CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY

CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY
Rencana Licik Marisa


__ADS_3

Marisa membuka matanya. Sekujur tubuhnya terasa sakit semua. Pergulatannya dengan Lucas semalam benar-benar menguras hampir semua tenaganya.


Sambil menahan rasa nyeri pada paha dalamnya. Marisa turun dari ranjang empuknya, lalu berjalan ke kamar mandi. Meninggalkan Lucas yang masih terlelap dalam tidurnya.


Usai mandi dan berganti pakaian. Marisa meninggalkan kamar dan pergi ke dapur untuk membuat kopi. Bisa saja dia minta pelayan untuk membuatkannya, tapi sayangnya Marisa lebih suka melakukannya sendiri.


Marisa melirik ke belakang melalui ekor matanya. Dua pelayan berjalan menghampirinya. Marisa tidak tau apa yang mereka rencanakan, tapi dia tau jika mereka memiliki niat buruk padanya.


"Jadi ini rencana kalian?!" Marisa menyeringai sinis, dia berhasil menahan pisau yang hendak ditusukkan padanya. "Kalian benar-benar sudah bosan hidup ya?!" Marisa menatap mereka bergantian.


"Jika kami berhasil menghabis mu, maka kami akan mendapatkan banyak keuntungan dari Nona Rebecca!!"


"Oh, jadi ini adalah rencana wanita itu. Baik, kita lihat dia atau aku yang akan memenangkan babak ini?!" Marisa kembali menyeringai.


Sebuah ide muncul di kepalanya saat melihat Lucas berjalan menuruni tangga. Marisa menatap pisau yang masih ada di tengah pelayan itu. Seringai kembali tercetak di bibirnya.


Jlebb...


Mata kedua pelayan itu membelalak saat melihat Marisa menarik lengan salah satu dari kedua pelayan itu, sehingga pisau di tangan wanita itu menusuk perutnya.


Sontak saja wanita itu langsung melepaskan genggaman tangannya pada gagang pisau yang saat ini menancap pada perut Marisa. Seringai masih tercetak di bibir ranum itu. Beberapa detik kemudian tubuh Marisa ambruk menghantam lantai.


Lucas membelalakkan matanya. Dia berteriak dan segera menghampiri Marisa. Lucas mengangkat kepala Marisa, sebelah lengannya memeluk punggung wanita itu.


"Marisa, buka matamu. Marisa, katakan sesuatu, jangan membuatku takut. Marisa, aku mohon buka matamu dan katakan padaku jika kau baik-baik saja!!" Namun tidak ada respon.


Lalu pandangan Lucas bergulir pada kedua pelayan itu. Keduanya terhuyung kebelakang melihat tatapan Lucas yang super dingin dan tajam.


"Aku akan mengurus kalian nanti!! KAI, CEPAT SIAPKAN MOBIL UNTUKKU!!"


Lucas mengangkat tubuh Marisa. Dia tidak akan membiarkan hal buruk menimpa istrinya. Dan sementara itu, Marisa yang sebenarnya dalam keadaan sadar membuka kembali matanya, lalu mengeringkan sebelah matanya pada mereka berdua.


Mereka hendak berteriak dan memberitahu Lucas, tapi Marisa sudah menutup kembali matanya. Bagaimana mereka bisa sangat bodoh, Marisa telah mengelabuinya. Lagipula mereka telah mencari masalah pada orang yang salah.


-

__ADS_1


"Dokter, bagaimana keadaan Istri saya?" Lucas menghampiri dokter yang menangani Marisa.


"Tidak perlu cemas, Tuan. Keadaan Istri Anda baik-baik saja. Untungnya luka itu tidak terlalu dalam dan parah. Kami hanya memberikan 5 jahitan luar dan dalam."


Mendengar penjelasan Dokter itu, membuat Lucas bisa menghela napas lega. Dia lega setelah mengetahui jika Marisa baik-baik saja.


Lucas baru diijinkan menemui Marisa setelah wanita itu dipindahkan ke ruang inap. Senyum dibibir Marisa mengembang lebar saat melihat kedatangan suaminya. Lucas menghampiri Marisa lalu memeluknya.


"Apa kau tau bagaimana paniknya aku tadi? Vivian, aku sangat mencemaskan mu." Ucap Lucas sambil menutup matanya.


Wanita itu tersenyum lebar. Marisa mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Lucas. "Tenanglah, aku baik-baik saja. Istrimu ini adalah wanita yang hebat dan tangguh. Jadi tidak mungkin hal buruk bisa menimpanya!!"


"Ya, aku harap begitu."


Kemudian Lucas melepaskan pelukannya. Sepasang biner coklatnya menatap sepasang Hazel milik Marisa.


"Supaya keadaanmu cepat pulih, sebaiknya kau istirahat saja. Aku sudah menghubungi Sahabatmu. Mungkin sebentar lagi dia akan sampai. Aku harus pulang, ada sesuatu yang harus aku selesaikan."


"Tapi malam ini kau datang bukan?" Tanya Marisa memastikan. Lucas mengangguk."Bawakan buah-buahan untukku. Satu lagi, aku tidak mau memakai pakaian rumah sakit, jadi bawakan piyama milikku sendiri."


"Baiklah."


-


Brakk...


Kedua wanita itu terlonjak kaget karena dobrakan keras pada pintu. Tubuh mereka gemetar hebat saat melihat Lucas berdiri diambang pintu dengan tatapan tajam yang menusuk.


Kedua pelayan itu langsung berlutut di bawah kaki Lucas saat pria itu sudah semakin mendekat. Mereka bersujud di bawah kaki Lucas, memohon supaya pria itu mengampuni mereka. Tapi sepertinya tidak tidak mungkin.


"Tuan Muda, tolong jangan bunuh kami. Kami tidak bersalah dan hanya menjalankan perintah saja. Nona Rebecca yang memerintahkan kami untuk membunuh Nyonya Muda."


"I..Itu benar, Tuan Muda. Dia menjanjikan uang yang sangat banyak pada kami, jika berhasil membunuh dan menyingkirkan Nyonya Muda!!"


"Memalukan!! Dan kalian pikir aku akan memaafkan dan mengampuni kalian berdua? Jangan berharap, karena orang seperti kalian tidak layak sama sekali untuk dibiarkan tetap hidup!!"

__ADS_1


Lucas menarik rambut salah satu dari kedua pelayan itu, hingga kepalanya mendongak ke belakang. Matanya menyipit, mimik wajahnya menunjukkan jika dia kesakitan.


Wanita itu berkali-kali meminta ampun, tapi sayangnya Lucas bukan pemaaf yang mudah memaafkan siapa pun yang berani mencari masalah dengannya.


"Kai, Tao, urus mereka berdua. Aku tidak ingin orang seperti mereka tetap bernapas di dunia ini!!"


"Baik, Bos!!"


Lucas meninggalkan ruangan itu begitu saja. Bahkan dia tidak menghiraukan teriakan kedua pelayan itu. Mereka sudah berani mencari masalah dengannya. Itu artinya mereka juga sudah siap untuk menerima semua konsekuensinya.


Insiden penyerangan Marisa malam itu adalah mereka berdua otaknya, sejak kedatangan Marisa di kediamannya.


Lucas tau, jika kedua pelayannya sudah tidak menyukainya. Kemudian Rebecca kembali, dan hal tersebut mereka manfaatkan untuk mendapatkan dukungan dari orang lain.


Sayang ya mereka tidak sadar. Jika apa yang mereka lakukan itu justru membawa petaka bagi diri mereka sendiri. Karena mencari masalah dengan Marisa, sama artinya dengan mencari masalah dengan Lucas. Dan hukuman yang harus mereka terima tentu saja kematian.


-


Cklekk....


Perhatian Marisa teralihkan oleh suara decitan pintu di buka dari luar. Wanita itu mendengus dan memutar jengah matanya saat melihat siapa yang datang mengunjunginya.


Seorang pria dengan wajah tengilnya, menghampiri Marisa yang sedang duduk bersandar pada sandaran ranjang inapnya. Dan pria itu tak lain tak bukan adalah kakak tiri Marisa, Robert.


"Adikku yang cantik. Ternyata wanita angkuh dan sombong sepertimu bisa dicelakai juga ya? Aku pikir wanita sombong dan angkuh sepertimu tidak mempan pada benda tajam, ternyata masih mempan."


"Mau apa kau datang kemari? Jika kedatangan mu hanya untuk mencibir dan menghinaku, sebaiknya kau pergi dari sini sebelum aku hilang kesabaran dan melempar mu keluar!!"


"Lihatlah dirimu, sudah seperti ini masih berani bicara dengan nada menggelikan seperti itu. Dasar wanita sombong, bagaimana jika aku membantumu pergi ke surga dengan cepat?!" Robert menyeringai.


"Sayangnya tidak semudah itu kau bisa menyentuh istriku?!"


Sontak saja Robert dan Marisa menoleh pada sumber suara. Sudut bibir Marisa tertarik ke atas. Sementara Robert membelalakkan mata saking kagetnya.


"Bo..Bos, Lucas?!"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2