CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY

CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY
Perkelahian Sengit


__ADS_3

Perkelahian hidup dan mati antara Lucas dan Ariel tidak bisa terhindarkan lagi. Serangan demi serangan Ariel berikan pada Lucas secara membabi buta, mereka berkelahi tidak hanya dengan tangan kosong, tapi dengan senjata ditangan masing-masing.


Dibarengi pekikan, tubuh Ariel meluncur dengan gerakan yang cepat. Ariel harus mengerahkan seluruh kepandaian untuk menghadapinya. Pertarungan berlangsung seru dan mendebarkan. Benturan antara Belati dan samurai terdengar setiap kali keduanya bergerak, namun itu di awalnya saja.


Saat Lucas mulai menggunakan pistol ditangan kirinya, Ariel pun semakin tidak bisa berkutik, gerakan begitu seirama antara kedua tangan pria itu yang memegang senjata, membuat lawannya semakin terpojok.


Trang!


Benturan dari kedua besi tajam untuk kesekian kalinya. Suaranya yang nyaring membuat bulu kuduk siapa pun akan langsung berdiri ketika mendengarnya.


Gerakan Lucas lebih cepat lagi merubah posisi. Dia kini sudah memegang pistol ditangan kirinya langsung mengacungkan pistol kearah perut Ariel. Dengan sangat cepat pria itu membabat tangan kiri Lucas, tapi sayangnya Lucas lebih cepat lagi, benda tajam ditangannya diputar mengikuti arah gerakan tangan Ariel.


Wutt!


Sett!


Belati ditangan Lucas sempat menggores cukup dalam tangan Ariel dan membuat senjata ditangannya terlepas.


Dorrr!


Meski Ariel sempat berkelit, tapi peluru yang Lucas lepaskan mengenai bahu kirinya. karena sepertinya sudah terlatih, rasa sakit pada bahu dan tangannya masih bisa ia abaikan.


Karena Ariel kini tak punya senjata di tangannya, ia mau tak mau harus menghadapi Lucas yang masih bersenjata lengkap dengan tangan kosong.


Sosok pria berambut merah itu menatap Lucas dengan tatapan tak terbaca, ia benar-benar kagum dengan sosok didepannya itu.


Ariel merasa kalau ia masih jauh dibawah Lucas. Ia menyesal terlalu percaya diri sehingga ia menerima tantangan Lucas untuk berkelahi sampai ada yang mati salah satu. Dan jika seperti ini terus, bisa-bisa dia yang mati terbunuh.


Lucas kembali menerjang, namun Ariel rupanya masi cukup gesit. Gerakan tangan pria itu yang memegang pedang ternyata tidak kalah cepat dengan perubahan gerak lawannya. Tidak disangka jika Lucas memiliki lawan yang hampir sepadan dengannya.


Settt!

__ADS_1


Plakk!


Bacokan senjata Lucas dapat ditahan oleh Ariel dengan menahan lengan Lucas. Lucas melepaskan pedangnya dan membiarkan jatuh ketanah.


Tapi sebelum jatuhan belati itu sampai ketanah, tangan kiri Lucas dengan cepat menangkap gagang belatinya dan menyabetkan ke perut Ariel. Dan dia tidak bisa menghindarinya.


Srettt!


Pakaian Ariel pada bagian perut robek. Tidak hanya itu, dia juga merasakan perih pada bagian perutnya. Ariel memegangi perutnya yang terasa perih dan menyaksikan telah ada liquid merah di telapak tangannya. Sekali lagi Lucas berhasil melukainya.


Tubuh Ariel terhuyung kebelakang. Semakin lama dia merasakan pusing yang luar biasa pada kepalanya. Kedua matanya pun terasa berkunang-kunang, tiba-tiba semuanya menjadi gelap, selanjutnya tubuh ambruk dan terkulai di tahan dengan perut yang terus mengeluarkan darah.


Luka diperutnya agak menghitam yang menandakan jika ada racun pada belati Lucas. Pria itu menyeringai, untuk menumbangkan seekor bintang buas, memang membutuhkan tehnik khusus. Dengan menggunakan racun salah satunya, dan hal tersebut baru saja dia terapkan pada Ariel.


"Dia akan mati dalam beberapa menit. Segera buang mayatnya sejauh mungkin. Aku tidak ingin ada jejak apapun ditempat ini." Ucap Lucas dan pergi begitu saja.


Menang bukan berarti tubuh Lucas lolos dari luka. Bahkan beberapa luka bekas sabetan benda tajam menghiasi tubuh dan wajahnya. Yang menimbulkan rasa perih luar biasa. Dan mungkin saja setelah ini Vivian akan histeris melihatnya terluka seperti ini.


Vivian tak henti-hentinya menangis melihat beberapa luka yang menghiasi tubuh suaminya. Bahkan wajah tampannya pun dihiasi luka, darah segar yang keluar dari lukanya Vivian seka dengan sapu tangan.


"Sampai kapan kau akan menangis sesenggukan seperti ini, Xi Vivian?!" Ucap Lucas sambil menghapus lelehan bening yang mengalir dari pelupuk mata Vivian.


"Hiks, dasar manusia tak berhati, jelas-jelas aku menangis karena sedih melihatmu seperti ini!! Tapi kau malah mengomeli ku, hiks...Kau keterlaluan, Ge."


Lucas mendengus geli. "Baiklah, aku minta maaf. Aku hanya geli saja melihatmu menangis seperti bocah!! Dan bisakah sekarang kau melanjutkannya?" Vivian mengangguk.


Vivian melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Setelah membersihkan darah pada luka-lukanya, kemudian dia menutupnya dengan perban. Seharusnya Lucas pergi ke rumah sakit. Karena beberapa lukanya perlu dijahit, tapi dia malah menolaknya.


Selain membebat dada dan lengan kiri atasnya, perban juga terlihat melilit kening Lucas, dan kasa menutup luka di tulang pipi kirinya.


"Lalu bagaimana dengan para penyerang itu?"

__ADS_1


"Mereka tidak ada yang selamat, aku sudah meminta Tao dan Kai untuk membereskannya. Jasad mereka dibuang ke jurang supaya tidak meninggalkan jejak apapun." Tuturnya.


"Lalu bagaimana nasib orang yang berkelahi denganmu? Apa dia berhasil selamat dan melarikan diri?!" Tanya Vivian penasaran.


"Dia mati, tentu saja. Aku tidak mungkin membiarkan mereka yang berani masuk kemari keluar dalam keadaan hidup-hidup!!"


Vivian bergidik sendiri mendengar jawaban Lucas. Sepertinya di mata suaminya ini nyawa manusia tidak ada artinya. Dan Vivian tidak tau seberapa banyak nyawa yang telah melayang sia-sia ditangan Lucas.


Kedua tangannya selalu berlumur darah orang lain. Lucas seperti mesin pembunuh, atau mungkin dia adalah reinkarnasi dari Dewa pembunuh? Vivian menggeleng, tidak berlebihan seperti itu juga pastinya.


"Sebaiknya segera ganti pakaianmu, setelah ini sebaiknya kau tidur saja."


"Kenapa buru-buru memintaku untuk tidur? Apa kau tidak ingin bercocok tanam dulu denganku?" Lucas menyeringai melihat wajah memerah istrinya.


Dengan kesal Vivian meninju dada Lucas yang tidak terluka. "Dasar mesum." Ucapnya dan berlalu begitu saja. Lucas terkekeh, melihat wajah memerah istrinya membuatnya gemas sendiri.


Kemudian Lucas berbaring menggunakan kedua lengannya sebagai bantalan kepalanya. Wajahnya menghadap langit-langit kamar, seulas senyum tipis tersungging di sudut bibirnya. Pria itu mengurai senyum tipis.


Hatinya terasa menghangat, Vivian benar-benar berhasil membuatnya merasakan kehangatan yang sudah lama tak pernah dia rasakan.


"Ge, apa kau mulai tidak waras? Aku perhatikan dari tadi kau senyum-senyum sendiri. Atau mungkin karena kepalamu habis terbentur sesuatu, makanya kewarasan mu sedikit berkurang?!" Ucap Vivian yang langsung mendapatkan jitakan keras dari Lucas.


"Sembarangan!! Apa kau suka memiliki suami yang setengah gila. Aku tersenyum karena aku bahagia, kau tau..Sejak mengenalmu aku seolah menemukan jati diriku yang telah lama hilang. Kau membawa banyak sekali perubahan besar dalam hidupku, Vi. Dan aku tidak tau bagaimana hidupku jika malam itu tidak bertemu denganmu. Mungkin aku tetap akan kehilangan arah dan menjadi monster yang mengerikan!!"


Vivian menangkup wajah Lucas dan mengunci sepasang manik matanya. "Ge, kita sudah ditakdirkan untuk bersama, dan Tuhan pasti sudah merencanakan ini untuk kita. Dan aku yakin pertemuan kita malam itu bukanlah sebuah kebetulan semata, melainkan karena takdir yang telah ditentukan oleh Tuhan untuk kita."


"Takdir Tuhan?! Ya, mungkin saja. Ini sudah tengah malam, sebaiknya kita tidur. Kepalaku amat sangat pusing." Ucap Lucas yang kemudian dibalas anggukan oleh Vivian.


"Baiklah."


-

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2