
Sepasang suami-istri berjalan beriringan di sebuah pusat perbelanjaan dengan sebuah troli yang hampir penuh dengan berbagai jenis kebutuhan sehari-hari seperti sayuran segar, daging, buah dan masih banyak lagi. Si wanita tiba-tiba menghentikan langkahnya membuat si pria ikut berhenti juga.
"Ada apa?" tanya si pria sambil menatap wanita itu penuh heran.
"Ge, sepertinya aku melupakan sesuatu," ucap si wanita membalas tatapan suaminya.
Dahinya menyernyit. "Melupakan sesuatu?" wanita itu mengangguk. "Apa?" tanyanya lagi.
"Ramen, aku lupa memasukkan ramen ke dalam daftar belanjaan kita. Kau tau sendiri bukan jika Tao dan Alex selalu lapar saat malam hari, dan mereka selalu memasak ramen ketika lapar. Aku berniat membeli banyak ramen untuk mereka. Tidak masalah bukan?" wanita itu 'Vivian' menatap Lucas penuh harap.
Lucas mengacak rambut coklat Vivian dan mendengus. "Apa masih perlu bertanya untuk hal semacam itu. Ambil sebanyak yang kau butuhkan," wanita itu tersenyum lebar dan mengangguk dengan antusias.
Dan setelah mendapatkan semua yang di butuhkan. Keduanya membawa belanjaan mereka menuju kasir. Sesekali Vivian menyapukan pandangannya sambil menunggu kasir selesai menghitung semua belanjaannya.
Dahinya menyernyit dan matanya menyipit saat dia melihat siluet seseorang yang wajahnya tak asing baginya. "Siapa yang kau lihat?" Tanya Lucas lalu mengikuti arah pandang Vivian.
Wanita itu menatap Lucas kemudian menggeleng. "Bukan siapa-siapa, aku pikir seseorang yang ku kenal. Ternyata bukan." Lucas mengangguk paham.
"Kau ingin ke mana lagi setelah ini? Dan apakah sudah tidak ada lagi sesuatu yang ingin kau beli?" tanya Lucas pada wanita disampingnya.
"Ada!" Vivian menjawab dengan begitu antudias. "Sebenarnya aku ingin membeli sesuatu dan aku jamin kau akan menyukainya." Lucas memicingkan matanya dan menatap Vivian penasaran.
"Apa?"
Vivian menarik lengan Lucas kemudian berbisik ditelinganya. Mata Lucas membelalak dan wajahnya sedikit memerah. "Jika itu yang ingin kau beli, kau bisa pergi sendiri dan aku akan menunggumu di sini," Vivian mendengus kecewa tapi dia bisa memakluminya karena tidak mungkin dia membawa suaminya itu ke toko yang akan dia datangi saat ini.
"Baiklah,"
Lima belas menit kemudian Vivian datang dengan sebuah paper bag ditangannya. Wanita itu menghampiri Lucas yang sepertinya sudah bosan menunggu dirinya. Wanita itu terkekeh melihat wajah kesal Lucas.
"Ge, aku sudah selesai. Kita pulang sekarang." Seru Vivian sambil menghampiri Lucas.
__ADS_1
Lucas terlihat bangkit dari duduknya dan keduanya berjalan meninggalkan pusat perbelanjaan.
-
Melihat seorang Boss besar berkutat dengan senjata api ataupun tumpukan kertas yang penuh dengan uang adalah hal yang biasa dan sangat lumrah.
Tapi melihat seorang Boss besar berkutat dengan penggorengan dan spatula tentu bukanlah hal yang biasa, dan itulah yang bisa di lihat di dapur mewah milik Lucas Xi saat ini.
Seperti apa yang dia katakan sebelumnya. Saat ini Lucas sedang membuatkan makanan untuk Vivian. Wanita hendak membatu tapi Lucas melarangnya dan meminta sang wanita untuk duduk dan menunggu. Dan setelah hampir satu jam, sedikitnya ada tiga masakan yang berhasil Lucas masak dan siapkan untuk Vivian.
Melihat hal itu tentu saja membuat Vivian begitu gembira. Bagaimana tidak, sudah lama dia sangat merindukan masakan Lucas, dan hari ini suaminya itu memasak untuknya.
Vivian terus memperhatikan Lucas yang sedang sibuk berkutat dengan pengorengan dan spatula nya. Dia terlihat begitu lihai dalam melakukannya. Lucas memang selalu penuh kejutan, dan ini salah satunya.
Setelah masakannya selesai. Lalu Lucas membawanya pada Vivian, dan meminta wanita itu untuk mencobanya. "Bagaimana?" Ucap Lucas sambil menatap Vivian dengan begitu antusias.
"Luar biasa, kau memang yang terbaik, Ge. Dan bisakah lain kali kau memasak lagi untukku yang seperti ini?" Vivian menatap Lucas penuh harap.
Pria itu mengangguk. "Tentu. Kapan pun kau menginginkannya." Lucas menarik ujung hidup Vivian dengan gemas.
"Siapa suruh kau begitu menggemaskan. Ya sudah habiskan makanannya aku akan mandi dulu." Kevin mencium kening Vivian dan pergi begitu saja.
Dan sementara itu....
Tao dan Alex yang melihat kemesraan mereka berdua hanya bisa gigit jari. Terkadang mereka merasa iri pada pasangan itu.
Mereka selalu mengumbar kemesraan di mana pun dan kapan pun. Hingga Tao dan Alex bersepakat untuk segera mencari pasangan tapi sayangnya mereka belum mendapatkan juga hingga detik ini. Mereka benar-benar seorang BU-DI!!
.
Lucas yang baru keluar dari kamar mandi langsung di suguhi oleh pemandangan yang mampu membuat Juniornya berdiri pada saat itu juga.
__ADS_1
Vivian dalam balutan gaun tidur merahnya tengah duduk di atas tempat tidur sambil memoleskan sebuah lipstik merah pada bibirnya. Wanita itu sepertinya hendak menggoda suaminya yang sudah siap menyerangnya.
Lipstick dan cermin dalam genggaman Vivian lepas begitu saja saat Lucas menyergap bibirnya dan meluma*nya dengan keras. Tak ada perlawanan dan Vivian menerimanya dengan senang hati.
Kedua tangan Vivian mengalung pada leher Lucas. Salah satu tangan Lucas berada di belakang kepala Vivian, sedangkan tangan lain memeluk erat pinggang rampingnya. Tapi sayangnya mereka tidak bisa melakukan lebih karena saat ini Vivian sedang dalam keadaan hamil muda.
"Sialan kau, Xi Vivian, sepertinya kau benar-benar ingin menyiksaku!" geram Lucas setengah frustasi. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, Vivian terkekeh geli melihat suaminya yang begitu tersiksa.
"Maaf, Ge. Sudah ya aku mau tidur dulu, tiba-tiba aku mengantuk. Good night."
-
DORR!...
Suara tembakan keluar dari senjata api dalam genggamannya, memburu sasaran titik tembak pada papan berbentuk manusia yang terpampang jauh dimatanya.
Sesekali tangannya mendekati bibirnya untuk mengambil gulungan kecil berisikan tembakau yang sudah terbakar pada sisi lainnya dengan asapnya yang melayang bebas ke atas. Matanya menyipit tajam saat menangkap lubang kecil yang tercetak tepat pada sasarannya, ia pun tersenyum menyeringai.
"Perfect..."
Asap rokok keluar dari bibir tipis dengan sebuah bekas luka di bagian bawah. Mata kanannya yang tajam sesekali melirik sosok lain yang berdiri disampingnya. Dia tidak tau apa tujuan pria tersebut tiba-tiba datang menemuinya.
Tapi Lucas berani bersumpah jika itu ada hubungannya dengan Organisasi Japok. Salah satu Organisasi besar yang menjadi musuh terkuat Lucas selama ini.
"Kebiasaan rokok mu itu buruk, semoga saja skill mu sebagai sniper tak seburuk kebiasaan mu!... Xi Lucas." Pria itu memberikan komentar.
"Cih, peluruku takan pernah meleset, apa tujuan kemari... Bobby Wang?!"
Matanya yang tajam bak elang itu melirik pria disampingnya, tatapan tanpa perasaan, dingin dan menusuk membuat bulu kuduk pria itu berdiri seketika saking ngerinya..
"Begini kah caramu menyambut kawan lamamu yang sudah tidak bertemu. Kau tidak pernah berubah, Xi Lucas! Tetap saja dingin dan mengerikan!"
__ADS_1
.
BERSAMBUNG.