
"Nah, begini kan terlihat bagus."
Marisa menatap puas foto pernikahannya dengan Lucas yang saat ini terpajang dikamar pengantin. Mereka memutuskan untuk kembali ke Seoul setelah menggelar pernikahan yang super mendadak itu.
Lucas membawa Marisa pulang ke tinggalnya dan meminta wanita itu untuk tinggal bersamanya. Dan Marisa menyetujuinya, toh mereka telah resmi menjadi suami-istri, dan sudah menjadi kewajibannya untuk mengikuti suaminya.
Mereka tidak hanya tinggal berdua saja, tapi dengan orang-orang Lucas juga. Dan Marisa tidak merasa keberatan, selama mereka bisa menghargai dirinya sebagai penghuni baru di sana, ia rasa itu tidaklah masalah.
"Nyonya, makan malam sudah siap. Tuan menunggu Anda untuk makan malam." Seorang pelayan menghampiri Marisa di kamarnya. Wanita itu tersenyum dan mengangguk.
"Katakan pada Lucas, aku akan turun 10 menit lagi."
"Baik, Nyonya."
Semua orang di sana sangat menghormatinya dan memperlakukan Marisa dengan sopan. Tidak ada yang berani memandang rendah dia, meskipun beberapa pelayan ada yang tidak menyukainya, karena berhasil meluluhkan hati Lucas.
Setelah mengganti pakaiannya. Marisa meninggalkan kamar dan menghampiri Lucas yang sedang menunggunya di meja makan. Seorang pelayan menarik kursi untuk Marisa lalu mempersilahkan wanita itu untuk duduk.
Marisa tidak merasa heran apalagi aneh, karena setiap hari dia juga diperlakukan seperti ini oleh para pelayan di tempat tinggalnya.
"Apa hanya kita berdua, kenapa kau tidak mengajak beberapa orang kepercayaan mu untuk ikut makan malam bersama kita?" Ucap Marisa bertanya.
"Aku tidak nyaman jika harus satu meja dengan mereka. Mereka adalah kumpulan orang berisik yang tidak tau tata Krama di meja makan sama sekali."
"Hanya itu masalahnya? Bukan karena bos dan anak buah?"
"Di sini tidak ada bos dan anak buah. Yang ada hanya keluarga, tapi untuk urusan makan bersama mereka, itu sebuah pengecualian."
Marisa tidak berkata apa-apa lagi. Dia hanya mengangguk, tanda jika ia telah paham, dan selanjutnya hanya keheningan keheningan. Baik Lucas maupun Marisa tidka ada yang bersuara, mereka sama-sama diam dalam kebisuan.
.
Usai makan malam. Lucas membawa Marisa untuk berkeliling rumah. Sekarang Marisa adalah Nyonya di sana, dan sudah seharusnya dia mengetahui setiap inci dari tempat tinggal barunya.
"Tapi, Lu. Kenapa aku tidak melihat foto keluargamu sama sekali terpajang di rumah ini? Apa kau tidak memiliki foto keluarga?" Tanya Marisa penasaran.
"Ada, tapi di Mansion utama. Jika waktunya sudah tiba, aku akan membawamu untuk bertemu dengan kakekku."
"Kenapa harus menunggu waktu yang tepat? Kenapa tidak sekarang atau besok saja?" Marisa menatap Lucas penasaran.
__ADS_1
"Aku belum memberitahunya jika telah menikah, bisa-bisa Pak Tua itu terkena serangan jantung jika tiba-tiba aku membawamu ke sana dan memperkenalkan mu sebagai istriku!!"
"Benar juga, kenapa aku tidak kepikiran sampai sana. Oya, Lu. Sebenarnya ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu sejak dulu, apa kau putra tunggal dalam keluarga Xi?"
Lucas menggeleng. "Sebenarnya aku memiliki seorang kakak. Tapi dia meninggal 10 tahun yang lalu."
"Ups, maaf.. Sepertinya aku sudah salah bertanya."
"Tidak apa-apa. Apa kau lelah, jika lelah kita bisa istirahat di sini."
Marisa melewati Lucas begitu saja, kemudian dia merebahkan tubuhnya pada sebuah kasur king size yang ada di tengah-tengah kamar.
"Ya, kebetulan sekali aku memang sangat lelah dan ingin istirahat." Ucapnya. Kemudian Lucas menghampiri Marisa lalu duduk disamping wanita itu berbaring. "Kenapa kau menatapku seperti itu?"
Lucas menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihat wajah cantik istriku ini." Seketika muncul rona merah di pipi Marisa, bagaimana bisa Lucas yang biasanya dingin tiba-tiba mengatakan kalimat menggelikan seperti ini?!
Marisa meninju pelan lengan Lucas. "Dasar kau ini. Aku pikir karena apa, dan berhentilah mengatakan kalimat-kalimat menggelikan seperti itu. Kau membuatku jadi salah tingkah." Tuturnya.
Lucas terkekeh geli. Pria itu mendekatkan wajahnya pada Marisa kemudian mengecup singkat bibir ranum merahnya. "Aku lelah, kita pindah ke kamar utama saja." Ucap Lucas yang kemudian dibalas anggukan oleh Marisa.
Keduanya berjalan beriringan meninggalkan kamar tamu dan kembali ke kamar utama. Kamar pengantin mereka berdua.
-
Lalu pandangan wanita itu bergulir pada jam yang menggantung di dinding, dan waktu menunjuk angka 06.30 pagi. Kemudian pandangannya beralih pada sosok tampan yang masih terlelap disampingnya.
Wajah tampannya terlihat damai, seperti bocah yang masih terlihat polos. Sudut bibir Marisa tertarik ke atas. Membentuk lengkungan indah di wajah cantiknya.
Setelah mandi dan berganti pakaian. Marisa membangunkan Lucas, suaminya itu harus mengantarkannya ke kantor. Karena ada rapat dengan beberapa dewan direksi untuk membahas tentang proyek baru VL Group.
"Lu, bangun."
"Ada apa, Vi. Sebentar lagi ya, aku masih ngantuk. Semalam aku hampir tidak bisa tidur."
"Tidak bisa, kau harus segera bangun dan antar kan aku ke kantor. Aku ada meeting penting pagi ini."
"Memangnya kau masih harus bekerja ya? Bukankah masih ada aku yang bisa memberikan nafkah padamu?!"
"Lalu jika aku tidak bekerja, siapa yang akan meneruskan bisnis keluarga ku? Istri paman ku? Sama saja menggiring VL Group menuju jurang kehancuran. Ayolah, Lu. Cepat bangun." Rengek Marisa sambil terus mengguncang lengan terbuka Lucas.
__ADS_1
Pria itu mendengus berat. "Iya, Iya aku bangun. Astaga kenapa kau bawel sekali sih?!" Lucas menyibak selimutnya dan pergi ke kamar mandi. Sedangkan Marisa mengurai senyum penuh kemenangan.
Dia tau Lucas tidak mungkin bisa mengabaikan permintaannya, karena suaminya itu sangat mencintainya.
-
Alan mendatangi perusahaan Marisa dan membuat keributan di sana. Dia memaksa untuk masuk dan bertemu Marisa. Padahal scurity sudah memberitahunya jika Marisa belum datang, tapi Alan tidak percaya.
Diana dan Ibunya memberi tahu jika pemimpin VL Group ternyata adalah Marisa. Alasan Alan ingin menemuinya adalah untuk meminta penjelasan darinya. Marisa harus menjelaskan padanya, apa maksud dia ingin menghancurkan perusahaan milik keluarganya.
"Tuan, sebaiknya Anda pergi sebelum kami bertindak kasar!!"
"Aku tidak akan pergi sebelum wanita itu keluar dan menemui ku!!"
"Ada apa ini?!"
Dan di saat yang tepat. Sosok yang sedari tadi Alan cari pun tiba di kantornya. Marisa menghampiri kedua pria yang sedang bersitegang tersebut.
"Marisa, aku akan membunuhmu!!"
Alan menghampiri Marisa dan hendak memukulnya, tapi tangan pria itu lebih dulu ditahan oleh Lucas. Lucas mendorong Alan hingga tersungkur ke lantai.
"Brengsek, siapa kau dan berani sekali kau memukulku?! Apa kau tidak tau siapa aku?! Atau memang kau sudah bosan hidup, hah?!!" Bentak Alan penuh emosi.
Lucas menghampiri Alan. "Kau ingin tau siapa aku? Baiklah akan ku perkenalkan dirimu, aku adalah Xi Lucas, pemimpin dari organisasi Black Devil!!"
Sontak kedua mata Alan membelalak saking kagetnya. "A..Apa, kau pemimpin Black Devil?" Kaget Alan. Sadar jika yang ada dihadapannya bukan pria sembarangan, akhirnya dia memutuskan untuk pergi.
"Aku akan kembali lain waktu untuk membuat perhitungan denganmu!!" Alan meninggalkan kantor Marisa dan pergi begitu saja.
Wanita itu mendengus berat. Dia menatap punggung Alan yang semakin dengan pandangan meremehkan. Marisa sudah tau Alan pria seperti apa, dia tak lebih dari seorang pengecut.
"Masuklah, aku akan menjemputmu nanti." Ucap Lucas yang kemudian di balas anggukan oleh Marisa.
"Baiklah, aku masuk dulu. Hati-hati di jalan."
Setelah memastikan Lucas sudah pergi. Marisa kemudian berbalik badan dan melenggang memasuki bangunan yang memiliki puluhan lantai tersebut.
Beberapa karyawan membungkuk ketika berpapasan dengannya. Dan Marisa hanya menyikapinya dengan senyum tipis andalannya.
__ADS_1
-
Bersambung.