
GLUKK
Susah payah Bobby Wang menelan salivanya saat melihat tatapan dingin Lucas yang semakin menajam. Bobby pikir setelah bertahun-tahun tidak bertemu maka sifat pria itu akan berubah dan tidak sedingin dulu. Tapi ternyata dugaannya salah. Lucas tetap sedingin yang pernah dia kenal.
Lucas adalah orang yang paling berjasa dalam hidup Bobby. Jika saja tidak ada dia yang membantunya dulu. Mungkin saat ini dirinya hanya tinggal nama.
Bobby pernah terlibat masalah dengan salah satu anggota Organisasi Japok yang kekejamannya sudah tidak bisa diragukan lagi. Pada saat itu, Bobby hampir kehilangan nyawanya di tangan mereka. Tapi Lucas datang bak seorang malaikat.
Awalnya dia tidak tau siapa Lucas sebenarnya sampai seseorang memberitaunya. Dia adalag seorang Boss Mafia yang arogan dan kejam, bahkan ketua Japok saja sampai bertekuk lutut di hadapannya. Semua sifat buruk seolah melekat pada dirinya.
Angkuh. Dingin. Kasar. Kejam. Sadis. Lima sifat itu tidak bisa lepas dari diri seorang Xi Lucas. Tidak salah jika banyak orang akan berfikir dua kali sebelum membuat dan mencari masalah dengannya.
Saat ini keduanya sedang berada di ruang tamu kediaman Lucas. Suasana hening masih menyelimuti kebersamaan keduanya.
Lucas duduk di sebuah kursi dengan ukiran yang sangat indah. Kaki kanannya bertumpuh pada laki kirinya yang membuatnya terlihat semakin arogan dan angkuh. Dua jarinya mengapit sebatang rokok yang aromanya begitu khas dan memabukkan.
"Tidak bisakah kau tidak usah memasang wajah angkuhmu yang super menyebalkan itu? Kau tau, rasanya aku seperti sedang uji nyali."
"Ck," Lucas berdecak lidah sembari memutar mata jengah. Bobby memang tidak ada bedanya dengan Tomi dan Sonny yang terkadang bersikap terlalu lebay. Begitulah anak mudah jaman sekarang menggambarkan sikap Bobby.
"Masalah apa lagi yang kali ini kau miliki dengan mereka, Bobby Wang?" tanya Lucas datar.
Bobby menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia takut jika Lucas akan menembak mati dirinya pada saat ini juga jika mengatakan yang sebenarnya. Tapi jika tidak jujur masalah yang dia hadapi juga tidak akan selesai. Bobby menarik nafas panjang dan menghelanya.
"Bagaimana ya aku mengatakannya. Sebenarnya ini sedikit memalukan tapi-"
"Jangan bertele-tele, langsung saja," Lucas menyela cepat.
Bobby mendengus berat. "Dasar rusa kutub menyebalkan. Baiklah aku akan langsung saja pada intinya. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu tapi tidak di sini. Aku tidak ingin kalau sampai ada yang melihatnya kemudian histeris. Di mana kamar tamu? Aku akan menunjukkan padamu di sana,"
"Ck, dasar merepotkan,"
__ADS_1
Lucas menutup matanya dan meminta Bobby untuk menutupnya kembali. "Hiks, mereka dengan kejamnya memotong ujung juniorku setelah memergokiku sedang bercinta bebas dengan salah satu wanita dari organisasi mereka."
"Salah satu temanku yang berasal dari Indo mengatakan jika ini namanya Khitan. Rasanya sangat menyakitkan, dan aku sampai tidak bisa berjalan selama beberapa hari. Huaaa, balas kan dendam ku pada mereka." Tangis Bobby pun pecah.
Lucas mendengus berat. Dia pikir masalah apa. Ternyata masalah yang tidak berbobot. Bobby tidak hanya membuatnya kesal tapi juga sudah terlalu banyak membuang waktunya. "Ck, dasar sinting. Aku pikir masalah apa. Selesaikan sendiri saja." Lucas beranjak dan pergi begitu saja.
"YAKK!! XI LUCAS, KAU SANGAT MENYEBALKAN!!"
Lucas hanya melambaikan tangannya tanda tidak peduli. Dari pada mengurusi orang tidak penting seperti Bobby, lebih baik dia menyusul Vivian yang saat ini sedang berbelanja bersama Bianca.
-
Dua wanita terlihat sibuk memilih pakaian yang cocok dan nyaman untuk dipakai ibu hamil. Siapa lagi mereka berdua jika bukan Vivian dan Bianca. Bianca sedang menemani Vivian memilih dress yang tepat untuknya.
"Vi, coba lihat yang ini. Bagaimana menurutmu? Yang ini bagus bukan? Kainnya juga dingin jika dipakai."
"Tidak mau!!! Dress itu terlalu tua untuk ku. Kenapa sampai sekarang selera mu tetap saja seburuk dulu!!!" Keluh Vivian yang tidak menyetujui pilihan Bianca.
"Betul juga, lalu bagaimana dengan yang ini?!" Bianca menunjukkan pilihannya yang lain pada Vivian. Alih-alih senang dengan pilihan Bianca, Vivian justru terlihat semakin kesal.
Bianca menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia meringis ngilu melihat sorot tajam Vivian yang terlihat kesal karena ulahnya. Kemudian ia kembali berkeliling bersama Vivian, kali ini Bianca membiarkan Vivian memilih sendiri, karena tak ada satu pun pilihannya yang sesuai dengan seleranya.
Baru saja Vivian menemukan dua pilihan terbaiknya. Tiba-tiba mall tempat mereka berada saat ini kedatangan tamu tak diundang. Mereka adalah preman setempat yang hobinya mencari masalah dan berbuat onar.
Para preman itu meminta uang keamanan dari pada pemilik toko yang ada di seluruh Mall. Jika mereka tidak memberikan apa yang para preman itu minta, maka toko mereka akan di rusak dan dagangan mereka di hancurkan, hingga para pemilik toko mengalami kerugian yang sangat besar.
Para keamanan pun memilih angkat tangan, mereka tidak berani melawan apalagi menindak mereka. Mereka sangat kejam dan bringas, tak segan mereka melukai siapa pun yang berani ikut campur.
Si pemilik toko memberikan sejumlah uang pada para perusuh itu. Beberapa lembar won bernominal besar dia berikan pada mereka agar cepat pergi, bukannya pergi, mereka malah mengatakan jika uang yang di dapatkan itu terlalu kecil jumlahnya.
"Apa-apaan ini? Kenapa jumlahnya hanya segini? Kau ingin menghina kami ya?!"
__ADS_1
"Tapi hanya itu yang kami miliki, toko baru saja buka dan belum banyak pelanggan yang datang. Bulan depan akan ku tambahkan jumlahnya."
"Bulan depan, bulan depan, berikan sekarang juga atau ku hancurkan tempatmu ini?!"
"Jangan, hanya ini mata pencaharian kami. Baik akan aku tambahkan jumlahnya. Tapi setelah ini kalian langsung pergi, kalian membuat pengunjung toko ku ketakutan."
"Sialan!!! Berani sekali kau memerintahkan!! Kau pikir kau siapa, hah!!"
"CUKUP!!!" teriak Vivian tiba-tiba. Membuat beberapa pasang mata kini mengarah padanya. Dengan berani Vivian menghampiri para perusuh itu. "Uang kan yang kalian inginkan?! Ini, akan aku berikan. Dan sebaiknya sekarang kalian pergi dari sini!!"
Vivian melempar sejumlah uang pada salah satu dari keempat preman itu. Tidak tanggung-tanggung, sekitar 10 juta won Vivian lemparkan ke muka salah satu dari keempat perusuh itu. Mereka mengambil uang-uang itu dan melenggang pergi.
"Kau beruntung karena Bidadari cantik ini membantumu, jika tidak, habis kau!!"
"Kalian pikir bisa pergi dari sini setelah merampok uang milik istriku?!"
Langkah mereka berempat terhenti oleh kemunculan seorang pria yang entah dari mana datangnya tiba-tiba sudah ada di hadapan mereka. Seorang pria dengan balutan pakaian serba hitam terlihat menodongkan senjata pada salah satu dari keempat pria tersebut.
"Kembalikan uang itu pada istriku, atau kalian mati di sini!!!"
Melihat kemunculan pria itu membuat mereka tak berkutik. Mereka ketakutan setengah mati, hal itu terlihat jelas dari mimik mukanya. Tanpa di perintah sekali lagi, pria itu pun mengembalikan uang tersebut pada Vivian.
"Ma..Maaf, Nona. Jika saja kami tau kau adalah Istri dari pria ini, kami tidak akan macam-macam padamu. I...Ini uang Anda, saya kembalikan."
"Dasar preman mental teri, menyebalkan!!!"
"Jangan pernah membuat kerusuhan dan keributan lagi di tempat umum, jika kalian masih menyayangi nyawa kalian. Pergi dari sini dan jangan tampakkan batang hidung kalian lagi!!!"
"Ba..Baik, kami akan pergi."
Pria itu 'Lucas' menghampiri Vivian dan Bianca untuk memastikan apa mereka baik-baik saja. Setelah melihat tidak ada hal buruk terjadi pada istrinya, kemudian Lucas mengajak mereka pergi dari sana.
__ADS_1
-
Bersambung.