
"Ge, kenapa pipimu berdarah?!"
Mata Lucas yang sebelumnya tertutup, kembali terbuka karena pekikan keras Vivian ditambah dengan sentuhan pada pipinya yang terluka hingga menimbulkan rasa perih. Lucas menggenggam tangan Vivian lalu menurunkan dari wajahnya.
Lucas menggeleng. Meyakinkan pada Vivian jika dia baik-baik saja. Dan luka itu hanya luka kecil saja. "Tidak perlu cemas, hanya luka kecil saja. Dua tiga hari juga membaik." Ucapnya meyakinkan.
"Iya, tapi luka ini karena apa? Tidak mungkin ada luka tanpa ada sebab yang jelas. Omo!!! Jangan bilang jika kau baru saja terlibat perkelahian dengan seseorang ya?!" Tebak Vivian 100% benar. Dan kediaman Lucas dia anggap sebagai jawaban.
Lantas mata Vivian membulat sempurna."Jadi benar, kau terlihat perkelahian? Tapi kapan, dimana dan dengan siapa? Bagaimana aku tidak tau, kenapa tidak ada suara dan jejak bekas orang berkelahi?" Tanya Vivian tanpa titik dan koma.
Lucas mendengus geli. "Jika bertanya satu-satu. Bagaimana aku bisa menjawab jika pertanyaan mu sebanyak itu? Intinya aku memang berkelahi. Saat kau sedang tidur, ada orang yang hendak merampok kita. Kami terlibat perkelahian. Dan jika kau tanya kapan dan dimana? Mereka masih terkapar di sana." Lucas menunjuk tempat bekas perkelahian.
Vivian kemudian turun dari mobil Lucas dan menghampiri keempat pria itu, untuk memastikan mereka masih hidup atau sudah mati. Sontak mata Vivian membelalak. "Ge, yang dua sudah mati!!" Seru Vivian.
"Benarkah?!" Lucas berkata dengan santai. Ia kemudian turun dari mobilnya lalu menghampiri Vivian. "Yang dua tak lama lagi juga akan segera menyusul."
"Hah, benarkah?! Tapi bagaimana kau bisa tau?" Vivian menatap Lucas penasaran.
"Mereka sudah sekarat. Sudahlah, untuk apa mengurusi mereka. Sebaiknya kita pergi dari sini. Aku lelah dan ingin segera tidur lagi." Ucap Lucas yang kemudian dibalas anggukan oleh Vivian.
Meskipun sempat tidur sebentar. Tapi Vivian juga masih sangat mengantuk. Bahkan matanya sudah tidak bisa diajak kompromi sedari tadi. Ia pun ingin segera sampai di rumah lalu tidur.
Deggg...
Vivian tiba-tiba menghentikan langkahnya. Entah apa sebabnya perasaannya menjadi begitu tidak enak. Lucas yang kebingungan ikut berhenti juga. "Ada apa? Kenapa tiba-tiba berhenti?" Tanya Lucas kebingungan.
Vivian menggeleng. "Tidak apa-apa, aku pikir telah menjatuhkan sesuatu." Dusta nya.
"Ya sudah, ayo." Lucas merangkul bahu Vivian. Keduanya berjalan beriringan menuju mobil Lucas yang terparkir di tepi jalan.
__ADS_1
Dan disaat itu pula. Sebuah mobil pengangkut barang yang mengalami rem blong melaju dengan tak terkendali. Berkali-kali mobil itu membunyikan klakson agar orang-orang segera menyingkir. Mobil itu melaju kearah Vivian dan Lucas berada dengan kecepatan tinggi.
Tanpa banyak berpikir. Vivian langsung mendorong tubuh Lucas hingga dia terhempas ke trotoar jalan. Lucas menoleh. Mata kanannya membelalak sempurna saat melihat truk itu menyambar tubuh Vivian hingga dia terpental sebelum akhirnya berkahir di jalanan dengan bersimbah darah.
"VIVIAN!!!!!"
-
Sekujur tubuh Lucas bergetar hebat membayangkan hal buruk yang mungkin menimpa istrinya. Melihat banyaknya darah yang keluar dari tubuh Vivian membuat Lucas ketakutan setengah mati. Hingga dia berpikir bagaimana jika wanita itu sampai meninggalkannya.
Lucas mengangkat wajahnya dan menatap pintu otomatis itu. Di dalam sana Vivian sedang bertaruh nyawa antara hidup dan mati.
Jika saja Vivian tak melakukan kebodohan, jika saja Vivian tidak menyelamatkan dirinya, pasti kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Dan Vivian masih baik-baik saja.
Dia tidak bisa menyalahkan siapapun atas insiden yang menimpa Vivian termasuk supir truk tersebut. Dia tidak melakukan kelalaian, bahkan dia telah memberi peringatan dengan membunyikan klakson pada mobilnya. Tapi naas tidak bisa dihindari, tragedi itu menimpa Vivian.
Suara pintu di buka mengalihkan perhatian Lucas. Pria itu pun segera berdiri dan menghampiri dokter tersebut untuk mengetahui bagaimana keadaan Vivian saat ini.
"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" tanya Lucas pada dokter itu.
Dokter laki-laki itu mendesah berat. "Hanya keajaiban yang bisa membawanya kembali. Kami tim medis sudah angkat tangan pada kondisi, Nona Vivian. Dia mengalami benturan keras di kepalanya dan itulah yang membuatnya mengalami koma," ujar dokter menjelaskan.
"Lalu bagaimana dengan janin di dalam perutnya dok?"
"Sudah pasti tidak bisa di selamatkan, maaf Tuan, Istri Anda mengalami keguguran. Untuk sekarang sebaiknya Anda banyak-banyak berdoa. Anda bisa melihatnya setelah dia dipindahkan ke ruang inap. Saya permisi dulu!" Dokter itu membungkuk dan pergi begitu saja meninggalkan Lucas yang jatuh terduduk di kursi samping ruang IGD.
"Ya Tuhan, cobaan apa yang kau berikan padaku kali ini? Vivian, aku mohon bertahanlah."
-
__ADS_1
Lucas berencana untuk menemui Vivian di ruangannya. Dia telah mendapatkan ijin dari dokter untuk menemuinya, Lucas ingin tau bagaimana keadaan Vivian saat ini.
Pria itu menghentikan gerakan tangannya dan mengurungkan niatnya untuk membuka pintu di depannya. Tiba-tiba tangannya gemetar, jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Lucas menarik napas panjang dan menghelanya, dia mencoba meyakinkan pada dirinya sendiri jika semua akan baik-baik saja.
Tidak terjadi apa-apa pada Vivian, dia hanya sedang tidur nyenyak karena kelelahan. Ya, dia sedang kelelahan, begitulah Lucas mencoba meyakinkan dirinya. Setelah memastikan dirinya siap, Lucas memutar kenop itu lalu membuka pintu ruangan tersebut.
Cklekkk.... !!
Pintu itu terbuka. Hal pertama yang tertangkap oleh mata kanannya adalah Vivian yang terbaring lemah dengan berbagai peralatan medis yang menopang kehidupannya. Perban tampak melilit keningnya.
Hati Lucas berdenyut nyeri melihat keadaan wanita itu saat ini. Dengan langkah sedikit tertaih, Lucas berjalan menghampiri Vivian lalu duduk di samping dia berbaring.
"Sayang, aku disini. Sampai kapan kau akan tidur dan membiarkanku sendiri?" bisik Lucas dengan suara parau nya. "Sayang, aku.." bisik pria itu di depan Vivian yang sedang terbaring tak sadarkan diri. "Takut.." lanjutnya sambil menggenggam erat tangan Vivian.
Hening...
Hanya kehampaan yang menjawab ucapan Lucas di depan tubuh istri tercintanya yang terbaring tak berdaya. Detik jam dan cairan infus menjadi saksi bisu kepedihan hati Lucas saat ini.
Dan Vivian masih terlelap dalam damainya. Semua kenangan dan hal indah yang dia lewati bersama Vivian kembali terekam jelas di ingatannya, mulai awal mereka bertemu sampai akhirnya mereka menikah. Begitu banyak hal indah dan menyakitkan yang telah mereka lewati bersama.
"Kenapa mimpi buruk itu benar-benar harus menimpamu? Seperti inikah rasa sakit yang kau rasakan saat kehilangan, Kevin? Bangun, Vivian, aku mohon buka matamu!" mohon Lucas tanpa melepaskan genggaman tangannya pada tangan Vivian.
Lucas menegadahkan wajahnya, mencoba menghalau cairan yang kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia berusaha untuk tidak menangis di depan Vivian, namun air mata itu jatuh begitu saja dan tidak bisa dihentikan.
Lucas mendekatkan wajahnya dan mendaratkan satu ciuman pada keningnya yang terlilit perban. Lucas membiarkan bibirnya di sana lama. Keajaiban, Lucas menunggu sebuah keajaiban.
-
Bersambung.
__ADS_1