
Lucas menghentikan mobilnya di sebuah mini bar yang berada di pusat kota. Ia berencana bertemu dengan teman lamanya di sana, dan Lucas sudah mengirim pesan singkat pada Vivian jika dia akan pulang sedikit terlambat.
Dia tidak mungkin menolak ajakan teman-teman lamanya untuk berkumpul, apalagi mereka sudah lama sekali tidak bertemu. Dan untungnya Vivian bisa mengerti, dia tidak melarang Lucas untuk bertemu dan bergabung bersama dengan mereka.
"Lucas, Yo. Di sini kawan!!" Seru seorang pria yang di kenal sangat mesum dan pecinta video laknat, Tomi.
"Akhirnya kau datang juga, kawan. Kami pikir kau tidak akan datang. Aku akan menuangkan minuman untukmu, oke." Ujar Sonny sambil merangkul bahu Lucas.
"Tenang saja, kawan. Malam ini kau bisa minum sepuasnya. Karena Mr.Dolar kita ini yang akan mentraktir, bukankah begitu Kim Suho?!" Tomi menggerlingkan matanya.
Suho menyentak tangan Tomi dari bahunya."Memangnya kapan aku bilang begitu? Perasaan aku tidak pernah mengatakan jika akan mentraktir kalian semua. Lucas, jangan percaya sama si mesum ini. Dia hanya mengatakan omong kosong saja. Kebetulan aku tidak membawa uang cash, sobat."
"Lalu ini apa, Hyung?" Marcell mengambil dompet milik Suho yang di dalamnya penuh dengan uang. Yang jumlahnya lebih dari 10 juta won.
Suho menunduk malu, kenapa si Marcell harus mengambil dompetnya segala. Sedangkan Lucas hanya bisa mendengus, Suho belum berubah, si maniak dolar tetap saja seperti dulu, pelit.
"Hahaha...!! Sepertinya aku kelupaan jika baru saja menarik uang tunai, hahaha. Baiklah, baiklah, kalian bisa memesan minuman apapun di sini. Biar aku yang membayarnya. Aku kan banyak uang, hahaha...."
Dalam hati Suho dia menangis histeris, uang yang nantinya akan dia gunakan untuk membeli mainan kesukaannya. Tapi semua rencananya gagal karena ulah Marcell yang tiba-tiba mengambil dompetnya.
"Lu, kau ingat Siska Choi, dia terus menanyakan mu loh." Ucap Tomi yang entah sudah sejak kapan mengakhiri Video laknatnya. "Sepertinya dia masih sangat-sangat tergila-gila padamu." Imbuhnya.
"Aku tidak peduli!!"
"Astaga, aku benar-benar tidak mengerti dirimu, Xi Lucas. Bagaimana bisa kau bisa menolak wanita seperti Siska Choi yang jelas-jelas memiliki berbagai kelebihan. Cantik iya, seksi sudah pasti, kaya jangan ditanya lagi, popular, dan masih banyak lagi kelebihan yang dia miliki. Dan kalau aku jadi kau, pasti sudah aku pacari dia dari dulu." Tutur Tomi.
Lucas mendecih sebal. Jangankan Siska Choi, bahkan Lucas tidak akan tergoda dan terpengaruh sama sekali meskipun ada wanita lain yang membuka lebar-lebar kakinya atau tel*njang bulat di depan matanya. Karena Lucas sudah memiliki Vivian.
"Berhenti mengatakan hal menjijikkan di depanku, Tomi Lee!!! Aku muak mendengarnya!!"
__ADS_1
"Dasar aneh!!" Cibir Tomi tapi dihiraukan oleh Lucas.
Tidak ada satupun dari mereka berempat yang mengetahui jika Lucas telah menikah dan sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah. Mereka sudah lama sekali tidak bertemu, apalagi berkumpul seperti ini. Itulah kenapa mereka tidak tau menahu tentang Lucas dan kehidupan pribadinya.
"Aku tidak butuh Siska Choi ataupun semua wanita yang ada di dunia ini. Karena aku sudah memilikinya. Aku sudah memiliki satu wanita yang sangat berarti dalam hidupku, untuk itu jangan pernah mengatakan omong kosong lagi semacam itu di depanku!!!"
"Maksudmu, Ge?!" Tanya Marcell penasaran.
Kemudian Lucas menunjukkan sebuah cincin yang melingkari jari manisnya. "Aku sudah menikah, dan sebentar lagi menjadi ayah!!"
"Oh, jadi kau sudah menikah dan akan menjadi ay... UAPA?! KAU SUDAH MENIKAH DAN AKAN MENJADI AYAH?!" Mereka langsung menutup telinganya setelah mendengar pekikan keras Tomi.
Lucas sudah menduga dengan respon teman-temannya. Tomi terutama, mereka pasti akan sangat terkejut saat mengetahui jika dirinya telah menikah. "Lucas, kau pasti bercanda kan? Tidak mungkin bajingan sepertimu bisa serius dengan wanita apalagi kalian hampir memiliki anak." Ucap Sonny yang masih tak percaya.
Lucas mengangkat bahunya. "Terserah kalian mau percaya atau tidak. Wanita itu bernama Vivian Valerie. Dan jika kalian tidak yakin, lain kali datanglah ke rumah, akan ku kenalkan kalian padanya. Sudah malam, aku harus pulang sekarang." Lucas bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
-
"Huaaa... mahluk apa mereka bertiga?!"
Dastan jatuh pingsan saat si kembar hendak mengenalnya pada Suketi dan kedua mantan suaminya. Padahal niat si kembar baik, tapi Dastan justru takut setengah mati.
Suketi mempoutkan bibirnya. "Yaaa... Kenapa malah pingsan?! Tidak asik, padahal kan Suketi cantik, tapi kenapa malah dia takut sama Suketi?!" Suketi menunduk sedih.
"A...Ayang Titi, te..tenanglah. Mu...mungkin dia ma..masih belum terbiasa dengan keberadaan kita." Ujar Mr.Wowo terbata-bata.
"Si gagap itu benar, untuk apa sedih, nanti dia juga terbiasa sendiri kok dengan kehadiran kita." Mr.Poci mencoba menenangkan.
Vivian yang tidak mau ambil pusing dengan tingkah konyol mereka berlima, memutuskan untuk melewati mereka begitu saja. Lucas baru saja menghubunginya jika dia sedang dalam perjalanan untuk menjemputnya.
__ADS_1
Dan tidak sampai 5 menit Vivian menunggu. Mobil Lucas sudah tiba. Pria itu menghentikan mobilnya di depan pagar mansion mewah Vivian. Vivian tersenyum lebar menyambut pelukan sang suami.
"Maaf, sudah membuat mu menunggu lama." Ucap Lucas penuh sesal.
Vivian menggeleng. "Belum lima menit. Em, Ge apa kau baru minum? Mulutmu bau alkohol." Ucap Vivian saat mencium aroma tak sedap dari mulut Lucas.
"Hn, hanya sedikit." Jawabnya singkat.
"Tapi aman kan untuk berkendara?" Vivian menatap Lucas dengan serius.
Lucas menarik ujung hidung Vivian. "Jika tidak aman tidak mungkin aku sampai di sini dengan selamat." Jawabnya.
Vivian mengangguk. "Benar juga. Oya, Ge. Bisakah kau melepas blazer mu itu? Aku rindu tribal mu, seharian ini kau menyembunyikannya dariku!!" Rengek Vivian sambil mengayunkan lengan Lucas.
Pria itu mendesah berat. "Jadi maksudmu kau menyuruhku untuk tel*njang dada di sini?!" Lucas melepas blazer nya dan menyisakan kemeja hitam lengan panjang. Dia tidak memakai singlet maupun tank top sebagai dal*man kemejanya.
Tak kehabisan akal, Vivian merobek lengan kemeja Lucas dan membuat pria itu berteriak dengan nada sedikit membentak. "Vivian, apa-apaan kau ini?! Kenapa kau robek lengan kemejaku?!"
"Nah, begini kan lebih baik." Alih-alih merasa bersalah dan meminta maaf pada Lucas, Vivian malah tersenyum lebar.
Sedangkan Lucas hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala. Meskipun tadi sempat berteriak dan sedikit membentak, tapi sebenarnya Lucas tidak marah sama sekali dengan apa yang dilakukan oleh Vivian. Dia tau jika istrinya ini memang aneh.
"Sekarang kau sudah puas kan? Sebaiknya cepat masuk dan naik ke mobil. Aku ingin segera sampai rumah dan tidur."
"Huft, baiklah."
-
Bersambung.
__ADS_1