
"Mulai sekarang aku tidak akan mengijinkan kamu pergi sendirian, apalagi dalam keadaanmu yang saat ini!!!"
Vivian hanya bisa menceritakan bibirnya. Lucas memarahinya habis-habisan karena insiden yang terjadi di mall tadi. Lagipula itu bukan salahnya, mereka saja yang datang di waktu yang tidak tepat.
Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Vivian. Wanita itu diam seribu bahasa. Karena jika dia menyahut satu kalimat saja, sudah pasti ocehan Lucas akan semakin panjang dan tidak berhenti, bahkan sampai beberapa jam kemudian.
"Dibandingkan diriku, seharusnya kau yang lebih memahami bagaimana kondisimu saat ini. Dan aku tidak mau mendengar alasan apapun lagi, jika kau masih bandel dan tidak mau menurut, maka terima sendiri hukumannya!!!"
Blamm...
Vivian terlonjak kaget karena dentuman keras pada pintu. Lucas membanting pintu kamar mereka dengan keras sebelum melenggang pergi. Dan Vivian hanya bisa mendengus berat. Sepertinya suaminya itu sedang marah padanya.
Tak mau kalah dari Lucas, Vivian pun melakukan hal yang sama. Wanita itu mengepak pakaiannya dan memasukkan ke dalam koper miliknya. Rencananya Vivian akan pulang ke kediamannya dan tidak akan kembali jika bukan Lucas sendiri yang menjemputnya.
"Nyonya Bos, kau mau kemana?" Tegur seorang pria dengan lingkaran panda pada kedua matanya.
"Minggat, bos mu itu sangat menyebalkan!!!" Jawab Vivian dengan nada meninggi. Dan suaranya yang melengking sampai ke telinga pria yang sedang duduk tenang di ruang keluarga.
Lucas yang penasaran segera bangkit dari duduknya. Matanya memicing melihat Vivian menenteng sebuah koper di tangan kananya. Lalu menghampiri wanita itu. "Kau mau kemana? Dan untuk apa koper itu?" Tanya Lucas penasaran.
"Minggat!! Hiks, suamiku sudah tidak menyayangiku lagi jadi untuk apa aku tetap di sini. Lagipula aku bisa tetap hidup dan membesarkan anak ini meskipun tanpa ayahnya."
"Bos, orang yang sedang hamil itu perasaannya sensitif, jadi kau harus lebih hati-hati saat bicara dengannya." Ujar Tao setengah berbisik.
Lucas mendesah berat. Dia mengambil alih koper di tangan Vivian lalu membawa sang wanita kembali ke kamar mereka. Dan Vivian tidak berusaha menolak apalagi ngotot akan pergi, karena dia tau seperti apa tempramen prianya ini. Bisa-bisa dia benar-benar memintanya pergi dan bukan itu yang Vivian inginkan.
.
"Kau masih tidak mau bicara padaku?" Tanya Lucas melihat Vivian yang masih saja diam dan membuang muka ke arah lain. Wanita itu mengabaikannya.
__ADS_1
"Aku sedang tidak ingin bicara denganmu, jadi jangan bertanya apapun lagi padaku!!"
Lucas mendengus geli. Sepertinya penyakit merajuk istrinya ini sedang kambuh, dan bukan Lucas namanya jika tidak bisa mengatasi kekesalan dan kemarahan Vivian.
Kedua mata Vivian membelalak saat merasakan sebuah benda lunak dan basah menyapu permukaan bibirnya di susul lum@tan-lum@tan kecil yang berubah menjadi ciuman panas dan menuntut.
Sebelah tangan Lucas menekan tengkuk Vivian, sebelah tangan lagi memeluk pinggang rampingnya. Jarak diantara mereka terbunuh sepenuhnya, dan hanya terbatasi oleh kain yang melekat di tubuh masing-masing.
"Ahhh..."
Suara des@han yang keluar dari bibir Vivian, Lucas manfaatkan untuk mendapatkan akses lebih, dia memasukkan lidahnya ke dalam mulut hangat Vivian dan mulai menginvasinya.
Vivian tak ragu membalas ciuman Lucas, ciuman mereka berubah menjadi ciuman panas yang menuntut. Posisi mereka tidak lagi duduk. Lucas membaringkan tubuh Vivian dengan posisi ia di atas wanita itu.
"Ahhhh..."
Des@han luar kembali keluar dari sela-sela bibir Vivian ketika Lucas menarik lidahnya dan membelitnya. Tak ingin dianggurkan, sebelah tangan Lucas bermain di atas gunduk@n milik Vivian sambil memainkan put!ngnya.
"Bagaimana? Masih marah?" Jari-jari Lucas menghapus sisa liur di bibir Vivian.
Wanita itu menggeleng. "Tidak, bagaimana aku bisa marah setelah kau memberikan apa yang aku inginkan. Aku lelah dan mengantuk, Ge bisakah kau tetap di sini dan memelukku sepanjang malam?" Vivian menatap Lucas penuh harap. Pria itu lantas mengangguk.
"Tentu, Sayang."
-
Sang fajar mulai merangkak ke ujung cakrawala. Sinarnya yang agung mulai menunjukkan eksistensinya. Pagi hari yang cerah. Burung-burung berterbangan kesana kemari. Angin pagi yang berhembus sejuk pun ikut serta meramaikan pagi hari ini.
Disebuah mansion mewah, lebih tepatnya disebuah kamar yang didominasi warna putih dan gold, terlihat sepasang anak manusia yang masih terlelap dalam mimpinya. Si wanita tampak terlelap begitu nyenyak di dalam pelukan si pria.
__ADS_1
Tubuhnya yang hanya terbalut gaun tidurnya dalam dekapan tangan kekar pria tersebut. Sesekali si wanita menggerakkan kepalanya, mencoba mencari posisi yang tepat.
Dia tau jika ini sudah siang. Tapi si wanita enggan untuk bangun apalagi beranjak dari tempat tidurnya. Dia masih ingin bermanja-manjaan di pelukan sang suami. Lagipula tak ada kegiatan yang bisa dia lakukan selain tidur sepanjang hari.
"Sayang, kau sudah bangun?" Suara berat seorang pria langsung masuk dan berkaur di dalam telinganya.
"Hm, jangan menggangguku, Ge. Biarkan aku tidur sebentar lagi." Rengek wanita itu memohon.
"Ini sudah hampir jam 7, apa kau tidak ingin bangun untuk sarapan?" Tanya pria itu yang pastinya adalah Lucas.
"Aku tidak lapar, dan aku ingin tidur lagi. Jadi jangan menggangguku, oke!!!"
Lucas mendengus. "Baiklah, terserah kau saja. Aku akan bangun lebih dulu." Lucas menyibak selimutnya dan hendak beranjak dari berbaring nya. Tapi segera ditahan oleh Vivian. "Tidak boleh!!! Tetap di sini dan jangan pergi kemana-mana!!!"
Lucas mendesah berat. "Tapi aku ingin buang air kecil, Vivian Xi. Kau ingin suamimu sampai mati karena menahan kenc!ng?!" Desis Lucas setengah mengeram.
"Ya sudah, pergi sana. Dasar p!pis menyebalkan, mengganggu orang lagi bermesraan saja!!" Vivian mempoutkan bibirnya. Sedangkan Lucas hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah wanitanya ini.
Mengabaikan Vivian yang masih terus mengoceh tidak jelas. Lucas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket semua, juga buang air kecil. Sementara Vivian kembali berkutat dengan selimut tebal miliknya.
Vivian benar-benar malas untuk beraktifitas hari ini. Mungkin karena bawaan hamil muda jadi inginnya hanya bermalas-malasan saja. Seperti kebanyakan ibu hamil pada umumnya.
Cklekk...
Sepuluh menit kemudian Vivian mendengar suara pintu kamar mandi di buka, sosok Lucas keluar dari dalam sana hanya berbalut handuk yang melingkari pinggulnya. Mengabaikan Vivian yang sedang memperhatikannya. Lucas berjalan menuju Walk In Closet miliknya untuk berganti pakaian.
Selang beberapa saat, Lucas keluar dari dalam sana dengan pakaian lengkap. Kemeja hitam dan celana bahan berwarna hitam pula. Lalu dia menghampiri Vivian yang masih tetap dalam posisi yang sama, berbaring.
"Aku sarapan dulu. Jika kau malas keluar, aku akan meminta pelayan untuk membawakan sarapan mu kemari." Lucas mengusap kepala Vivian dan pergi begitu saja.
__ADS_1
-
Bersambung.