
Vivian merasa lega. Karena akhirnya si benalu tersingkir juga dari kehidupannya serta Lucas. Kakek Xi telah mengirim Maya kembali ke Negera yang selama ini dia tinggali. Bukan tanpa alasan, Kakek Xi tidak ingin jika Maya sampai mengusik ketentraman rumah tangga Lucas dan Vivian.
Lucas dan Vivian sedang duduk bersebelahan di tempat tidur king size melik mereka. Lucas menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur, sementara Vivian menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami.
Sesekali wanita itu menggerakkan kepalanya mencoba mencari posisi yang nyaman, tangan Lucas terus membelai rambut panjang Vivian yang terurai dan jatuh di atas punggungnya.
"Ge..." Vivian mengangkat wajahnya menatap wajah Lucas yang juga menatap padanya.
"Ada apa, Sayang?"
Wanita itu menggeleng. "Tidak apa-apa, hanya ingin memanggilmu saja." dusta nya sembari mengulum senyum tipis.
Sebenarnya Vivian ingin memberi tau Lucas jika ia mengalami telat datang bulan selama 3 minggu, namun dia mengurungkannya sebelum ada bukti jika ia benar-benar telah positif hamil.
"Hm, aku tau kau ingin mengatakan sesuatu. Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Lucas sambil melonggarkan dekapannya.
Lucas adalah orang yang peka dan tidak mudah untuk membohonginya. Lagi-lagi Vivian hanya menggeleng dan tersenyum meyakinkan. "Aku ini suamimu, Xi Vivian. Jadi aku tau kau sedang berbohong atau tidak, jangan menyembunyikan apa pun dariku. Karena aku paling tidak suka itu." ujar Lucas, suaranya berat dan tegas. Nadanya begitu dingin dan sedikit menusuk.
"Sungguh Ge, tidak ada apa-apa."
Vivian menyibak selimut yang ia gunakan bersama Lucas kemudian turun dan berjalan menuju balkon dengan kaki telanjang. Wanita itu menyambar mantel hangatnya karna tidak ingin mati membeku, namun tiba-tiba....
'Hoek...'
'Hoek...'
__ADS_1
Belum Vivian sampai pada pintu kaca yang menghubungkan kamarnya dengan balkon. Tiba-tiba Ia merasa mual, wanita itu kemudian berbalik dan berlari menuju kamar mandi
'Hoek...' di dalam sana Vivian memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya. Lucas yang merasa cemas bergegas turun dari tempat tidur dan menyusul sang istri.
"Vivian, kau baik-baik saja?" Lucas begitu panik, apalagi saat melihat wajah Vivian yang tiba-tiba memucat. "Sayang, apa kau sakit? Wajahmu pucat sekali," Vivian menurunkan kedua tangan Lucas yang menakup wajahnya lalu memindahkan salah satu tangan suaminya pada perutnya yang masih rata.
"Ge, aku rasa ada kehidupan di dalam sini. Dan sebenarnya hal inilah yang tadi ingin aku sampaikan padamu, tapi aku masih ragu. Karena belum ada pernyataan jika aku benar-benar hamil." ujar Vivian memaparkan.
Lucas masih mencoba mencerna apa yang Vivian sampaikan. Lalu pandangannya bergulir pada tangannya yang di genggam Vivian di perut ratanya, lalu pandangan Lucas beralih pada wajah Vivian yang tengah mengulum senyum lembut. "Vivian,... mungkinkah kau..?" Vivian mengangkat bahunya.
"Entahlah, aku masih belum yakin. Emmm... bagaimana jika kita memeriksakan ke rumah sakit?" usul Vivian yang segera di balas anggukan oleh Lucas
"Kenapa harus menunggu nanti? Sekarang saja kita berangkat." Lucas menyambar jaket kulitnya lalu menggenggam tangan Vivian, keduanya berjalan saling beriringan meninggalkan kamar. Lucas sudah tidak sabar , ia berdoa semoga itu adalah pertanda bila Vivian benar-benar tengah hamil.
.
Lucas tidak dapat menahan kebahagiaannya setelah mendengar pernyataan dokter wanita yang ada di depannya.
Sudut bibirnya tertarik keatas menciptakan lengkungan indah di wajah tampannya. Sementara Vivian sudah berurai air mata, ia sangat-sangat bahagia karna pada akhirnya apa yang ia impikan menjadi kenyataan.
Lucas menarik bahu Vivian dan membawa wanita itu kedalam pelukannya "Kau dengar itu, Ge? Aku hamil, hiks.. ini sangat, hiks... membahagiakan." ujar Vivian di iringi isakan. Lucas mengangguk
"Sebaiknya kita segera pulang dan memberi tau Kakek tentang kabar bahagia ini."
Setelah berpamitan pada Dokter wanita itu. Keduanya bergegas pulang untuk memberi tau mengenai kabar baik itu pada Kakek Xi.
__ADS_1
Setibanya di kediaman Kakek Xi. Wanita itu langsung menghambur memeluk pria tua itu sambil terisak. Sedangkan Kakek Xi merasa bingung. "Sayang, apa yang terjadi? Lucas, kau apakan Vivian? Kenapa dia menangis?" Alih-alih menjawab, Lucas malah tersenyum tipis.
"Kakek... Hiks, apa kau tidak ingin menyapa, hiks. Seseorang yang ada di dalam sini?" tanya Vivian sambil mengarahkan tangan Kakek Xi pada perutnya.
"Ya Tuhan, Vivian. Jadi kau hamil, Nak?" Vivian mengangguk.
Kakek Xi menyusut air matanya. Ia tidak percaya jika sebenatar lagi akan memiliki cicit dan ia akan di panggil kakek buyut oleh cicitnya itu. Kakek Xi terkekeh membayangkan buah hati Lucas dan Vivian yang sangat lucu berjalan tertatih-tatih sambil memanggilnya kakek buyut dengan suara cadelnya.
Lucas menghampiri istri dan kakeknya itu lalu memeluk mereka. "Selamat untuk kalian berdua, Nak. Kakek ikut bahagia dengan kabar ini," kakek Xi menepuk bahu Lucas dan Vivian dengan wajah mendongak ke atas. "Kalian berdua pasti melihatnya dari Surga. Putra kecil kalian telah tumbuh menjadi pria dewasa dan tidak lama lagi dia akan memberikan kalian seorang cucu." tutur kakek Xi dengan nada pilu.
Mendengar Kakek Xi membahas orang tua Lucas, membuat Vivian teringat orang tuanya. Wanita itu mulai terisak sambil berkata lirih."Andaikan saja Mama dan Papa masih ada, pasti mereka ikut bahagia untukku." Suara parau Vivian membuat Lucas terenyuh.
Kakek Xi melepaskan pelukannya pada cucu dan cucu menantunya. Lucas menyeka air mata yang membasahi wajah sang istri kemudian menarik wanita itu kedalam pelukannya. "Kita akan mengunjungi mereka Sayang, lusa aku akan menemanimu ke sana." Lucas mengusap punggung Vivian dengan gerakan naik turun, Vivian mengangguk dalam dekapan Lucas.
Vivian menyeka air matanya kemudian melepas pelukan Lucas, wanita itu menangkup wajah suaminya dan mencium singkat bibir Lucas lalu terkekeh. "Tidak usah terkejut, aku hanya terlalu bahagia." ujarnya.
Seakan tidak rela, Lucas menarik tengkuk Vivian dan berbalik menyerangnya. Parahnya lagi, Lucas melakukannya di depan Kakek Xi. Tapi tentu tidak ada komentar. Karena Kakek Xi tidak bisa melihat apa-apa selain kegelapan.
Dan setelah hampir 4 menit tanpa jeda, akhirnya Lucas melepaskan dan mengakhiri ciuman itu. "Aku mencintaimu, Xi Vivian." bisik Lucas sambil mengulum senyum tipis. Jarinya menghapus sisa liur di bibir Vivian. Lalu memeluk erat tubuhnya.
"Aku juga... "
Lucas tak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya. Rasanya begitu luar biasa ketika dirinya hendak menjadi seorang ayah.
Kehidupannya akan lebih sempurna setelah kehadiran malaikat kecil buah cinta mereka berdua. Dan kehadiran mereka telah menyempurnakan hidupnya.
__ADS_1
-
Bersambung.