
Lucas menghentikan mobilnya dihalaman luas mansion mewah keluarga Valerie. Seorang pria menghampirinya ketika dia keluar dari mobilnya. Orang itu bertugas memindahkan mobil Lucas.
"Apa nona mu ada di dalam?" Tanya Lucas pada pria itu.
Pria itu lantas mengangguk. "Nona Vivian, ada di dalam," jawabnya.
'Vivian?!' pria didepannya ini memanggil Nona nya dengan nama Vivian? Apa dia tidak salah dengar. Atau mungkin Vivian telah membuka identitasnya yang sebenarnya di depan semua orang. Setelah balas dendamnya pada keluarga Alan?
Tak ingin memusingkannya. Lucas melanjutkan langkahnya, dan memasuki bangunan mewah berlantai tiga tersebut. Beberapa pelayan langsung membungkuk ketika berpapasan dengannya, karena mereka sudah tau siapa Lucas sebenarnya.
Pria berdarah China itu menaiki satu persatu anak tangga menuju kamar Marisa yang berada di lantai dua. Hari ini Lucas tidak memberi tau Vivian tentang kepulangannya, makanya dia tadi bertanya lebih dulu sebelum masuk.
Tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Lucas memutar kenop di depannya, pintu terbuka dan memperlihatkan sosok wanita yang sedang berdiri di depan dinding kaca sambil memegang sebuah gelas berisi cairan merah di tangan kirinya.
Dan karena terlalu asik dengan dunianya. Sampai-sampai Vivian tidak menyadari kedatangan Lucas, sampai sebuah suara menyapu indera pendengarnya.
"Vivian,"
Merasa namanya dipanggil, sontak saja Vivian menoleh. Sudut bibirnya tertarik ke atas melihat siapa yang datang. Meletakkan gelas ditangannya, kemudian Vivian menghampiri Lucas dan langsung memeluknya.
"Ge,"
Tubuh Lucas terhuyung kebelakang karena pelukan Vivian. Kedua lengan wanita itu melingkari leher Lucas. Lucas mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Vivian.
"Aku merindukanmu." Ucap Vivian sambil mengeratkan pelukannya.
Lucas menutup matanya dan berbisik lirih ditelinga Vivian. "Aku juga." Ujarnya.
Vivian melonggarkan pelukannya, sepasang netra Hazel nya menatap sepasang iris mata coklat milik Lucas yang juga menatapnya."Ge," panggil Vivian tanpa mengakhiri kontak matanya.
Lucas memicingkan matanya mendengar panggilan Vivian. 'Ge' apa dia tidak salah dengar, Vivian memanggilnya 'Gege' yang berarti kakak.
__ADS_1
Vivian mengerutkan dahinya. "Kenapa menatapku seperti itu? Apa ada yang salah di mukaku?" Tanya wanita itu memastikan. Lucas menggeleng. "Lantas?"
"Kau memanggilku Gege, apa aku tidak salah dengar?"
"Memangnya kenapa? Kau itu suamiku, dan usiamu juga 5 tahun lebih tua dariku. Daripada harus memanggilmu Oppa, aku lebih suka memanggilmu Ge. Lu Ge." Ujar Vivian.
Lucas menarik gemas ujung hidung Vivian lalu membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Mendekap tubuh wanita yang begitu dia rindukan itu dengan erat.
"Baiklah, terserah kau saja. Aku tidak akan protes lagi tentang bagaimana kau akan memanggilku," tuturnya. Vivian tersenyum, wanita itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Lucas.
Setelah memendamnya selama beberapa hari. Akhirnya rindunya pada sang suami tersalurkan juga. Jika boleh jujur, Marisa menang tidak pernah ingin jauh dari Lucas. Tapi keadaan lah yang tidak memungkinkannya.
Lucas melepaskan pelukannya pada tubuh Vivian. Sepasang manik matanya mengunci mata Hazel itu dengan bibir mengurai senyum lembut.
Perlahan tapi pasti Lucas mendekatkan wajahnya pada Vivian, mereka sama-sama menutup mata saat merasakan benda Lunak dan basah menyentuh dan menyapu permukaan bibir masing-masing, disusul ciuman-ciuman panjang yang menuntut.
Sebelah lengan Lucas memeluk pinggang Vivian, sedangkan kedua lengan Vivian memeluk leher Lucas. Mereka mencoba saling melepaskan rindu melalui ciuman itu.
"Siapa bilang, aku hanya belum siap saja. Kau yang memulainya tiba-tiba." Wanita itu mengcerutkan bibirnya. Dia tidak terima di bilang tidak sanggup.
Lucas terkekeh geli. Dimatanya Vivian sangatlah menggemaskan. "Ingat umur, Vivian Valerie, berhenti memanyunkan bibir seperti itu. Kau bukan bocah lagi, tidak pantas untuk CEO sepertimu!!"
"Dasar pria menyebalkan, sekalinya pulang malah terus mengejekku. Sebaiknya kau tidak usah pulang saja!!" Vivian bersidekap dada dan memalingkan wajah dari Lucas. Sepertinya CEO Cantik satu ini sedang ngambek pada suaminya..
Lucas mendesah berat. Menghampiri Vivian kemudian memeluknya dari belakang sambil menyandarkan dagunya pada bahu kiri sang istri.
"Aku pulang bukan untuk berdebat denganmu, Sayang. Tapi karena aku sangat-sangat merindukanmu." Bisik Lucas dan semakin mengeratkan pelukannya.
Marisa melepaskan pelukannya. Kemudian dia berbalik. Posisinya dan Lucas saling berhadapan. Kemudian Vivian berhambur ke dalam pelukan suaminya.
"Apa kali ini kau tidak akan pergi dan meninggalkan aku lagi?" Tanya Vivian sambil mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Lucas menggeleng. "Maaf, Vi. Tapi aku harus pergi lagi. Keadaan Kakek benar-benar belum memungkinkan untuk aku tinggalkan terlalu lama. Tapi kau tenang saja, aku pasti akan menemui mu sesering mungkin."
"Kita adalah pengantin baru, tapi kenapa kita malah terpisah seperti ini?!" Vivian menundukkan kepalanya, cairan-cairan bening berjatuhan dari pelupuknya dan membasahi kedua pipinya.
"Aku tau, Sayang. Tapi keadaan lah yang saat ini memaksa kita untuk berpisah. Tapi percayalah, meskipun ragaku tidak ada di sisimu, tapi hati dan cintaku selalu bersamamu." Lucas mengeratkan pelukannya.
"Aku mengerti, maaf karena sudah terlalu egois." Lucas menggeleng, tidak seharusnya Vivian meminta maaf. "Tapi malam ini kau akan menginap bukan?" Vivian menatap Lucas penuh harap. Dia benar-benar sangat berharap Lucas akan menginap malam ini.
Lucas memandang sepasang Hazel milik wanitanya. Melihat tatapan Vivian membuat Lucas tidak tega untuk mengatakan tidak. Jika hanya satu malam saja, mungkin tidak ada masalah.
Lagipula saat ini Kakeknya sudah banyak yang menjaga. Dan dia bisa kembali esok hari. Menemani istrinya mungkin tidak ada salahnya.
"Ge,"
"Baiklah, malam ini aku akan menginap. Siapkan pakaian untukku, aku mandi dulu." Vivian tersenyum lebar. Wanita itu mengangguk, dan dengan senang hati dia menyiapkan pakaian untuk Lucas.
.
Lucas keluar dari kamar mandi 15 menit kemudian. Dia mengambil pakaian yang Vivian siapkan untuknya lalu memakainya.
Sebuah kemeja abu-abu gelap lengan terbuka dan celana hitam membalut tubuhnya. Kemeja itu tidak terkancing sempurna sehingga terlihat singlet putih yang menjadi lapisan dalam kemejanya.
Vivian tersenyum puas. "Lihatlah betapa tampannya dirimu, Ge. Bukankah aku sangat ahli dan hal fashion." Ucap Vivian menanggalkan diri.
Lucas menjawab ucapan Vivian dengan anggukan. Vivian tersenyum. "Ge, aku lapar, ayo temani aku makan malam di luar. Sudah lama kau tidak makan malam bersama, malam ini kau harus mentraktir istrimu yang cantik ini." Ucapnya dengan begitu bersemangat.
Lucas menepuk kepala Marisa, bibirnya mengurai senyum tipis. "Hao, kalau begitu ayo kita pergi sekarang. Aku juga sudah lapar." Vivian mengangguk. Keduanya melenggang meninggalkan kamar dan pergi untuk makan malam.
-
Bersambung.
__ADS_1