CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY

CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY
Jadilah Kekasihku


__ADS_3

Marisa dan Lucas berjalan beriringan menapaki jalan setapak, diarea Sungai Han. Gemerlap bintang yang bertaburan di atas sana mengiringi setiap langkah kaki mereka.


Sesekali Lucas menatap wanita disampingnya, sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan indah di wajah tampannya. Lalu pandangannya bergulir pada tangan Marisa.


Marisa tersentak, saat merasakan jari-jari besar menggenggam hari jemari lentiknya. Marisa hendak melepaskan genggaman Lucas, tapi tak diijinkan oleh pemuda itu.


"Biarkan seperti ini, Noona."


"Orang-orang memperhatikan kita," Marisa memperhatikan sekelilingnya.


"Siapa yang peduli." Jawabnya acuh.


Mereka berhenti dan kemudian duduk di sebuah kursi panjang, yang ada di bawah lampu jalan. Lucas menatap wanita itu sekali lagi, Marisa terus mengusap lengannya yang terbuka.


Melihat wanitanya kedinginan, tak membuat Lucas tinggal diam. Lucas melepas jasnya lalu menyampirkan pada bahu Marisa. Wanita itu tersenyum lebar. Dia menyukai setiap perhatian yang Lucas berikan padanya.


Kemudian Marisa merapatkan jas Lucas yang tampak kebesaran di tubuhnya. "Noona, bagaimana jika aku adalah seorang Mafia bukanlah Gigolo seperti yang kau ketahui selama ini? Aku bukan pemuda berusia 25 tahun, melainkan pria dewasa berusia 35?"


"Jangan mengatakan omong kosong bocah. Kau pikir aku akan percaya dengan omong kosong mu ini?! Ini sudah larut malam, ayo antar kan aku pulang."


Marisa beranjak dari hadapan Lucas, namun cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkah wanita itu.


Marisa menoleh, sebuah ciuman langsung menyambutnya, disusul pagutan-pagutan lembut yang semakin lama berubah menjadi ciuman panas yang menuntut.


Sebelah tangan Lucas menekan bagian belakang kepala Marisa, sedangkan tangan satu lagi memeluk wanita itu dengan posesif.


Lucas mengakhiri tautan bibirnya lalu menatap Marisa dengan serius. "Jadilah wanitaku Marisa Valerie, bukan hanya sebagai partner ranjang, tapi sebagai kekasihku."


"Bagaimana jika aku menolaknya?"


"Maka aku akan memaksamu!!" Sekali lagi Lucas mencium bibir Marisa, mel"matnya seperti tadi.


Tidak ada penolakan dari Marisa, wanita itu menyambut ciuman Lucas dengan baik. Kedua lengannya memeluk leher Lucas, saat pria itu memeluk pinggangnya dengan posesif.


Dan mereka baru mengakhiri ciumannya, setelah pasukan oksigen mulai mengambil alih. Lucas tersenyum lembut, jari-jari besarnya menghapus sisa liur di bibir Marisa.

__ADS_1


"Ayo, aku antar kau pulang." Marisa mengangguk. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan Sungai Han.


-


Setelah mengantarkan Marisa pulang. Lucas pergi untuk bertemu seseorang. Dia baru saja mendapatkan kabar jika Kakeknya sakit parah dan terus mencarinya.


Kedatangan pemuda itu di sebuah mansion mewah yang memiliki tiga lantai langsung disambut oleh pria dalam balutan pakaian formal. Pria itu membungkuk pada pemuda di depannya.


"Tuan Muda, Anda sudah datang? Mari, Tuan Besar sudah menunggu kedatangan Anda."


Lucas mengangguk. Keduanya berjalan memasuki mansion mewah tersebut, beberapa orang yang berpapasan dengannya langsung membungkuk memberi hormat. Namun Lucas tidak memberikan respon apapun, wajahnya tetap berekspresi datar.


"Silahkan, Tuan Muda."


"Tinggalkan kami, aku ingin bicara berdua saja dengan kakekku."


"Baik, Tuan Muda."


Lucas melirik kebelakang saat mendengar suara pintu di tutup. Kemudian dia menghampiri pria tua yang sedang berbaring di tempat tidur super besar dengan tiang berbahan emas di keempat sisinya.


Lucas meraih tangan pria tua didepannya lalu menggenggamnya. "Iya, Kakek ini aku." Jawab Lucas membenarkan. "Kakek kenapa? Kenapa bisa sampai sakit begini?"


"Kakek merindukanmu, kau adalah satu-satunya keluarga yang Kakek miliki. Cuma kau yang selalu peduli pada Kakek. Tidak seperti Lucas, bocah itu selalu saja kelayapan tidak jelas di luar sana. Tidak pernah mau pulang, hobinya membuat keributan saja."


Lucas mengepalkan tangannya. Inilah yang tidak dia sukai dari kakeknya. Dia selalu membandingkan dirinya dengan saudara kembarnya 'Kevin' padahal Lucas sangat menyayanginya.


Sejak kecil ia dan Kevin selalu dibeda-bedakan. Kakeknya selalu menyebutnya sebagai anak pembawa sial. Tapi Lucas mencoba untuk sabar dan tidak memasukkan ke dalam hati. Dan hal tersebut berlanjut sampai dia beranjak dewasa.


"Kevin, sebaiknya kau nasehati adikmu itu. Biar dia bisa menjadi pria yang benar dan bertanggung jawab. Dia sudah bukan anak kecil lagi, mau jadi apa dia jika hobinya saja mencari keributan terus. Dia selalu mempermalukan keluarga kita!!"


Meskipun hatinya Kesal. Tapi Lucas mencoba untuk bersikap sabar. Dia harus memahami dan mengerti kondisi kakeknya saat ini. Selain sudah tua, dia juga buta.


Selama ini Kevin lah yang selalu merawat si Kakek, tapi sayangnya saudara kembarnya itu meninggal di tangan musuh Lucas. Karena berpikir jika Kevin adalah dirinya.


Lucas mendesah berat. "Maafkan Kevin, Kek. Kevin memiliki banyak alasan kenapa tidak tidak pernah pulang dan menemui mu."

__ADS_1


"Kevin. Kau jangan pergi lagi ya, Nak. Kakek mohon padamu, tetap di sini dan temani Kakek. Kakek tidak mau jauh dan berpisah lagi denganmu. Jangan seperti Berandalan itu, susah diatur!!"


"Kakek cukup!! Sampai kapan kau akan membenci Lucas, memangnya apa salah dia pada Kakek?!"


"Kau tidak akan mengerti, Nak. Kau tidak akan mengerti apa yang Kakek rasakan selama ini. Jika bukan karena bocah sialan itu, pasti orang tuamu masih ada. Dia adalah penyebab kecelakaan itu."


"Jika saja dia tidak merengek dan minta diantar ke taman hiburan, pasti kecelakaan itu tidak akan terjadi. Orang tuamu tidak akan meninggal, dan kau juga tidak akan kehilangan salah satu ginjal mu!!"


"CUKUP KAKEK!!" Bentak Lucas seraya bangkit dari duduknya. "Sudah cukup Kakek menghina dan menyalahkan dia. Jika Kakek masih tidak bisa menerima dan memaafkan Lucas, jangan harap aku akan kembali lagi ke rumah ini!!"


BLAM..


Kakek Xi terlonjak kaget setelah mendengar dentuman keras pada pintu yang dibanting dengan kasar oleh Lucas. Sepertinya Lucas sudah hilang kesabaran dalam menghadapi pria tua tersebut.


Memangnya siapa yang tidak akan sakit hati jika terus-terusan dihina seperti itu. Sesabar apapun manusia, pasti ada batasnya. Begitu pula dengan Lucas.


Sepertinya pulang menemui pria tua itu adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal.


-


"Noona, bagaimana jika aku adalah seorang Mafia bukanlah Gigolo seperti yang kau ketahui selama ini? Aku bukan pemuda berusia 25 tahun, melainkan pria dewasa berusia 35?"


Marisa tidak bisa mengenyahkan apa yan Lucas katakan dari pikirannya. Saat dia bicara, dari cara dia menatapnya, semua tak terlihat seperti sebuah gurauan saja.


Tapi rasanya Marisa tidak percaya jika Lucas bukanlah seorang Gig*lo melainkan Mafia, dan bagaimana mungkin wajah semuda itu ternyata sudah 35 tahun? Semua sungguh tidak masuk akal.


Tapi bagaimana jika itu memang benar? Bagaimana jika Lucas bukan seorang Gigolo melainkan Mafia, tapi kenapa dia harus menipunya dan berpura-pura? Lalu jika dia Mafia, kenapa Lucas sampai harus menyembunyikan identitasnya?


Itu adalah teka-teki yang harus Marisa pecahkan. Dia harus bisa mendapatkan bukti apakah Lucas benar seorang Mafia atau bukan.


"Bocah sialan, aku pasti akan menghabisi mu jika kau sampai berani menipuku!!"


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2