
Lucas hanya menatap datar beberapa pria yang terkapar dalam keadaan tak bernyawa tersebut. Dia baru saja melakukan pembantaian pada sekelompok manusia yang suka mencari masalah dan keributan dengannya.
Selama ini Lucas mencoba menutup mata dan tidak terlalu menghiraukan keberadaan mereka. Tapi semakin hari mereka justru semakin menjadi dan tingkahnya membuatnya naik darah.
Hampir setiap hari orang-orang itu membuat keributan di depan markas besarnya. Menculik beberapa satu anak buahnya, dan menjadikan dia sebagai kelinci percobaan. Dan hari ini kesabaran Lucas berada di puncaknya.
Bersama Tao dan Kai, Lucas mendatangi Markas para preman jalanan tersebut. Awalnya mereka meremehkan ketiganya dan meminta mereka untuk pulang dan tidur nyenyak di rumahnya.
Wajah Lucas yang tampan dan terlihat cantik lah, yang membuat mereka meremehkannya, tanpa diketahui siapa pria itu sebenarnya. Tapi setelah ketiganya beraksi, baru mereka tak berkutik. Dan alangkah terkejutnya mereka saat Lucas memperkenalkan dirinya sebagai Bos dari Black Devil.
"A..Ampun, to..to..tolong jangan bunuh kami, kami mengaku salah. Jadi ampuni kami." Pinta seorang pria yang merupakan pimpinan dari komplotan pembuat onar tersebut.
"Mengampuni kalian, terlambat!!! Tidak ada ampun bagi manusia-manusia seperti kalian semua!!"
"Tuan Xi, saya mohon. Jangan bunuh saya. Kami mengaku salah, dan demi menebus kesalahan yang pernah kami perbuat, aku dan anak buah ku yang tersisa akan melakukan apapun untuk Anda!!"
Lucas menyeringai. "Benarkah? Kalau begitu, bedah tubuh anak buah mu dan berikan organ dalamnya padaku. Aku juga membutuhkan bola mata mereka untuk dijual di pasar gelap, bagaimana? Apa kau sanggup?! Jika kau bisa melakukannya, aku akan mempertimbangkan tentang nyawamu!!"
Pria itu menatap beberapa anak buahnya yang tersisa. Mereka menggeleng, memohon supaya bosnya itu tidak melakukan apa yang Lucas perintahkan, tapi sepertinya nyawanya lebih penting dari mereka semua.
"Maafkan aku, tapi aku harus hidup!!" Ucap pria itu dan langsung menerjang salah seorang dari 7 anak buahnya yang tersisa.
Suara teriak kesakitan memenuhi seisi ruangan. Aroma mirip besi berkarat bercampur udara dan masuk ke dalam indera penciuman.
Lucas menyeringai puas. Dia meminta Kai dan Tao tetap di sana. Karena masih ada hal penting yang harus dia lakukan setelah ini. Dia berjanji akan menjemput Vivian di kantornya. Istrinya itu lembur malam ini.
-
Vivian baru saja menyelesaikan pekerjaannya saat Lucas tiba dikantornya. Wanita itu tersenyum lebar menyambut kedatangan sang suami. Keduanya berpelukan selama beberapa detik.
__ADS_1
"Ge, aku pikir kau tidak jadi datang." Ucap Vivian setelah Lucas melepaskan pelukannya.
"Dan membiarkanmu pulang di antar, pria lain?!" Pria itu menyela cepat.
Alih-alih tersinggung dengan ucapan suaminya, Vivian malah terkekeh geli. Sejak menikah dengan Lucas, baru akhir-akhir ini dia menunjukkan sikap cemburunya secara terang-terangan.
Vivian tersenyum. Wanita itu memeluk leher suaminya dan mengunci sepasang manik mata berlapis lensa coklat itu.
"Tenanglah, Ge. Aku tidak mungkin berpaling darimu. Kau adalah pria yang aku cintai, dan hatiku sudah terpaut padamu." Ucap Vivian tanpa mengakhiri kontak mata diantara mereka.
"Aku memegang kata-katamu itu, dan aku tidak akan pernah memaafkan mu jika kau berani mengkhianati ku dan menduakan cinta kita."
"Memangnya apa yang bisa kau lakukan padaku? Membunuhku?! Aku yakin setelah aku mati kau juga tidak akan bisa hidup dengan tenang, karena kau harus kehilangan separuh dari jiwamu." Vivian menyeringai penuh kemenangan.
Lucas mendengus. Bagaimana bisa Vivian membaca apa yang akan menimpanya jika dia benar-benar menghabisi wanita ini. Lucas meraih tengkuk Vivian dan mencium singkat bibirnya.
"Sebentar, aku ambil tas dulu." Vivian kembali kemeja kerjanya untuk mengambil tasnya. Setelah itu dia dan Lucas berjalan beriringan meninggalkan ruangan tersebut.
Hari ini Vivian tidak membawa mobil sendiri. Lucas melarangnya karena tau jika istrinya itu lembur malam ini. Itulah kenapa dia memilih mengantar dan menjemputnya. Akan sangat berbahaya jika Vivian mengendarai mobilnya sendirian ditengah malam.
.
Lucas mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia dan Vivian tidak sedang terburu-buru, jadi untuk apa ngebut, ditambah lagi Vivian yang ingin menikmati keindahan kota saat malam hari seperti ini.
Meskipun hampir tengah malam, tapi kota ini tidak pernah mati. Bahkan masih banyak kendaraan umum maupun pribadi yang hilir mudik.
Kedai-kedai pinggir jalan pun masih buka untuk menjajakan dagangannya. Terlihat pula para pejalan kaki yang hampir memenuhi trotoar. Dan pemandangan seperti ini tentu saja menjadi hal yang lumrah di kota-kota besar seperti ini.
"Ge, kita berhenti dulu ya. Aku ingin membeli makanan di kedai Bibi Wang." Ucap Vivian yang kemudian dibalas anggukan oleh Lucas.
__ADS_1
Lucas menepikan mobilnya. Vivian turun lebih dulu dan masuk ke sebuah kedai yang kemudian diikuti Lucas dibelakangnya. Meskipun hanya kedai pinggir jalan, tapi makanan di sini rasanya tidak kalah dengan yang ada di hotel bintang 5.
"Bibi, seperti biasa untuk kami berdua ya." Seru Vivian pada bibi pemilik kedai.
"Baik, Nona. Silahkan tunggu sebentar." Vivian mengangguk.
"Ge, apa itu bercak darah?" Vivian menunjuk noda merah yang ada di kemeja putih Lucas.
Kemudian Lucas mengikuti arah tunjuk Vivian dan langsung mengumpat dalam hati. Bagaimana bisa dia seceroboh ini, seharusnya dia tadi mengganti pakaiannya dulu sebelum menjemput Vivian.
"Hn," Lucas mengangguk.
"Ge, apa kau terluka? Kenapa di pakaianmu bisa ada darah? Dan jika kau terluka kenapa tidak memberitahuku? Sini, biarkan aku lihat lukamu itu." Vivian menatap Lucas dengan cemas.
Kemudian Lucas menyibak poninya dan Vivian menemukan sebuah perban yang menyatu dengan plaster menutup pelipis kirinya. Dan anehnya, bagaimana bisa Vivian sampai tidak menyadari jika ada perban di pelipis suaminya.
"Hanya luka kecil saja, kau tidak perlu secemas itu." Ucap Lucas mencoba meyakinkan Vivian. Memang tidak ada luka berarti yang Lucas derita, hanya luka kecil pada pelipis kirinya.
Vivian mendesah berat. "Aku tidak tau apa yang membuatmu bisa sampai terluka seperti itu. Luka kecil ataupun besar, seharusnya kau lebih berhati-hati, jangan biarkan dirimu sampai terluka lagi, aku mohon. Berhentilah membuatku cemas, Ge." Ucap Vivian sambil menatap Lucas dengan sendu.
Lucas menatap Vivian dengan penuh penyesalan. Dia telah membuat istrinya cemas. Lucas meraih tangan Vivian dan menggenggam jari-jari lentiknya. "Baiklah, aku berjanji padamu. Ini terakhir kalinya aku membiarkan diriku terluka."
"Aku harap kau bisa memegang kata-katamu itu. Jangan pernah libatkan dirimu lagi dalam masalah dan bahaya. Aku tau kau adalah Bos besar dari organisasi Hitam, tapi demi rumah tangga kita dan juga diriku, aku mohon berhenti membahayakan dirimu sendiri."
Lucas menghapus lelehan-lelehan bening yang mengalir dari pelupuk mata Vivian. Dengan mantap dia menganggukkan kepala."Baiklah, aku berjanji padamu!!"
-
Bersambung.
__ADS_1