
Vivian lega ternyata luka di pelipis Lucas tidak terlalu parah, dan luka itu juga tidak terlalu dalam. Dalam beberapa hari juga pasti kering, asalkan dirawat dengan benar.
Setelah mengganti perban di pelipis Lucas dengan perban yang baru. Kemudian Vivian meninggalkan pria itu sendiri di kamar mereka. Tiba-tiba Vivian merasa lapar dan dia ingin sekali memakan ramyeon pedas.
Vivian juga berencana membuatkan untuk Lucas, tapi bukan yang pedas. Wanita itu tau jika suami tampannya tersebut tidak terlalu menyukai pedas. Itulah kenapa Aster memilih yang pedas sedang untuk Lucas.
"Aromanya sangat lezat, kau membuat Ramen?" Tegur Lucas yang entah sejak kapan sudah ada di belakang Vivian.
Wanita itu menoleh dan memandang Lucas yang juga menatap padanya. Kemudian Vivian mengangguk. "Tiba-tiba aku lapar, aku juga membuatkan untukmu." Ucap Vivian lalu membawa kedua Ramyeon itu kemeja makan.
"Tenang saja, itu tidak pedas kok. Karena aku tau kau tidak terlalu menyukai pedas." Vivian tersenyum seolah mengerti apa yang Lucas pikirkan.
"Benarkah?" Vivian mengangguk."Terimakasih, Sayang. Kau memang yang terbaik." Ucap Lucas sambil mengusap kepala Vivian.
Bukan rahasia lagi jika Lucas sangat mencintai Vivian. Meskipun awalnya perasaan yang dia rasakan pada wanita itu bukan cinta, tapi seiring berjalannya waktu cinta itu malah tumbuh dan mekar dihatinya untuk Vivian. Bahkan kini cinta yang dia miliki untuk wanita itu lebih besar dari cinta Lucas pada dirinya sendiri.
Usai menyantap Ramyeon buatan Vivian. Mereka kembali ke kamar, tapi tidak langsung tidur. Keduanya memutuskan untuk berdiri di balkon menikmati malam.
Vivian menyandarkan kepalanya pada bahu Lucas. Sebelah tangan pria itu memeluk pinggang sang istri sedangkan tangan lain mengapit sebatang rokok. Sesekali Lucas menghisap rokok tersebut lalu menghembuskan asapnya ke udara kosong.
"Ge, berikan satu batang padaku. Sudah lama aku tidak merasakan nikmatnya nikotin." Ucap Vivian yang langsung mendapatkan penolakan keras dari Lucas.
"Jangan macam-macam. Dulu aku tidak memiliki hak untuk melarang mu merokok, tapi sekarang aku memiliki hak penuh karena kau adalah istriku!!"
Vivian mencerutkan bibirnya. Dia sudah menduganya. Pasti Lucas akan melarangnya merokok lagi. Dan dia tidak memiliki keberanian untuk mendebatnya, mengingat betapa mengerikannya Lucas ketika sedang marah. Bisa-bisa suaminya ini mendiaminya lagi.
Lucas membuang putung rokoknya yang hanya tinggal sedikit kemudian melepaskan pelukannya pada pinggang Vivian. "Ayo masuk, aku sangat lelah dan mengantuk." Ucapnya dan kemudian dibalas anggukan oleh Vivian.
Brakk...
Baru saja Lucas dan Vivian kembali ke kamar. Tapi suara benturan dari arah depan mengejutkan mereka berdua. Lucas pun kembali ke balkon dan matanya membelalak melihat ada penyerangan.
__ADS_1
"Oh, sial. Aku kedatangan tamu tak diundang!!" Ucapnya setengah bergumam.
"Ge, ada apa? Dan kenapa kau terlihat panik?" Vivian menahan pergelangan tangan Lucas ketika pria itu kembali ke kamar.
"Apapun yang terjadi jangan tinggalkan kamar ini. Tetap disini dan jangan coba-coba untuk keluar. Ada tamu tak diundang yang menyerang tempat ini. Jangan sampai mereka menemukanmu apalagi melihat keberadaan mu, aku tidak ingin kau sampai terlibat masalah karena diriku."
"Tapi, Ge. Bagaimana denganmu? Bagaimana jika kau terluka oleh mereka? Aku mohon jangan pergi." Pinta Vivian memohon.
"Dan membiarkan teman-temanku terbunuh dengan sia-sia?!" Kata Lucas menyela ucapan Vivian.
Wanita itu menatap Lucas berkaca-kaca, kemudian dia berhambur ke dalam pelukan suaminya. "Kau harus kembali dalam keadaan baik-baik saja, dan ingatlah, jika kau sampai mati terbunuh di sana, maka aku akan ikut mati denganmu juga!!"
Untuk sesaat Lucas terpaku mendengar kalimat yang keluar dari bibir Vivian. Detik berikutnya sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan indah di wajah tampannya.
"Baiklah, aku berjanji."
Vivian melepas Lucas yang berjalan meninggalkan kamar mereka dengan berat. Jantungnya berdegup kencang, rasa takut seketika memenuhi ruang kosong dalam hatinya.
Bagi orang lain. Apa yang Vivian katakan pasti terdengar berlebihan, ketika dia mengatakan akan ikut mati bersama Lucas jika pria itu sampai terbunuh dalam perkelahian tersebut. Tapi wajar jika Vivian mengatakan demikian, karena dia terlalu mencintai Lucas dan tidak ingin ditinggal sendiri olehnya.
-
DORR!
DORR! DORR!
.
Secepat kilat, satu buah peluru menembus kepala pria bertubuh besar itu, lalu membuatnya ambruk bersimbah darah. Di sisi lainnya, pria lain tengah adu tembak dengan anak buah Lucas, tapi tak satu pun peluru yang dia lepaskan ada yang berhasil menggores apalagi menembus tubuh mereka.
"APA KALIAN CUMA INGIN MENONTON?! BANTU AKU!" Teriak bertindak di ujung bibirnya itu pada anak buahnya yang masih terpaku di tempat. "HABISI MEREKA SEMUA DAN BUAT TEMPAT INI RATA MENJADI TANAH!!"
__ADS_1
"Tidak semudah itu, Ariel Mayer!!" Sahut seseorang dari arah belakang.
Lucas datang dengan aura membunuhnya yang begitu kuat. Sorot matanya semakin tajam dan berbahaya melihat beberapa anak buahnya terluka ditangan anak buah Ariel Mayer.
Beberapa anak buah Ariel melangkah mundur melihat Lucas yang semakin mendekat.
Pria itu menyeringai, dengan brutal Lucas menghabisi beberapa orang yang mencoba untuk menyerangnya secara bersamaan. Tanpa ampun dia menembaki mereka dengan pistol ditangannya.
Yang tidak bisa menghindari tembakan yang Lucas lepaskan langsung ambruk dan meregang nyawa.
Salah satu alasan kenapa Lucas begitu ditakuti karena dia lebih banyak bertindak dari pada bicara. Dan hanya orang-orang bodoh yang berani mencari masalah dengannya.
Perkelahian malam ini berlangsung begitu sengit. Malam yang dingin dan sepi ini menyelimuti pertumpahan darah di markas besar Black Devil. Mayat-mayat bergelimpangan dimana-mana, membuat halaman markas Black Devil tak ubahnya menjadi lautan darah.
"Sial, sepertinya aku datang ke tempat yang salah. James Mayer, aku pasti akan membunuhmu karena berani mengirim ku ke kandang singa!!" Ujar Ariel Mayer dengan geram.
Dia pasti akan membuat perhitungan dengan kakaknya itu. Bagaimana bisa dia malah mengirimnya pada Iblis seperti Lucas, dia yang memiliki masalah dengan Iblis ini, tapi malah dirinya yang dijadikan umpan.
"Berhenti!! Lucas, aku mohon padamu, sebaiknya kita hentikan saja pertumpahan darah tak berguna ini!!"
Lucas memicingkan matanya. "Kenapa? Apa kau mulai takut, eh?" Pria itu menyeringai.
"Aku tidak pernah ada masalah denganmu, tapi James!!! Dia menjebak ku dan mengirim ku kemari. Jika aku tau lawan ku adalah Iblis, aku tidak akan Sudi datang kemari!!"
Lucas menatap Ariel dengan seringai yang sama. "Tapi sayangnya hatiku tidakkah selembut dan selunak itu. Siapa yang berani datang dan mencari masalah di sini, bunuh tanpa sisa!!!"
"Dasar Iblis!! Baiklah, jika kau memang ingin pertempuran sampai mati?! Aku akan menemanimu!!"
"Dengan senang hati, jangan salahkan aku jika nantinya kau pulang hanya tinggal nama. Dan sebaiknya kalian jangan ikut campur. Aku sendiri yang akan menghabisi bajingan ini!!"
-
__ADS_1
Bersambung.