CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY

CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY
Kemunculan Arwah Kevin.


__ADS_3

Vivian menatap pantulan dirinya di cermin. Berkali-kali dia memperhatikan perutnya yang masih rata dan mendesah berat. Meskipun sudah dinyatakan hamil oleh dokter, tapi perutnya belum membuncit sama sekali. Mungkin karena usia kandungannya yang masih sangat muda.


Lucas yang baru saja tiba memicingkan matanya melihat wajah murung istri cantiknya itu. Lalu Lucas menghampiri Vivian untuk memastikan apa yang terjadi. "Ada apa, kenapa kau terlihat murung?" Tanya Lucas penasaran.


"Ge, katanya aku hamil. Tapi kenapa perutku masih rata." Rengek Vivian dengan nada kecewa.


Lucas mendengus. "Dasar kau ini. Jelas-jelas usia kandungan mu baru berusia beberapa Minggu, jadi wajar jika masih belum terlihat. Tidak perlu kecewa. Jika sudah memasuki bulan keempat juga akan terlihat. Kau sudah makan malam?"


Vivian menggeleng. "Belum." Jawabnya singkat.


"Ayo, aku akan membawamu makan malam di luar. Ganti pakaianmu dan jangan lupa bawa pakaian hangat. Di luar sangat dingin." Ucap Lucas yang hanya dibalas anggukan oleh Vivian.


Lucas tak mengganti pakaiannya. Dia masih memakai pakaian yang sama, kemeja hitam lengan panjang dan celana bahan berwarna hitam pula. Dia hanya menambahkan Long Vest berwarna abu-abu gelap berleher tinggi.


Lucas tau, pasti Vivian bosan sepanjang hari hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun. Dan mengajaknya keluar adalah sebuah pilihan yang tepat untuk saat ini.


Usai makan malam. Lucas membawa Vivian jalan-jalan menikmati keindahan kota. Wanita itu tampak berbinar-binar melihat pemandangan kota yang tampak berbeda saat malam tiba.


Vivian akui, Seoul memang lebih hidup ketika malam tiba. Sangat berbeda dengan saat masih siang.


Lucas menghentikan mobilnya di area sungai Han. Pria itu terlihat keluar dari dalam mobilnya di ikuti Vivian yang kemudian berdiri disampingnya. "Aku selalu menyukai tempat ini, karena di sini banyak sekali momen yang telah kita ukir." Ucap Vivian memecah keheningan.


"Dan aku masih ingat dengan jelas. Ada seorang perempuan bar-bar yang bisa naik ke atas pohon tapi tidak tau bagaimana cara turunnya." Jawab Lucas menimpali.

__ADS_1


Seketika rona merah muncul di kedua pipi Vivian karena ucapan Lucas, kenapa juga dia harus mengingatkan dirinya pada hal memalukan itu. Apalagi itu terjadi tak lama setelah perkenalan mereka. Dan setiap kali mengingat momen itu, membuat Vivian ingin menghilang dari muka bumi ini. Tapi itu dulu.


"Jangan meledekku, bukannya aku tidak bisa turun. Saat itu tiba-tiba kakiku mengalami kram, sehingga aku tidak bisa turun." Vivian mencoba membela diri. Dia tidak mau terlihat konyol di depan Lucas.


"Ya, aku percaya. Saat itu kau sedang kram!!!"


"Ge, kenapa kau harus meledekku lagi dan mengingatkanku pada kejadian memalukan itu?! Kau menyebalkan, sudahlah aku tidak mau bicara lagi denganmu!!!" Vivian membuang muka dan tak mau menatap Lucas.


Lucas mendengus geli. "Dasar bocah, kenapa tingkah mu semakin kekanakan saja?!" Dengan Gemas Lucas menjitak kepala coklat Vivian. Membuat wanita itu memekik keras, alih-alih merasa bersalah dan meminta maaf. Lucas malah meninggalkan Vivian begitu saja.


"Yakk!!! Ge, kenapa aku ditinggal?! Ge, tunggu aku!!!" Teriak Vivian dan bergegas mengejar Lucas yang berjalan semakin menjauh.


.


"Jangan kebanyakan protes, Ge. Bagaimana pun juga, CEO hanyalah manusia biasa. Yang tak luput dari kesalahan dan dosa, lagipula apakah seorang CEO harus selalu sempurna? Tidak kan," ujar Vivian membela diri.


Lucas menatap istrinya ini dan mendesah berat. Bicara dengan Vivian terkadang membutuhkan kesabaran ekstra. Dia begitu pandai menimpali kata-katanya, dan soal berdebat, Vivian memang ahlinya. Bahkan rekan kerjanya sampai di buat kesal dan emosi oleh kata-katanya.


"Sebaiknya cepat habiskan ice cream mu. Sudah malam, sebaiknya kita pulang." Ucap Lucas yang kemudian dibalas anggukan oleh Vivian.


Setelah menghabiskan ice creamnya. Lucas dan Vivian berjalan beriringan menuju tempat dimana Lucas memarkirkan mobilnya. Selain lelah, Vivian juga sudah sangat mengantuk. Mungkin karena pekerjaan di kantor yang lumayan menumpuk.


Ia ingin segera tiba di rumahnya kemudian tidur cantik di ranjang empuk nya. Matanya sudah tidak bisa untuk diajak kompromi lagi.

__ADS_1


Setelah membaringkan Vivian di kamar mereka. Lucas pergi ke balkon untuk mencari udara segar. Waktu sudah menunjuk angka 23.00 malam, tapi Lucas masih terjaga.


Udara malam yang dingin langsung menyambutnya ketika Lucas menginjakkan kakinya di lantai balkon. Tapi hawa dingin tak mengusiknya sama sekali. Pria itu mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya dan sebuah pematik, mengambil satu lalu menyulutnya.


Degg...


Lucas tersentak karena kemunculan sosok yang wajahnya menyerupai dirinya secara tiba-tiba. Namun detik berikutnya sudut bibirnya tertarik ke atas. "Apa kau datang untuk melihat keadaannya? Dia baik-baik saja,"


"Aku bisa meninggalkannya dengan tenang. Karena pada akhirnya dia kembali ke tempat seharusnya dia berada, yaitu di sisimu. Lucas, maaf, karena dulu aku pernah mengambil posisimu. Dan aku selalu menyesalinya sepanjang waktu. Meskipun dia selalu ada di sisiku, tapi aku tau hatinya hanya terikat padamu."


"Mungkin kepergian ku adalah jembatan untuk menyatukan kalian kembali. Aku selalu mendoakan kalian dari atas saja, semoga kalian selalu dilimpahi kebahagiaan. Terimakasih telah menjadi adikku, aku bahagia terlahir sebagai kakakmu. Dan di kehidupan kita yang akan datang aku juga ingin bersaudara denganmu."


"Aku sudah harus pergi. Maaf, karena aku belum menjadi kakak yang baik untukmu. Jaga dirimu baik-baik." Dan sosok itu pun kemudian menghilang dari hadapan Lucas.


Semenjak kematian Kevin 10 tahun yang lalu. Ini pertama kalinya dia menemui dirinya secara langsung. Selama ini mereka sering bertemu di dalam mimpi. Tapi Lucas tidak pernah menduga bila Kevin akan menemuinya secara langsung seperti ini.


Lucas menarik sudut bibirnya dan mengurai senyum tipis. Dia mendongakkan wajahnya untuk menatap langit malam bertabur bintang. "Aku pasti akan selalu menjaga dan melindunginya. Secepatnya, kembalilah ke sisi kami. Karena kami akan selalu menunggumu, Xi Kevin!!!" ujar Lucas dengan pandangan lurus ke atas.


Lucas ingin Kevin kembali melalui janin di dalam rahim Vivian. Dan di berjanji akan memberi nama anak itu Kevin jika dia laki-laki, karena Lucas sangat berharap Kevin bisa kembali ke tengah-tengah keluarganya lagi.


"Hoam..." Lucas menguap lebar.


Karena rasa kantuk yang surah tak tertahankan lagi. Lucas memutuskan untuk meninggalkan balkon dan kembali ke kamarnya. Matanya sudah tidak bisa lagi untuk diajak kompromi, lagipula ini sudah malam. Sudah seharusnya dia pergi tidur.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2