
"Lu, ayo kita pergi saja dari sini. Aku sudah tidak berselera lagi!!"
Marisa meraih pergelangan tangan Lucas dan menyeret pemuda itu meninggalkan kedai. Keberadaan Alan dan Diana membuat Moodnya hancur seketika. Bahkan dia sudah tidak berselera lagi untuk memakan ice cream.
Dan sementara itu. Alan yang merasa itu memang Marisa memutuskan untuk mengejarnya dan meninggalkan Diana begitu saja.
"Marisa, tunggu!!" Seru Alan sambil menahan pergelangan tangan Marisa. "Kau Marisa kan?" sekali lagi Alan memastikan.
Marisa tersenyum meremehkan. "Bukan, tapi aku Vivian, kau sudah membuang banyak waktuku. Minggir, kau menghalangi jalanku!! Lucas, ayo kita pergi dari sini." Ucap Vivian yang kemudian di balas anggukan oleh Lucas.
Tubuh Alan terhuyung kebelakang karena senggolan Marisa pada bahunya. Dan sudah pasti wanita itu memang sengaja melakukannya.
Lucas menatap pergelangan tangannya yang masih di genggam oleh wanita itu dengan tatapan tak terbaca.
Jantung Lucas selalu tidak sehat jika sudah melakukan skinship dengan wanita ini. Lucas selalu merasakan debaran tak biasa saat melakukan kontak fisik dengannya. Namun berbeda rasanya dengan ketika mereka berada di atas ranjang.
"Noona, lepaskan tanganku. Bajingan itu sudah tidak ada bukan, dan sampai kapan kau akan menggenggam tanganku seperti ini?!" Protes Lucas karena tangannya nasih di genggam oleh Marisa.
Marisa melepaskan genggamannya pada tangan Lucas lalu menatap pemuda itu dengan sebal. Kenapa sih dia sangat susah jika sudah di ajak skinship seperti ini? Tapi kenapa dia tidak pernah menolak jika diajak menari di atas ranjang.
"Kau marah?" Tanya Lucas melihat wajah kesal wanita disampingnya.
"Tidak, hanya sedikit kesal. Aku heran denganmu, kenapa kau selalu menolak Skinship, tapi tidak pernah menolak ketika aku mengajakmu di atas ranjang. Apa kau merasa risih berpegangan tangan denganku?!"
Lucas mendesah berat. Dia tidak tau bagaimana harus mengatakannya pada Marisa, apa Lucas harus berterus terang jika dia sangat gugup setiap kali mereka berpegangan tangan.
"Bukan begitu, Noona. Kau salah paham, sebenarnya aku~"
"HEI, KALIAN YANG ADA DI SANA!! AWAS, MENYINGKIR LAH!! MOTORKU REMNYA BLONG!!"
Ucapan Lucas di interupsi oleh teriakan seorang pria setengah baya yang meminta mereka untuk menyingkir. Kedua mata Marisa lantas membelalak melihat motor itu yang semakin mendekat.
Tanpa banyak berpikir, Lucas segera menarik tubuh Marisa hingga keduanya terguling di atas rumput hijau, di sisi trotoar. Sementara si pria itu nyungsep ke semak-semak.
__ADS_1
"Noona, kau tidak apa-apa kan?" Tanya Lucas memastikan. Kemudian dia membantu Marisa untuk berdiri.
"Aku tidak apa-apa, cuma lecet sedikit saja." Dia menunjukkan lengannya yang sedikit tergores.
Wanita itu meninggalkan Lucas lalu menghampiri si bapak yang tampak kesulitan itu. Marisa merasa kasihan pada pria itu."Anda tidak apa-apa?" Tanya Marisa memastikan.
"Tidak, Nona. Saya baik-baik saja." Jawabnya meyakinkan.
Kemudian pandangan Marisa bergulir pada dagangan si bapak yang berhamburan di tanah dan roda bagian depan motornya yang terlepas. Dia menafsirkan jika pria itu pasti mengalami kerugian yang lumayan besar. Biaya pembuatan dagangan juga perbaikan kendaraan.
"Rumah Paman dimana? Kami akan mengantarmu pulang."
"Tidak perlu, Nona. Saya bisa pulang sendiri. Maaf, saya harus membawa motor ini ke bengkel."
"Tunggu!!" Seru Marisa, menahan pria itu. CEO muda nan cantik tersebut mengeluarkan dompetnya lalu memberikan sejumlah uang pada pria paruh baya tersebut. "Saya ada sedikit uang, silahkan pakai untuk perbaikan motor ini dan juga modal usaha. Kami permisi dulu."
"Terimakasih atas kebaikan Anda, Nyonya. Semoga Tuhan yang kelak membalasnya." Marisa tersenyum lebar lalu mengangguk.
.
Siang telah berganti malam. Sang penguasa hari telah kembali ke peraduannya, dan posisinya di gantikan oleh sang penguasa malam.
Langit cukup cerah malam itu. Gemerlap bintang-bintang memayungi nyaris seluruh kota, ibarat mutiara yang berkilauan di kelamnya samudera. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat indah, yang mampu memanjakan penikmatnya.
Seorang wanita terlihat berdiri di balkon kamarnya menikmati semilir angin malam yang berhembus lembut. Angin menggoyangkan helaian panjangnya yang terurai.
Kemudian Marisa mengedarkan pandangannya ke segala arah, dia tak menemukan hal-hal aneh di sana, apakah itu hanya halusinasinya saja, atau itu hantu yang sedang mengganggunya? Atau mungkin hantu nyasar yang di maksud oleh kedua keponakannya?
Marisa menggeleng. Ini adalah jaman modern, dan dia tidak percaya dengan hal-hal seperti itu.
Ini sudah malam tetapi bergerak dari tempatnya saja tidak, Marisa sangat menikmati suana seperti ini. Lalu dia mengadahkan wajahnya untuk melihat beberapa bintang di atas sana.
"Aku merindukan kalian, kenapa kalian harus meninggalkanku secepat ini?" Tanpa terasa air mata menetes di pipinya. Marisa merasakan sesak yang luar biasa di dadanya setiap kali mengingat keluarganya.
__ADS_1
Sejak kecil Marisa tinggal bersama nenek dan kakeknya di luar negeri. Namun mereka meninggal ketika usia Marisa baru menginjak usia 17 tahun. Dan di tahun yang sama, disaat lukanya belum kering sepenuhnya, seluruh keluarganya meninggal karena kecelakaan.
Dan sejak saat itu dia hidup sebatang kara tanpa sanak keluarga. Beruntungnya dia memiliki seorang Paman dan Bibi yang sangat baik yang mau merawatnya, dan mereka dari pihak ayah.
"HUAAA!!! DEDEMIT!!"
Marisa terlonjak kaget setelah mendengar jeritan histeris dari kamar si kembar. Buru-buru Marisa pergi ke kamar mereka untuk melihat apa yang terjadi.
Marisa tertegun saat melihat sosok berbaju putih berambut panjang yang tengah tersungkur di lantai kamar Mark dan Vincent. Dengan ragu Marisa mendekati sosok itu yang pastinya adalah hantu.
"Kau...Hantu atau manusia?!" Ucap Marisa pada sosok di depannya.
Sontak sosok itu mengangkat wajahnya dan menatap Marisa dengan senyum lebar, memperlihatkan lesung pipinya. Saat dia tersenyum, deretan giginya yang hitam terlihat jelas. Bukannya terlihat mengerikan, sosok itu malah terlihat menggelikan.
"Hehehe!! Bagaimana kalau kita kenalan dulu, aku Suketi, ganti Gaol penjelajah waktu. Suketi suka nemplok sana nemplok sini, bersahabat dengan para manusia yang cantik dan tampan seperti kalian. Kau mengingatkanku pada masa mudanya sahabatku, Aster. Sama-sama cantik, mirip boneka."
"Bibi, sebaiknya usir saja dia. Kami takut." Ucap Mark setengah merengek.
"Tampan, aku ini hantu cantik dan cetar membahana. Jadi kalian tidak perlu takut ya,hihihi."
"Tertawanya saja mirip setan, bagaimana kami tidak takut."
"Pergilah, kau membuat takut kedua ponakan ku. Lagipula aku juga tidak nyaman jika harus tinggal satu atap dengan mahluk beda alam sepertimu."
"Ais, kau tidak perlu khawatir Cantik. Suketi yang cetar ini bisa tidur dimana saja, di atas pohon juga oke. Lumayan loh, bisa kau jadikan satpam gratis buat jaga rumahmu dari para penjahat!!"
"Terserahlah. Aku mau tidur, jangan menggangguku!! Kalian juga cepat tidur."
Kemudian Marisa meninggalkan kamar si kembar. Rasanya dia masih tidak percaya ada hantu yang nyasar ke rumahnya. Dan lebih konyolnya lagi, hantu itu terlihat menggelikan dari pada harus di sebut mengerikan.
-
Bersambung.
__ADS_1