CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY

CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY
Hantu Nyasar


__ADS_3

"Oh Sial!!"


Lucas mengumpat tajam saat merasakan ngilu pada bahu kirinya, bahu kirinya yang tertembak kembali mengeluarkan darah karena terlalu memaksakan diri untuk melakukan hubungan intim dengan Marisa.


Akhirnya permainan mereka pun berhenti di tengah jalan. Meskipun kecewa, tapi Marisa mencoba untuk mengerti, bagaimana pun Lucas masih dalam keadaan sakit.


"Aku akan memanggil suster." Ucap Marisa yang kemudian di balas anggukan oleh Lucas.


Wanita itu meninggalkan ruang inap Lucas dan pergi menemui suster jaga. Bagaimana pun juga perban di bahu kiri Lucas harus di ganti.


Perhatian Lucas teralihkan oleh suara dering pada ponsel Marisa. Dengan menggunakan tangan kanannya. Lucas mengambil benda tipis super canggih itu. Nama Vincent menghiasi layar ponselnya yang menyala terang.


Penasaran siapa Vincent dan kenapa dia menghubungi Marisa. Lucas memutuskan untuk menerima panggilan tersebut.


"Bibi, kenapa lama sekali kau mengangkatnya? Bibi, sebenarnya kau ada dimana? Kenapa tidak pulang? Huaaa.. Kami takut, ada hantu gila yang nyasar kemari dan dia mengajak kami berdua untuk kenalan."


Lucas memicingkan matanya. 'Bibi' itu artinya laki-laki bernama Vincent itu adalah keponakan Marisa. Dan tanpa mengatakan apapun, Lucas memutuskan sambungan telfon tersebut.


Marisa datang bersama seorang perawat. Dia hendak memeriksa luka di bahu kiri Lucas. Setelah membetulkan jahitannya yang terlepas. Kemudian suster itu menutupnya kembali dengan perban dan meminta supaya Lucas tidak banyak bergerak.


"Baiklah Tuan, Nyonya, saya permisi dulu."


Selepas kepergian Suster itu. Di dalam ruangan hanya memisahkan Lucas dan Marisa.


"Tadi ada yang menghubungimu, kontak namanya Vincent. Dia memintamu untuk pulang, katanya mereka ketakutan karena ada hantu gila yang mengganggu dan mengajak kenalan."


"Kau menerimanya?" Lucas mengangguk."Lalu apa saja yang dia katakan?"


"Tidak ada, dia hanya memintamu untuk pulang. Katanya takut karena ada hantu nyasar."


"Hantu nyasar?! Ada-ada saja mereka. Mana mungkin ada hantu di jaman modern seperti ini?!" Ucap wanita itu. Marisa menatap Lucas, pria itu mengangkat bahunya, tanda tidak mengerti.


"Sebaiknya kau pulang saja, aku tidak apa-apa sendirian di sini. Mungkin saja memang ada hantu beneran yang datang dan mengganggu mereka."

__ADS_1


"Kau yakin? Lagipula mana mungkin aku bisa meninggalkanmu sendirian dalam keadaan seperti ini. Di rumah sudah banyak orang. Seharusnya tidak masalah meskipun aku tidak pulang."


"Terserah kau saja."


Dan akhirnya Marisa memilih tetap berada di rumah sakit menemani Lucas. Pemuda itu juga tidak menolaknya, dia mengijinkan Marisa untuk bermalam di rumah sakit bersamanya.


.


Marisa terbangun. Dan jam dinding baru menunjuk angka 03.00 dini hari. Wanita itu baru saja bermimpi buruk. Bagus dia tidak histeris dan membangunkan Lucas yang sedang tertidur pulas.


Wanita itu kembali mengalami mimpi buruk. Mimpi buruk yang selalu menghantuinya hampir setiap malam. Mimpi buruk yang ingin sekali Marisa hilangkan dari setiap malamnya, tapi selalu tidak bisa.


Wanita itu menyibak jasnya yang dia pakai untuk selimut kemudian beranjak dan berjalan menuju jendela kaca yang berada di samping kanan ranjang inap Lucas.


Malam ini langit terlihat lebih cerah dari malam-malam sebelumnya. Bintang-bintang bertaburan menghiasi langit malam yang gelap.


"Marisa, hiduplah dengan baik Nak. Maafkan Mama dan Papa karena tidak bisa selalu berada di sisimu!!"


Marisa menutup matanya saat kata-kata sang ibu kembali memenuhi pikirannya. Itu adalah kata-kata terakhir yang dia katakan sebelum Ibu, Ayah dan seluruh keluarganya pergi ke luar negeri.


"Noona, apa yang kau lakukan di sana? Kenapa tidak tidur?" Tegur Lucas saat melihat Marisa berdiri di depan jendela padahal ini masih malam.


"Jika sudah terbangun, aku akan sulit untuk tidur lagi. Kenapa? Apa kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Marisa yang kemudian di balas gelengan oleh Lucas. "Kalau begitu tidurlah lagi, kau harus banyak istirahat supaya kondisimu bisa segera membaik."


"Bagaimana aku bisa tidur lagi jika Noona saja masih tetap terjaga."


Marisa tersenyum. "Jadi kau ingin menemani Nonna?" Ucapnya sambil menghampiri Lucas.


Lucas menarik lengan Marisa dan menempatkan wanita itu dipangkuan nya. Sebelah lengan Marisa mengalung pada leher Lucas. "Kau benar-benar cantik, Noona. Tidak salah jika banyak pria yang tergila-gila padamu." Ucap Lucas lalu mengecup singkat bibir wanita di depannya.


"Dasar tukang gombal, bagus kau sedang sakit. Jika tidak, pasti aku sudah membuatmu begadang sampai pagi."


"Kita bisa melakukannya setelah aku keluar dari tempat sialan ini." Lucas mencium bibir

__ADS_1


Marisa sekali lagi, dan ciuman kali ini tentu lebih panjang dan lebih menuntut dari ciuman mereka yang sebelumnya. Sebelah tangan Lucas menekan tengkuk Marisa, dan semakin memperdalam ciumannya.


Lidah Lucas mengetuk bibir Marisa, mencoba mendapatkan akses lebih. Seolah tau apa yang Lucas inginkan. Marisa membuka mulutnya, dan saat itu Lucas memasukkan lidahnya ke dalam mulut wanita itu.


Lucas menyapu rongga mulut Marisa dengan lidahnya, mengabsen satu persatu gigi putihnya yang berjajar rapi. Sesekali Marisa membelitkan lidahnya pada lidah Lucas, bahkan mereka saling bertukar Saliva.


Dan ciuman mereka berakhir karena kebutuhan oksigen yang mulai mengambil alih. Mereka mengakhiri ciuman panasnya dengan sebuah kecapan keras.


"Ayo kita tidur," Marisa mengangguk. Kali ini mereka tidur di satu ranjang yang sama. Tempat tidur Lucas terlalu besar untuk dia pakai sendiri.


-


Alan memijit pelipisnya yang terasa pening. Dia di buat pusing oleh saham perusahaannya yang kembali mengalami penurunan, setelah VL Group membatalkan kerja sama dengan perusahaannya.


Pria itu tidak tau apa alasan utama VL Group membatalkan kerja sama itu secara sepihak. Dia masih belum mendapatkan kejelasan, Alan mencoba untuk bertemu langsung dengan CEO nya, tapi selalu gagal. Karena hanya Asistennya yang selalu datang menemuinya.


"Presdir, para karyawan sedang melakukan demo dan setengah dari mereka memutuskan untuk mogok kerja jika gaji bulan ini tidak segera dibayarkan dengan lunas!!"


"Aku tidak tuli dan aku tidak amnesia. Berapa kali kau mengatakannya padaku, hah?! Aku pasti akan membayarnya, tapi tidak bisakah mereka memberikan sedikit kelonggaran?!"


"Perusahaan ini sedang mengalami masalah yang serius. Dan mereka malah demi minta pelunasan gaji!! Dimana simpatik mereka pada perusahaan ini?!"


"Soal itu mereka tidak kau tau, Presdir. Yang penting bagi mereka adalah pembayaran gaji yang lengkap!!"


"Brengsek!! Kenapa semua orang selalu bersikap kejam padaku?! Beritahu pada mereka jika aku pasti akan membayar lunas gaji mereka, tapi tidak hari ini. Satu Minggu lagi, jika mereka tidak sabar dan masih ngotot, langsung pecat saja!!"


"Tapi Presdir~"


"Atau kau ingin aku pecat juga?!"


Pria itu menggeleng. "Baik, Presdir. Akan saya laksanakan perintah Anda. Kalau begitu saya permisi dulu."


"Nah gitu dong. Begitu saja tidak bisa, dasar bodoh!!"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2