CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY

CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY
Pembalasan Marisa


__ADS_3

Kabar tentang bangkrutnya perusahaan keluarga Jimmy telah sampai ke telinga Marisa.


Semua berjalan seperti yang dia rencanakan. Tapi sayangnya Marisa belum puas dengan hal itu, karena apa yang terjadi belum cukup untuk menghancurkan keluarga Jimmy.


"Nyonya, kita sudah sampai."


Marisa membuka pintu di samping kanannya. Wanita itu memperhatikan rumah sederhana yang berdiri kokoh di tengah pemukiman padat penduduk yang lumayan kumuh.


Setelah mendapatkan informasi dimana keluarga Jimmy tinggal saat ini, Marisa pun langsung pergi ke sana, dia ingin melihat sendiri seberapa sulit keluarga itu saat ini.


Sudut bibir Marisa tertarik ke atas membentuk lengkungan indah di bibir merahnya. Dengan langkah tenang, Marisa memasuki halaman rumah tersebut.


Dari jarak 5 meter, Marisa melihat Nyonya Jimmy yang sedang berdebat dengan suaminya. Lagi-lagi sudut bibir Marisa tertarik ke atas. Wanita itu menyeringai sinis. Itu adalah sebuah pertunjukkan yang sangat menyenangkan.


"Selamat siang Nyonya dan Tuan Jimmy, apa kedatanganku mengganggu kesenangan kalian?!"


Pertengkaran sepasang suami istri itu pun terhenti detik itu juga. Keduanya sama-sama menoleh pada sumber suara. Mata Nyonya Jimmy membelalak melihat siapa yang datang.


"Menantuku!!"serunya dan segera menghampiri Marisa. "Mama tau, jika kau pasti akan kembali pada kami suatu hari. Dan akhirnya hari ini pun tiba. Mama sungguh minta maaf atas apa yang terjadi dimasa lalu. Dan Mama berjanji akan bersikap baik padamu, setelah kau dan Alan rujuk kembali!!"


Marisa menyentak tangan wanita itu dari lengannya dan menyeringai sinis. "Kenapa kau percaya diri sekali jika aku kembali untuk kalian, sedangkan kita tidak pernah memiliki hubungan apa-apa!!" Jawab Marisa.


Nyonya Jimmy menatap Marisa bingung. "Apa maksudmu?" Tanya wanita itu kebingungan.


"Maksudku apa? Sepertinya hari ini memang saat yang paling tepat untuk aku memberitahu kalian semua mengenai identitas ku yang sebenarnya. Tapi sebelum itu, aku ingin kalian bertiga bertemu seseorang. Kalian harus berlutut dan meminta maaf padanya!!"


"Kenapa kami harus melakukannya? Untuk apa kami berlutut dan meminta maaf pada orang yang tidak dikenal?! Dan jika kedatangan mu hanya untuk membuat keributan, sebaiknya kau pergi saja!!"


Marisa menyeringai dingin. "Itu artinya kau benar-benar ingin putra dan suamimu angkat kaki dari perusahaan itu!! Jika kau ingin mereka tetap di sana, sebaiknya kau menurut padaku dan jangan banyak membantah!!"


"Kau~!!"


"Ma, cukup. Sebaiknya kita ikuti saja dia. Kita turuti kemauannya, yang penting bisa mendapatkan kembali kehidupan kita yang hilang!!" Ucap Tuan Jimmy sambil menepuk bahu istrinya


Lagi-lagi Marisa menyeringai. "Sungguh pilihan yang paling tepat dan bijak. Memang seperti ini seharusnya kau bersikap, ayo Ikut aku!! Ah, aku hampir lupa. Aku juga sudah menyiapkan kendaraan untuk kalian bertiga, bukankah aku ini sungguh baik hati. Itu di sana, kendaraan yang akan kalian naiki!!"

__ADS_1


Sontak ketiganya menoleh. Mata mereka membelalak melihat kendaraan apa yang Marisa maksud. "Gerobak sampah?!'


.


Mereka berempat tiba disebuah pemakaman. Keluarga Jimmy tampak kebingungan dan terus bertanya-tanya kenapa Marisa harus membawa mereka ke tempat seperti ini. Bukankah dia mengatakan supaya mereka meminta maaf pada seseorang.


Nyonya Jimmy hendak melayangkan protesnya. Tapi dilarang oleh sang suami. Tuan Jimmy sungguh penasaran, dan akhirnya dia mengikuti langkah kaki Marisa yang mulai menapak diarea pemakaman.


Marisa menghentikan langkahnya di sebuah makam dengan sebuah nama yang sama dengan namanya. Mereka bertiga kebingungan dan bertanya-tanya.


"Apa maksudnya semua ini?" Alan menatap Marisa dan menuntut sebuah penjelasan.


"Kalian lihat nama di nisan itu?! Dibawah sana, ada jasad orang yang dulu selalu kalian hina dan perlakukan dengan buruk. Dan hari ini, aku ingin agar kalian bertiga bersujud dan meminta pengampunan darinya. Jika bukan karena kalian, KAKAKKU TIDAK AKAN MATI!!"


Ketiganya terkejut. Mereka mengangkat kepalanya dan menatap Marisa yang kini berlinangan air mata. "Marisa, sebenarnya permainan apa ini? Apa kau mencoba untuk menghina keluarga Jimmy?"


Marisa menyentak tangan Alan dari lengannya dan menatapnya sinis. "Permainan kau bilang? Ini bukan permainan Alan Jimmy, ini adalah kenyataan. Aku bukanlah Marisa Valerie, tapi Vivian Valerie. Dan aku disini untuk menuntut balas atas kematian kakakku pada kalian bertiga!!"


"Apa?! Jadi Marisa telah meninggal, dan selama ini yang sering kami temui adalah kau?!"


"Baik, Nona Muda!!"


"Brengsek kau Vivian Valerie, aku pasti akan membunuhmu!!" Wanita itu hanya melambaikan tangan tanpa menghentikan langkahnya menyikapi teriakan Alan.


Wanita itu menghentikan langkahnya setibanya di depan pemakaman. Kemudian kepalanya mendongak menatap langit yang tampak biru tanpa awan putih yang menghiasi.


"Kak, kau melihatnya? Hari ini, aku akan membalaskan dendam mu pada keluarga Jimmy. Mereka harus menderita seperti kau dulu. Dan aku tidak akan pernah puas sebelum melihat mereka semua hancur!!!"


-


Lucas mengangkat wajahnya saat mendengar ketukan pada pintu kamarnya. Setelah mendapatkan ijin dari sang empunya kamar. Orang yang berdiri dibalik pintu itu pun melangkah masuk. Dia menghampiri Lucas yang sedang bermain catur di ruangan pribadinya.


"Ada apa, Max?" Tanya Lucas tanpa menatap lawan bicaranya.


"Alex baru saja menghubungi saya. Nyonya Muda baru saja membawa seluruh keluarga Jimmy ke pemakaman mendiang kakaknya."

__ADS_1


Gerakan tangan Lucas terhenti. Kemudian dia mengangkat wajahnya dan menatap Max dengan sebelah alis terangkat. "Kau yakin?" Max mengangguk.


"Ternyata dia bergerak lebih cepat dari yang aku pikirkan. Max, terus awasi dia dari kejauhan. Jika ada bahaya mengintainya. Segera laporkan padaku!!"


"Baik, Bos. Kalau begitu saya permisi dulu." Lucas mengangguk.


Lucas bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dinding kaca yang ada di samping kirinya. Kedua tangannya bersembunyi di dalam saku celana bahannya. Pandangannya lurus pada langit.


Sudah tiga hari Lucas berada di mansion utama kediaman Xi. Dan selama itu pula dia tidak bertemu dengan Marisa.


Lucas sangat merindukannya, tapi keadaan yang tidak mengijinkan mereka bertemu untuk sementara. Dia tidak bisa meninggalkan kakek Xi untuk saat ini. Dan untuk saat ini dia harus menahan merindukannya pada sang istri.


"Tuan Muda, Anda belum makan dari pagi. Anda bisa sakit jika tidak segera makan. Sebaiknya Anda makan dulu."


"Hn, nanti saja. Aku masih belum lapar. Bagaimana kondisi Kakek? Aku belum menjenguknya sejak pagi."


"Masih sama saja, Tuan Muda. Belum ada perubahan, dokter hampir angkat tangan dengan keadaan Tuan Besar."


Lucas mendesah berat. "Bagaimana baiknya menurutmu, apa perlu kita kirim dia ke rumah sakit di luar negeri?" Lucas berbalik, posisinya dan pria itu saling berhadapan.


"Seharusnya begitu, tapi Tuan Besar berpesan supaya dia tidak di bawah pergi kemana pun, dia ingin dirawat di rumah saja jika sewaktu-waktu sakit."


Sekali lagi Lucas mendesah. Inilah yang tidak dia sukai dari kakeknya, sangat keras kepala. Dan sikap keras kepala yang Lucas miliki saat ini tentu saja warisan dari kakeknya. "Jadi kita tidak perlu membawanya kemana pun?"


"Benar, Tuan Muda. Karena jika sadar beliau mencium aroma obat yang menyengat. Pasti Tuan Besar marah besar. Matanya mungkin memang tidak bisa melihat, tapi inderanya yang lain sangat peka." Lucas mengangguk. Dia setuju dengan yang dikatakan pria setengah baya ini.


"Baiklah kalau begitu, sekarang kau boleh keluar. Laporkan perkembangan Kakek padaku setiap satu jam sekali. Aku ada urusan dan akan pergi sebentar. Jaga kakek baik-baik selama aku tidak ada!!"


"Baik, Tuan Muda!!"


Lucas sudah tidak bisa menahan kerinduannya pada sang Istri. Dan akhirnya dia memutuskan untuk menemuinya meskipun hanya sebentar. Setidaknya itu cukup untuk mengobati kerinduannya.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2