CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY

CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY
Kakek Xi Sakit Lagi


__ADS_3

Nasib buruk benar-benar dialami oleh si kembar. Mereka harus mendapatkan hukuman berat dari Marisa karena apa yang telah mereka lakukan. Marisa marah besar pada Mark dan Vincent saat tahu jika rumahnya di sulap menjadi sebuah club' malam.


Dan hukuman yang harus mereka terima adalah, penyitaan semua barang-barang mewah yang Marisa berikan pada mereka. Seperti mobil, ponsel sampai pemotongan uang jajan bulanan.


Dan parahnya, Marisa memberikan hukuman itu sampai dua bulan ke depan. Katakan saja jika Marisa sangat keterlaluan, tapi itu semua masih belum sebanding dengan uang yang harus Marisa keluarkan untuk memperbaiki kondisi Mansion nya, dan beberapa barang yang rusak karena ulah teman-teman si kembar.


"Huhuhu, Bibi kenapa kau kejam sekali pada kami? Masa harus jalan kaki ke sekolah, bisa berkeringat dan bau dong, bagaimana para gadis bisa jatuh cinta pada kami lagi."


"Itu bukan urusan Bibi, kalian yang berbuat, jadi tanggung sendiri semua resikonya!!"


"Huhuhu, Bibi kau sangat jahat, padahal kami adalah yatim piatu, tapi kenapa kau malah begitu kejam? Pasti di Surga sana Mama dan Papa menangis melihat kami diperlakukan seperti ini!!"


Marisa mendengus. "Justru mereka menangis darah melihat kelakuan kedua putranya!! Karena jika mereka masih hidup, mereka pun akan melakukan tindakan yang sama!!" Jawab Marisa.


Mengabaikan mereka berdua. Marisa pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua. Kepalanya pening, mereka benar-benar membuat emosinya naik drastis.


Ponsel milik Marisa berdering, menandakan ada panggilan masuk. Saat melihat siapa orang yang menghubunginya, nama Lucas lah yang tertera di layar ponselnya.


Penasaran kenapa Lucas menghubunginya, Marisa pun segera menerima panggilan tersebut.


"Ada apa, Lu?" Tanya Marisa to the poin.


"Aku tidak pulang malam ini, pak tua itu keadaannya semakin memburuk, aku tidak bisa meninggalkannya."


"Baiklah, aku mengerti. Aku baik-baik saja, sebaiknya kau jaga dia sampai kondisinya benar-benar membaik."


"Terimakasih atas pengertiannya, Sayang." Lucas mengakhiri panggilan telfonnya.


Lucas langsung pergi setelah mendapatkan telfon jika kakeknya mengalami drop lagi. Dia tidak bisa membawa Marisa untuk ikut bersamanya. Ini bukan waktu yang tepat, Lucas pasti akan mengenalkan Marisa pada kakeknya suatu saat nanti.


Marisa bangkit dari berbaring nya. Wanita itu mengambil sebotol wine dari lemari pendingin lalu menuangnya ke dalam sebuah gelas berkaki panjang, dengan kaki tanpa alas, Marisa berjalan menuju balkon kamarnya.


Udara senja yang hangat menyambutnya ketika Marisa menginjakkan kakinya di sana. Marisa duduk di sebuah kursi besi dengan ukiran unik pada sandarannya.


Marisa meletakkan wine nya di atas meja. Pandangannya tertuju pada langit senja di ujung barat sana.

__ADS_1


Inilah salah satu alasan Marisa kenapa dia sangat menyukai senja. Karena senja selalu membawa perasaan damai.


Sepasang biner Hazel nya menatap cahaya jingga di ujung barat sana dengan pandangan takjub. Marisa memang tidak pernah bosan menikmati senja. Selain melihat bintang di malam hari, melihat senja adalah salah satu hobinya.


Setelah puas menikmati senja. Marisa beranjak dari duduknya dan kembali ke dalam. Udara semakin dingin, dan Marisa tidak memakai pakaian hangat sama sekali.


-


Lucas menggenggam tangan Kakek Xi yang sedang terbaring tak sadarkan diri. Kondisi kakek tua itu memang sedikit memburuk akhir-akhir ini.


Dan Lucas langsung pergi untuk menemuinya setelah mendapat telfon, jika Kakek Xi terus saja mencari Kevin di bawah sadarnya. Lucas tau seberapa besar kasih sayang Kakek Xi pada mendiang kakaknya tersebut, bahkan saat tidak sadarkan diri pun, dia masih tetap mencarinya.


"Tuan Muda, kondisi Tuan Besar akhir-akhir ini semakin memburuk. Ada baiknya jika Anda tetap berada di sini dan menemaninya."


"Rencananya aku memang mau menginap selama beberapa hari di sini, setidaknya sampai kondisi Kakek membaik."


"Setiap hari Tuan Besar selalu memanggil nama Tuan Muda Kevin, dia mengatakan jika sangat merindukannya. Saya bingung harus bagaimana, makanya saya menghubungi Anda."


"Sudah berapa hari kondisi Kakek seperti ini?" Tanya Lucas tanpa menatap lawan bicaranya. Karena pandangannya tertuju pada Kakek Xi.


Lucas mendesah berat. "Lalu kenapa kau baru menghubungiku?" Lucas mengangkat wajahnya, sepasang Biner matanya menatap dingin pria di depannya.


"Maafkan saya, Tuan Muda. Saya bingung bagaimana harus menghubungi Anda. Ponsel saya hilang, sehingga tidak tau bagaimana harus menghubungi Tuan Muda."


"Baiklah, tidak perlu membahas hal ini lagi. Tinggalkan kami berdua, ada beberapa hal yang ingin aku katakan pada Kakek secara pribadi."


Pria itu mengangguk. "Baik, Tuan Muda."


Selepas kepergian pria itu. Di ruangan hanya menyisakan Lucas dan kakek Xi. Lucas tidak mengatakan apa-apa. Dan hanya terus memandangi wajah kakek tua yang masih dalam keadaan koma tersebut.


Kemudian Lucas bangkit dari duduknya dan pergi ke balkon, dia harus menghubungi Marisa jika tidak bisa pulang malam ini. Lucas tidak ingin membuat Marisa sampai menunggunya.


Panggilan tersambung, tapi tidak ada jawaban. Lucas tidak tau apa yang sedang di lakukan oleh Marisa. Mungkin saja wanita itu sedang menceramahi si kembar? Begitulah yang Lucas pikirkan.


Lucas mencoba menghubunginya lagi, dan kali ini tersambung. Marisa menerima panggilan darinya.

__ADS_1


"Ada apa, Lu?" Tanya Marisa to the poin.


"Aku tidak pulang malam ini, pak tua itu keadaannya semakin memburuk, aku tidak bisa meninggalkannya."


"Baiklah, aku mengerti. Aku baik-baik saja, sebaiknya kau jaga dia sampai kondisinya benar-benar membaik."


"Terimakasih atas pengertiannya, Sayang." Lucas mengakhiri panggilan telfonnya.


Pria itu mendesah berat. Sebenarnya dia tidak tega juga membiarkan Marisa sendirian, tapi kau bagaimana lagi, keadaan lah yang tidak memungkinkan untuk dia pulang saat ini. Dan untungnya Marisa bisa mengerti.


-


Bangkrut, Pailit...


Alan dan Tuan Jimmy hanya bisa meratapi nasibnya setelah kehilangan seluruh aset-aset berharganya.


Perusahaannya kehilangan banyak saham dan kolega tetap nya, setelah Marisa memutuskan untuk mencabut semua saham yang dia tanam di perusahaan tersebut.


Tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan karena yang dihadapi bukan orang sembarangan. Marisa memiliki uang dan orang-orang yang selalu siap melindunginya, apalagi dengan adanya Lucas disisinya.


Salah bergerak sedikit saja, bisa-bisa nyawa mereka yang menjadi taruhannya. Bukan hanya perusahaannya yang mengalami kebangkrutan, tapi rumahnya juga disita oleh pihak Bank untuk menutupi hutang.


"Katakan, sekarang kita akan tinggal dimana? Kolong langit? Atau kolong jembatan?! Aku tidak Sudi!!"


Diana menampar Alan dengan keras, dan memakinya habis-habisan. "Dasar suami tidak berguna. Sudah mandul, sekarang miskin lagi. Kau pikir bagaimana kita bisa hidup dengan tanpa sepeser pun uang. Aku tidak mau lagi hidup denganmu!!"


"Oh, jadi sekarang kau mulai perhitungan?! Apa kau tidak sadar jika kau sudah menghabiskan uangku untuk foya-foya, dan sekarang seenak jidat kau mengatakan tidak mau hidup denganku?! Kau pikir aku akan melepaskan mu?!"


"Kenapa? Kau mau apa? Membunuhku? Kau pikir kau siapa bisa menyentuhku. Sebelum berhasil menyentuhku, sebaiknya bercermin dulu!!" Diana menyambar tas dan kopernya lalu pergi begitu saja.


Alan yang sedang di kuasai Emosi langsung menjambak kepala Diana lalu membenturkannya pada tembok berulang-ulang. Bau anyir darah yang keluar dari kepala Diana serta teriakan sang Ibu tidak dia hiraukan.


Alan kehilangan akal sehatnya, disisi lain dia juga sudah mulai muak dengan Diana. Satu-satunya hal terbaik adalah menghabisinya.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2