini. 


Sebuah konser Boyband yang amat terkenal akan diselenggarakan, dan Tuan Ameer meminta Nala untuk menjadi salah satu brand yang siap menampung para penonton yang pasti akan sangat banjir dan memadati kota mereka. Mereka datang dari berbagai daerah dari luar kota, dan bahkan mereka bersedia memboking hotel dari jauh-jauh hari meski harganya naik demi melihat idola mereka tampil. 


Papa Arman hanya tak ingin Ia selalu ada dibawah bayang-bayang sang menantu, karena Tuan Ameer juga bekerja sama dengaan Prada sebagai Brand utama diantara beberapa yang laiin termausuk Nala. Yang artinya, Prada akan selalu ada diatas mereka.

__ADS_1


"Papa tak pernah menganggap ini sebagai previlage atau apalah itu. Papa mendirikan hotel ini sendiri bersama Bunda Kia, dan tanpa ada ikut campur pihak manapun, Nanda. Jadi, biarkan Nala tetap Nala tanpa ada dibawah bayang-bayang Prada ataupun Bisma." Nanda hanya menundukkaan kepalanya saat ini. Ia amat menyayangkan keegoisan Papanya yang tak berfikir panjang hanya karena Bisma yang akan memimpin mereka.


Saat ini Proyek itu amat menguntungkan bagi Nala yang mulai sepi efek virus yang terjadi belakangan ini. Sekian cara dan promosi bahkan diskon mereka lakukan, tapi semua tak membawa perubahan signifikan. Meski masih memiliki keuntungan, tapi Nala termasuk sepi jika dibandingkan hotel sekelas yang lain.


"Papa selalu bilang, jika Nanda menjadi andalan disini. Dengan ilmu dan segala ide bagus yang nanda miliki. Tapi, kenapa Papa mengubur semua ide yang Nanda berikan? Jadi untuk apa Nanda bekerja sekeras ini jika pendapat Nanda ngga didengar?" curhat nanda, yang tengah menelpon Daksa saat ini ditengah-tengah istirahat mereka.


"Sekarang nanda baru paham, kenapa Kak Kia sampai nekat kabur dari rumah. Bahkan, menerima lamaran Kak Bisma meski Ngga cinta."


"Tapi sekarang beda... Mereka seperti tak terpisahkan untuk saat ini, Nda." Jawaban Daksa cukup menenangkan hati Nanda. Ia awalnya cemas jika Kia sulit beradaptasi dengan lingkungan barunya, apalagi Ia tahu jika ada surya disana.

__ADS_1


Ya, Nanda tahu pasal surya. Nanda juga tahu pasal Jinan dan para sahabatnya sejak dibangku kuliah dan mereka satu fakultas. Sayangnya Nanda itu pendiam amat jarang memiliki teman, tapi Dia bisa dengan mudah mendapat info dari beredarnya gosip yang ada. Apalagi pasal Jinan, yang Drop out dari kuliah karena Ia mengandung anak surya kala itu.


Mereka menutup telepon masing-masing dan kembali pada pekerjaannya. Daksa kembali keruangan, namun Ia berhenti sejenak saat melihat Jinan  kesulitan menyusun sebuah proposal yang baru saja Ia foto copy.  Karena tak tega, Daska pun membantunya sejenak untuk menyusun semuanya.


"Jangan sok baik," tukas Jinan.


"Aku tak pernah melakukan apapun yang tak pernah ku sukai. apalagi dalam keadaan terpaksa."


Dan bahkan Jinan tahu, jika Surya baru saja melewatinya. Tapi surya pura-pura tak melihat semua kesulitan yang Ia alami saat itu.

__ADS_1


__ADS_2