
Seorang wanita dan dua pemuda berpakaian perawat, terlihat meliukkan tubuhnya menuju sebuah ruangan dimana beberapa pria berpakaian formal dan bersenjata menjaga di depan pintu ruangan tersebut.
Dua diantaranya menghadang langkah mereka bertiga. "Kami adalah perawat yang ditugaskan untuk memeriksa, Tuan Bima. Perawat yang biasa memeriksanya sedang sibuk, jadi Dokter Kim meminta kami untuk menggantikannya." Ujar perawat wanita itu.
Akhirnya mereka pun diberi jalan dan diijinkan untuk masuk ke dalam. Seringai tajam tercetak dibibir wanita itu. Kemudian dia memberi kode pada kedua pemuda yang ikut bersamanya untuk mengunci pintu.
Lalu wanita itu melepaskan maskernya dan menghampiri Bima yang sedang terbaring di atas ranjang inapnya. Seringai kembali tercetak di bibir merah itu. "Apa kabar, Tuan Bima Hotman. Kita bertemu lagi." Ucap wanita itu yang pastinya adalah Vivian.
"Kau!!!" Bima memekik.
"Kenapa?! Sepertinya Anda terkejut melihat kedatangan saya, Tuan Hotman?!" Vivian kembali menyeringai.
"Mau apa kau datang kemari?" Tanya Bima was-was.
"Mau apa ya?! Tentu saja memberi pelajaran pada bajingan sepertimu!!" Balas Vivian dengan sorot mata tajam dan berbahaya. "Apa yang sudah kau lakukan pada suamiku, hari ini aku akan membuatmu membayarnya dengan lunas!!!"
"A..Apa maksudmu?! Kau, bukankah sudah bercerai dengan Lucas?!"
Vivian menyeringai untuk yang kesekian kalinya. "Kenapa kau sangat berharap aku dan suamiku bercerai?! Kami memang hampir berpisah, dan itu karena dirimu!! Dan kedatanganku kali ini untuk mengambil apa yang telah kau ambil dari suamiku!!"
"Sebenarnya apa yang kau inginkan?!"
"Bola matamu!!! Tidak adil jika hanya suamiku yang cacat, memang sih kau sudah menjadi pria tidak berguna sekarang. Tapi sayangnya kau masih memiliki anggota tubuh yang bisa berfungsi dengan sangat baik. Kedua matamu!! Aku menginginkan itu!!!"
"Dasar wanita gila!!!"
"Hahaha!!!" Vivian tertawa keras.
__ADS_1
Suaranya menggema memenuhi di setiap sudut ruangan. Beruntung ruangan itu kedap suara, jadi tawa Vivian tak sampai ke telinga orang-orang yang berdiri diluar ruangan. Karena jika mereka sampai mendengarnya, pasti akan terjadi pertumpahan darah.
"Vincent, Mark, ikat dia dan masukkan tubuhnya ke dalam kotak yang sudah kalian siapkan." Perintah Vivian pada kedua pemuda itu.
"Oke, Bibi!!"
"Kalian mau apa?! Kalian mau membawaku kemana?!"
"Tenang saja, Paman. Jangan panik begitu, kami tidak akan membawamu kemana-mana kok. Cuma berlibur dan tamasya ke Neraka. Hahaha....!!!"
"Yakk!! Iblis kalian semua. Vivian Valerie, aku pasti akan membunuhmu!!!"
Vivian tersenyum meremehkan. "Bahkan untuk bergerak saja kau tidak bisa, bagaimana kau akan membunuhku?! Bagus suamiku hanya membuat kaki dan tanganmu cacat, tapi sayangnya hatiku tidak selembut itu dan membiarkan orang sepertimu tetap hidup dan bernapas dengan bebas di dunia ini!!!"
"Kau harus membayar mahal untuk semua kejahatan yang kau lakukan padaku dan Lucas. Karena dirimu, aku kehilangan suamiku. Karena dirimu, aku kehilangan calon anakku. Dan karena dirimu pula mata kiri suamiku menjadi cacat!!" Ujar Vivian. Sorot matanya berubah tajam dan berbahaya.
"Kenapa kau menyalahkan ku?! Itu semua karena kebodohanmu sendi~" Bima tidak melanjutkan ucapannya karena Mark yang memasukkan segenggam sambal ke dalam mulutnya.
Bima terus mengeluarkan suara dengan mata yang melotot sempurna. Vivian memberi kode pada keduanya, Mark dan Vincent mengangguk mengerti.
Setelah mengikat tubuh Bima dan memasukkannya ke dalam karung, kemudian tubuh pria itu di pindahkan ke dalam kotak yang disembunyikan di kereta dorong tempat obat. Selanjutnya urusan Bima dia serahkan pada si kembar, dan Vivian tidak tau bagaimana nasib pria itu setelah ditangan mereka berdua.
-
"Aaarrrkkhh!!! Kenapa dia tidak mengangkat panggilanku sih?!"
Lucas mengeram kesal karena tak ada satu pun panggilannya yang diangkat oleh Vivian. Sudah lebih dari 10 kali Lucas mencoba menghubunginya, tapi tak satupun yang diangkat oleh istrinya itu. Bahkan pesannya pun juga tidak ada yang dibuka apalagi dibaca oleh Vivian.
__ADS_1
Lucas tidak tau apa yang sebenarnya sedang Vivian lakukan di luar sana. Baru saja Lucas hendak pergi keluar untuk mencarinya, tapi suara decitan pada pintu kamar mengalihkan perhatiannya. Vivian masuk dengan membawa beberapa barang ditangannya.
"Darimana saja kau?! Kenapa tak satu panggilanku ada yang kau angkat, dan pesanku dibaca?!" Sebuah pertanyaan meluncur begitu saja dari bibir Lucas, setibanya Vivian di dalam kamar.
Vivian tidak menjawab, jarinya menunjuk sebuah ponsel yang tergeletak di atas meja."Jadi dari tadi ponselmu ada di rumah?!" Lucas menatap Vivian tak percaya. Wanita itu mengangguk. "Lalu pergi kemana kau hampir setengah hari ini?!" Lucas menatap Vivian penuh selidik.
"Pulang sebentar. Aku tidak mau rumahku di sulap jadi club' malam lagi oleh bocah-bocah Badung itu. Dan sebelum pulang aku menyempatkan diri untuk mampir sebentar di pusat perbelanjaan. Maaf, Ge. Sudah membuatmu khawatir." Ucap Vivian penuh sesal.
Lucas mendengus. Dia menarik lengan Vivian lalu membawa wanita itu ke dalam pelukannya. "Seharusnya kau memberitahuku jika ingin pergi kemana pun, apa kau tau bagaimana panik dan frustasinya aku karena tidak bisa menemukan dirimu?!" Lucas menutup mata kanannya dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Vivian.
Vivian tidak mengatakan apapun, hanya pelukannya yang semakin erat. Dan masalah dia pergi menemui Bima, Vivian tidak bisa berterus terang pada Lucas. Karena bisa-bisa Lucas akan marah besar jika dia tau ia pergi menemui pria itu.
Kemudian Lucas melepaskan pelukannya. Iris kanannya mengunci sepasang Hazel milik Vivian. Wanita itu tersenyum lalu beralih memeluk leher Lucas. "Ge, apa tidak ada hadiah untukku?" Vivian menatap Lucas dengan seringai yang tercetak di bibir merahnya.
"Bukan hadiah, seharusnya kau mendapatkan hukuman karena berani membuatku cemas," balas Lucas kemudian membawa bibir Vivian dalam ciuman panjang.
Vivian yang mendapatkan apa yang diinginkan menarik sudut bibirnya, dan dengan senang hati dia membalas ciuman suaminya yang panas dan menuntut.
Posisi mereka tidak lagi berdiri. Lucas memangku Vivian dan memeluk pinggangnya dengan posesif, sebelah tangannya menekan tengkuknya agar ciuman mereka tidak mudah terlepas.
Ciuman mereka berlanjut ke jenjang yang lebih panas lagi. Ciuman Lucas kemudian turun menuju leher jenjang Vivian, des*han dan erangan berkali-kali keluar dari sela-sela bibir merah tipisnya. Ketika Lucas menghisap dan meninggalkan tanda merah kepemilikan di sana.
"Uhhh, Ge. Ahhhh..."
"Teruslah mend*sah seperti itu, Sayang. Aku pastikan setelah ini kau akan merasakan surganya dunia." Lucas menyeringai, sebelum akhirnya kembali membawa bibir Vivian dalam ciuman panjang dan menuntut.
Dan apa yang Lucas lakukan membuat Vivian merasakan basah dan lembab di area Miss nya. Yang sebenarnya sudah basah sejak pertama kali Lucas mencumbunya. Dan mungkin saja setelah ini akan terjadi pergulatan diantara mereka berdua.
__ADS_1
-
Bersambung.