CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY

CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY
Bagian Terindah


__ADS_3

Semilir angin malam membelai rambut panjang seorang wanita yang tengah duduk di salah satu kursi taman. Mata Hazel nya terlihat begitu tenang, pandangannya terarah ke langit malam yang sunyi dari kerlap kerlip bintang.


Angin yang berhembus semilir menyapu wajahnya yang putih, memperlihatkan keindahan iris Hazel nya yang terlihat tenang.


Entah apa yang sebenarnya dia lakukan sendirian di taman malam-malam begini, melihat bintang? Tapi tak ada satupun bintang di atas sana. Menunggu seseorang, tapi ini bukan taman kota yang umum di datangi oleh mereka yang menginginkan suasana berbeda.


Udara malam berhembus semakin dingin, membuat bulu-bulu halus di tengkuknya berdiri. Bukan karena rasa takut akan suasana horor dan semacamnya, tapi karena rasa dingin yang mengikat.


Jangan salahkan udara malam, tapi salahkan wanita itu sendiri karena tidak membawa mantel hangatnya. Bahkan kain yang melekat ditubuhnya sangat kontras dengan udara malam ini. Dress setengah lengan yang terbuka di bahunya.


Puk..


Wanita cantik itu terlonjak kaget karena sesuatu yang hangat tiba-tiba jatuh di atas bahunya. Sontak ia menoleh, dan sosok tampan berdiri dengan tatapan datarnya. Wanita itu 'Vivian' meringis ngilu melihat tatapan dingin dan datar suaminya.


Sepertinya Lucas akan menelannya hidup-hidup karena sudah berani menghilang tanpa memberitahunya. "Ge, bagaimana kau bisa tau aku ada di sini?" Bingung Vivian sambil mengeratkan selimut itu pada tubuhnya.


"Apa yang sebenarnya kau lakukan di sini malam-malam begini?" Alih-alih menjawab, Lucas malah balik bertanya.


Vivian menggeleng. "Tidak ada, hanya ingin menikmati suasana malam ini saja. Aku tidak bisa tidur, makanya aku pergi ke sini." Jawab Vivian sambil mengurai senyum tipis.


"Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan? Apa kau merindukan, Kevin?" Tanya Lucas tepat sasaran.


Vivian tak lantas menjawab dan hanya menundukkan wajahnya. Jika dia menjawab iya, maka itu bisa melukai hati dan perasaan Lucas. Tapi Vivian tidak bisa berbohong jika sebenarnya dia sangat merindukan pria itu, mantan kekasihnya yang telah tiada 10 tahun lalu.


Lucas mengambil tempat di samping Vivian kemudian menarik wanita itu ke dalam pelukannya. "Jika kau memang merindukannya, besok aku akan menemanimu menemuinya." Ucap Lucas sambil mengusap helaian panjang Vivian yang terurai.

__ADS_1


"Maaf, Ge. Aku tidak bermaksud melukai perasaanmu, apalagi membuatmu tersinggung. Aku~"


"Stt, jangan katakan apapun lagi. Aku bisa mengerti dan memahami perasaanmu. Aku tidak pernah meminta apalagi memaksamu melupakannya, karena bagaimana pun juga Kevin adalah bagian terindah dari masa lalu mu." Ujar Lucas panjang lebar.


Vivian mengangkat wajahnya dan menatap Lucas yang juga menatap padanya. "Kau tidak marah?" Vivian menatap Lucas penuh tanya. Pria itu menggeleng. Dan kembali membawa Vivian ke dalam pelukannya.


"Untuk apa aku marah, yang seharusnya marah adalah Kevin. Karena aku sudah merebut mu darinya." Bisik nya. "Ini sudah larut malam, sebaiknya kita tidur. Aku sangat lelah dan mengantuk." Ucap Lucas yang kemudian di balas anggukan oleh Vivian.


Keduanya beranjak dari duduknya, berjalan beriringan keduanya meninggalkan taman. Sebenarnya Vivian juga sudah mulai mengantuk, bukan hanya Lucas saja.


-


Frans dan Mia adalah dua orang kepercayaan Vivian. Mereka bekerja pada Vivian sejak wanita itu mulai menjabat di perusahaan mendiang Kakeknya. Frans adalah putra dari mantan bodyguard Kakek Vivian, sedangkan Mia adalah putri dari kepala pembantu.


Vivian, Mia dan Frans sudah tubuh bersama sejak mereka masih kecil. Diantara mereka bertiga, Vivian lah yang usianya paling muda. Seperti orang tua mereka yang setia pada mendiang Kakek dan Nenek Vivian, mereka juga setia pada wanita itu.


"Frans,"


Pria itu menghentikan langkahnya dan mendapati Mia berlari menghampirinya. Mereka berdua baru saja tiba di kantor dan masih diparkiran. "Kita masuk sama-sama." Ucap Mia yang kemudian dibalas anggukan oleh Frans.


"Kenapa matamu hitam seperti panda? Apa kau kurang tidur?" Tanya Frans melihat lingkaran hitam di mata Mia.


"Semalam aku begadang sampai jam 2 pagi. Drama yang aku suka tayang semalam, jadi aku tidak bisa melewatkannya. Saat ada waktu luang akan aku kompres dengan es batu. Sudahlah, ayo masuk, kita ada rapat penting hari ini."


Frans mengacak rambutnya frustasi. "Ini semua karena, Nona. Jika saja dia tidak mengambil cuti, pasti pekerjaanku tidak akan menumpuk seperti ini. Jika begini terus, bisa-bisa aku menjadi tua sebelum waktunya."

__ADS_1


"Jangan mengeluh terus, hidup hanya sekali, jadi nikmati saja." Ucap Mia menimpali. Mia menyeret Frans sebelum pria itu semakin banyak mengeluh. Telinganya sakit, mendengar keluhan Frans yang tidak ada habisnya.


-


Vivian membawa Kakek Xi jalan-jalan ke bukit yang ada di belakang Mansion mewahnya untuk menikmati angin pagi yang masih segar.


Kakek Xi menolak untuk memakai kursi roda dan memilih berjalan kaki, meskipun kedua matanya tidak bisa melihat, tapi dia bisa berjalan dengan normal dengan bantuan tongkat untuk mengarahkan jalan.


Dan setelah berjalan cukup jauh. Akhirnya mereka memutuskan untuk duduk di atas hamparan rumput hijau di atas bukit. Vivian membantu Kakek Xi untuk duduk.


"Kakek, apa kau bisa merasakan angin di sini? Bukanlah sangat sejuk?" Ucap Vivian sambil menatap pria tua disampingnya. "Sayang sekali ya, danaunya sudah tidak ada. Padahal dulu ada danau yang sangat indah di sini." Ucap Vivian, mimik mukanya berubah sedih.


"Kau pernah datang ke tempat ini sebelumnya?"


Vivian mengangguk. "Pada saat itu usiaku masih 10 tahun. Kebetulan tempat ini cukup dekat dengan rumah lama mendiang Nenek dan Kakekku. Karena tidak hati-hati, aku terjatuh dan terpeleset ke dalam danau. Karena tidak bisa berenang, aku nyaris saja tenggelam."


"Nah, tiba-tiba ada seorang pemuda yang entah dari mana datangnya, tiba-tiba melompat ke dalam air dan menolongku. Delapan tahun kemudian aku kembali bertemu dengannya, dan ternyata pemuda yang menolongku itu adalah Kevin." Ujar Vivian panjang lebar.


Kakek Xi menggeleng. "Kakek rasa pemuda itu bukan Kevin, Vi. Tapi Lucas, karena sejak kecil Kevin tidak bisa berenang. Karena seingat Kakek, hanya Lucas yang pernah melompat ke dalam danau itu untuk menyelamatkan gadis kecil yang nyaris tenggelam." Tutur Kakek Xi memaparkan.


"A..Apa, jadi sebenarnya yang menolongku hari itu adalah Lucas?" Pekik Vivian tak percaya. Sekali lagi Kakek Xi mengangguk.


Vivian terdiam, dia harus memastikannya. Benar itu adalah Lucas atau bukan, karena pemuda yang dulu pernah menolongnya terluka di bahu kirinya karena duri bunga. Vivian harus mencari tahunya setelah mereka turun bukit.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2