CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY

CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY
Pertemuan Vivian Dan Kakek Xi


__ADS_3

Vivian menuruni tangga dengan anggunnya. Tubuh rampingnya dalam balutan gaun hitam sepanjang mata kaki, setengah lengan. Rambut panjangnya di biarkan tergerai dan jatuh di atas punggungnya.


Wanita itu menghampiri Lucas yang sedang berbincang dengan seseorang melalui panggilan telfon. Dari mimik mukanya, terlihat jelas jika dia sedang serius. Dan Lucas baru memutuskan sambungan telfonnya setibanya Vivian di sana.


"Telfon dari siapa, Ge?" Tanya Vivian penasaran.


"Alex, dia baru saja menghubungiku dan mengatakan jika Bima diculik dan dibawa pergi oleh tiga orang yang menyamar sebagai perawat." Jelasnya.


Vivian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dan melihat ekspresi Vivian membuat Lucas sangat yakin jika istrinya ini mengetahui sesuatu. "Jangan bilang jika kau terlibat." Ucap Lucas sambil menatap Vivian penuh selidik.


"Sebenarnya perawat itu adalah aku dan si kembar. Kami bertiga yang membawa Bima pergi dari rumah sakit. Aku marah dan tidak terima karena dia, kau menjadi seperti ini. Karena dia juga kita nyaris saja berpisah."


"Dan bukan hanya itu, Bima sudah membuat kita kehilangan janin di dalam rahimku. Itulah kenapa aku ingin memberinya pelajaran dengan tanganku sendiri!!" Ujar Vivian mengepalkan tangannya. Sepasang Hazel nya berkilat tajam penuh emosi.


Mata itu berkaca-kaca. Lucas mendesah berat, pria itu menarik bahu Vivian dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Lucas bisa merasakan apa yang Vivian rasakan saat ini, jika dia berada di posisinya, Lucas juga akan melakukan tindakan yang sama.


"Aku mengerti apa yang kau rasakan, Sayang. Tapi tidak seharusnya kau bertindak sampai sejauh ini. Bagaimana jika anak buah bajingan itu tidak terima dan memburu kalian bertiga, aku memang belum mengambil tindakan apa-apa lagi untuk Bima. Tapi bukan berarti aku melepaskannya." Tutur Lucas panjang lebar


Kemudian Lucas melepaskan pelukannya. Biner mata kanannya menatap Vivian dengan sendu. "Jika saja hari itu aku tidak pergi dan tetap berada di sisimu. Pasti kita tidak akan kehilangan dia. Tapi aku tau, kau membutuhkan waktu untuk sendiri. Tapi ternyata aku telah mengambil keputusan yang salah." Ujar Lucas penuh sesal.


Vivian menggeleng. "Tidak ada gunanya membahas masa lalu. Toh semua sudah terjadi, disesali juga percuma. Sebaiknya kita tata masa depan yang lebih cerah." Tutur Vivian yang kemudian dibalas anggukan oleh Lucas.


Lucas menarik bahu Vivian dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Mendekap tubuh sang dara dengan erat, memberikan rasa hangat yang tidak mungkin bisa Vivian dapatkan dari orang lain.


"Ge, aku lapar. Biasakan kita makan malam sekarang." Rengek Vivian sambil memegangi perutnya.

__ADS_1


Lucas mengangguk. "Tentu." Keduanya kemudian berjalan beriringan menuju meja makan.


.


Usai makan malam. Vivian mengajak Lucas pergi jalan-jalan keluar. Dia bosan jika harus berada di rumah sepanjang waktu. Apalagi semenjak dia mengambil cuti, dan urusan kantor Vivian serahkan pada Frans serta Mia. Dia percaya pada asisten dan sekretarisnya tersebut.


"Eo, Ge. Ini rumah siapa? Kenapa kita datang ke sini?" Tanya Vivian penasaran. Kemudian dia mengangkat wajahnya dan menatap Lucas penuh tanya.


"Kakek ingin bertemu denganmu. Makanya malam ini aku membawamu datang kemari, aku yakin kau pasti mengingatnya. Karena dulu Kevin sering membawamu datang menemuinya, tapi di mansion lama keluarga Xi."


"Jadi ini adalah mansion utama keluarga Xi?" Lucas mengangguk. "Betul juga, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan kakek. Apa kabarnya dia, sudah 10 tahun. Tidak disangka jika dia masih mengingatku." Ujar Vivian sambil meletakkan jarinya di depan bibir.


Vivian terkejut saat merasakan tangan besar Lucas menggenggam jari-jarinya dengan hangat. Namun detik berikutnya sudut bibirnya tertarik ke atas. Ia dan Lucas berjalan beriringan masuk ke dalam.


Kedatangan mereka disambut oleh seorang pria paruh baya yang Vivian kenal sebagai Paman kacamata, karena dia selalu memakai kacamata. "Eo, Paman kacamata." Seru Vivian. Pria itu tersenyum dan kemudian membungkuk pada Nyonya Muda itu.


Vivian tersenyum lebar. "Ya, sudah 10 tahun." Jawab Vivian.


"Dimana Kakek? Apa dia sudah tidur?" Tanya Lucas pada pria di depannya itu. Paman Kim menggeleng, kemudian memberitahu Lucas jika Kakek Xi ada di kamarnya dan menunggu kedatangan mereka berdua. "Kami masuk dulu." Lucas dan Vivian melewati pria itu begitu saja.


Vivian sudah mendengar bagaimana keadaan Kakek Xi saat ini dari Lucas. Kakek dua cucu itu mengalami kebutaan karena penyakit yang dia derita. Dan Vivian sangat prihatin dengan keadaan Kakek Xi saat ini. Pasti dia sedih dengan keadaannya itu, diusia senjanya dia malah tidak bisa melihat apa-apa.


-


Kabar tentang kedatangan Lucas dan Vivian telah sampai ke telinga Kakek Xi. Pria tua itu sangat senang mendengar kedatangan Cucu dan Cucu menantunya. Apalagi sudah sangat lama dia ingin bertemu dengan Vivian.

__ADS_1


Kakek Xi telah menyiapkan sesuatu untuk Cucu menantunya itu. Dan itu adalah sebuah perhiasan turun temurun yang diberikan kepada Menantu keluarga Xi sejak jaman nenek moyangnya dulu. Dan rencananya, hari ini Kakek Xi Akan memberikannya pada Vivian.


"Kakek, kami datang." Seru Lucas setibanya mereka di dalam.


"Lucas, apa Vivian ada bersamamu juga?" Tanya Kakek Xi begitu bersemangat.


Kemudian Kakek Xi merasakan jika tangannya di genggam oleh jari-jari lentik seorang perempuan. "Iya, Kakek. Vivian disini." Jawab Vivian membenarkan.


"Vivian, Kakek sangat merindukanmu." Kemudian Kakek Xi memeluk Vivian. Saking bahagia nya, dia sampai menitihkan air mata. Vivian melepaskan pelukannya dan menatap Kakek Xi dengan sendu. Dia sungguh sedih melihat keadaan Kakek saat ini. "Bagaimana keadaan, Kakek? Apa Kakek baik-baik saja?"


"Seperti yang kau lihat, Sayang. Kakek sangat baik." Ucapnya.


"Vivian senang mendengarnya." Wanita itu tersenyum.


"Oya, Kakek memiliki sesuatu untukmu. Lucas, tolong ambilkan kotak merah di atas meja itu lalu berikan pada Vivian. Vi, Kakek harap kau mau menyimpannya. Itu adalah perhiasan turun temurun keluarga kita. Dan karena kau adalah menantu terakhir generasi ke empat, jadi Kakek berikan perhiasan ini padamu."


Vivian menatap Lucas, pria itu mengangguk. Mengisyaratkan supaya Vivian mau mengambil dan menyimpan perhiasan tersebut. "Baiklah, Kakek. Aku akan menyimpannya, terimakasih karena sudah memberikan perhiasan ini padaku."


Kakek Xi mengangguk sambil tersenyum."Sama-sama, Sayang. Sebaiknya malam ini kalian menginap saja. Ini sudah malam, dan Kakek harap kalian tidak keberatan."


Lucas menggeleng. "Tentu saja tidak, Kek. Baiklah, malam ini kami berdua akan menginap dan bermalam di sini. Ini sudah malam, sebaiknya Kakek cepat tidur. Vivian juga sudah lelah," ucap Lucas. Kemudian pria itu mengajak Vivian meninggalkan kamar Kakek Xi.


Sebenarnya bukan hanya Vivian yang lelah. Tapi Lucas juga, ditambah mata kirinya yang sedari tadi berdenyut sakit. Dan itu malah membuat kepalanya ingin pecah. Mungkin dia memang harus tidur lebih awal.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2