CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY

CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY
Aku Akan Selalu Bersamamu


__ADS_3

"Marisa, apa yang kau pikirkan?"


Marisa mengangkat wajahnya setelah mendengar teguran Lucas. Pria itu kembali sambil membawa dua botol minuman di tangannya, yang kemudian salah satunya di berikan pada Marisa.


Marisa tersenyum tipis. "Thanks,"


Lucas kemudian duduk disamping Marisa. Pria itu memicingkan matanya melihat kediaman wanita itu, entah hanya perasaannya saja atau memang benar adanya, jika Marisa menjadi lebih banyak diam.


"Ada apa? Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Lucas.


Kemudian Marisa memberikan ponselnya pada Lucas, dan meminta pria itu supaya melihat dan membaca sendiri pesan yang dikirim ke ponselnya.


"Ada nomor asing yang masuk ke ponselku dan meminta supaya aku hati-hati. Dan itu bukan yang pertama kalinya, itu dari nomor yang sama."


Lucas mendesah berat. "Aku tidak tau dari mana Silvia mendapatkan nomor ponselmu, yang jelas wanita itu ingin menghancurkan hubungan kita. Aku harap kau tidak terpengaruh apalagi termakan oleh omongan busuknya."


"Hah, jadi ini ulah wanita itu?!" Marisa memekik, Lucas mengangguk. "Astaga, memang perlu diberi pelajaran dia. Tau begitu sudah aku blok dari awal-awal!!"


"Sebaiknya ganti saja nomor ponselmu, atau dia akan terus-terusan meneror mu!!"


Marisa mengangguk. "Ya, itu juga yang aku pikirkan!!" Jawabnya. Kemudian Marisa teringat sesuatu. "Oya, tadi ada yang mengirim pesan ke ponselmu dan aku membacanya."


"Siapa?" Lucas memicingkan matanya.


Kemudian dia membuka pesan itu, meskipun hanya sekilas, tapi keterkejutan terlihat jelas pada mimik wajah Lucas. Lucas menoleh, membuat matanya dan Marisa saling bersirobok.


"Jadi kau sudah membaca pesan ini?" Marisa mengangguk. Lucas mendesah berat. "Marisa, apa kau masih ingat apa yang aku katakan malam itu? Aku bertanya padamu, bagaimana jika sebenarnya aku bukan Gig*lo tapi Mafia, apa kau akan mempercayainya?!"


Marisa hanya diam dan tidak memberikan jawaban apa-apa. Karena dia sendiri bingung harus menjawab bagaimana. Karena yang dia ketahui selama ini, Lucas adalah seorang Gigolo, bukan Mafia.


"Jika aku tidak mempercayainya bagaimana? Bagaimana mungkin seorang Mafia malah bekerja di club' malam sebagai Gig*lo? Itu sangat tidak masuk akal, Lu!!"


"Tapi bagaimana jika aku mengatakan yang sebenarnya?! Jika aku memang seorang Bos Mafia, dan apa yang kau ketahui malam itu hanya sebuah kesalahpahaman saja?"


"Marisa, aku tidak memintamu untuk mempercayaiku. Tapi apa yang aku katakan ini adalah sebuah kebenaran. Kau bisa menerimanya atau tidak, itu semua keputusan ada di tanganmu, aku akan memberimu waktu untuk berpikir."

__ADS_1


Lucas bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Genggaman pada pergelangan tangannya menghentikan langkah Lucas. Marisa bangkit dari duduknya lalu berdiri di depan Lucas.


"Kau mau kemana?" Tanya Marisa sambil menatap Lucas yang juga menatap padanya."Bahkan kau belum memberiku kesempatan untuk bicara, dan sekarang malah mau pergi begitu saja."


Marisa melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Lucas kemudian beralih menangkup wajahnya. "Dengarkan aku, Lu. Setiap orang pasti memiliki rahasia dalam hidup, entah itu baik maupun buruk. Sekarang katakan apa yang harus aku pikirkan dan renungkan?"


"Setiap orang memiliki pilihan dan jalan hidup masing-masing. Aku tidak bisa memaksamu untuk keluar untuk meninggalkan dunia hitam yang selama ini memang menjadi jalan hidupmu, karena hanya dirimu sendiri yang bisa merubahnya."


"Aku tidak peduli sebenarnya kau ini seorang Gigolo atau Mafia, selama kau bisa mencintaiku dan memperlakukanku dengan tulus. Hal itu sudah lebih dari cukup untukku." Tutur Marisa panjang lebar.


Lucas menurunkan tangan Marisa dari wajahnya kemudian menarik wanita itu ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat. Kedua mata Lucas tertutup rapat, kedua tangannya memeluk Marisa dengan erat.


"Aku tidak tau apakah kamu masih bisa berkata seperti ini setelah ingatanmu kembali, Vivian!!" Ujar Lucas membatin.


Marisa tersenyum. Wanita itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Lucas. "Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku, karena dirimu yang bisa membuatku nyaman."


"Aku tidak mungkin meninggalkanmu, Vivian. Tapi mungkin kaulah yang akan meninggalkanku suatu hari nanti." Lucas membatin.


Lucas menggeleng. "Aku tidak akan meninggalkanmu, mungkin suatu saat nanti justru kau yang meninggalkanku."


Marisa memicingkan matanya. Wanita itu mengangkat wajahnya dari pelukan Lucas."Kenapa kau berpikir jika suatu saat nanti aku akan meninggalkanmu?" Marisa menatap Lucas penasaran.


Marisa merasakan kesedihan dan keputusasaan dalam setiap kalimat yang terucap dari bibir Lucas. Kesedihan juga terpancar dari sepasang Biner matanya. Marisa menangkup bibir Lucas kemudian mengecup singkat bibirnya.


"Aku akan selalu bersamamu,"


"Aku pegang ucapan mu!!"


Lucas menarik pinggang Marisa lalu mel*mat kasar bibirnya. Tak mau kalah, Marisa berusaha meniadakan jarak diantara mereka dengan melinkarkan tangannya di leher Lucas.


Sebelah tangan Lucas menekan tengkuk Cinta dan semakin menautkan bibirnya, dan kemudian dibalas oleh wanita itu dengan ikut mul*mat bibir Lucas. Dia sengaja membiarkan Lucas menuntunnya dan mendominasi pada ciuman mereka.


Keduanya menggerakkan bibir masing-masing, membuat ciuman mereka semakin dalam. Lucas secara refleks memegang pinggul Marisa, menekannya dan membuat satu ******* kembali keluar dari bibir menggemaskan milik wanita itu.


Tapi sayangnya ciuman mereka tidak berlangsung lama. Lucas segera mengakhirinya, karena saat ini mereka sedang berada di tempat umum.

__ADS_1


"Sudah malam, ayo aku antar kau pulang." Marisa mengangguk.


"Baiklah."


-


Lucas memasuki sebuah bangunan mewah yang memiliki dua lantai. Kedatangannya di sana disambut oleh beberapa pria berpakaian formal. Mereka membungkuk ketika Lucas berjalan melewatinya.


Pintu di buka. Beberapa pria yang duduk di ruang tamu langsung berdiri, mereka terkejut bukan main saat melihat siapa yang datang.


"Lucas Xi?!" Seru pria yang duduk di kursi yang biasanya di tempati oleh seorang pemimpin.


"Sepertinya sedang ada pesta besar di sini. Tidaklah kalian ingin mengundangku untuk bergabung?" Ujar Pria itu dengan seringai tajam andalannya.


"Bos Lucas," kemudian pria dengan lingkaran panda pada kedua matanya menghampiri Lucas disusul oleh pria berkulit Tan yang diketahui bernama Kamjong.


Penasaran dengan kedatangan Lucas di sana. Pria yang duduk di kursi pemimpin itu melayangkan sebuah pertanyaan pada Lucas."Untuk apa kau datang kemari?" Tanya pria itu to the poin.


"Tentu saja untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku!!"


"Jangan bermimpi. Apa yang telah kau tinggalkan dan aku miliki, tidak mungkin bisa kembali ke tempat semula."


Lucas menyeringai tajam. "Benarkah? Siapa kau, dan berani sekali mengambil hak milik orang lain, bahkan menobatkan dirimu sebagai Bos diorganisasi ini?!"


"Memangnya kenapa jika aku mengambil posisi itu? Toh tidak ada yang menempatinya bukan. Dan organisasi ini tidak akan berjalan tanpa ada pemimpinnya. Dan satu-satunya pemimpin yang tepat untuk duduk diposisi ini adalah aku!!"


"Bangun, jangan mimpi terus. 10 tahun, aku rasa sudah lebih dari cukup. Dan sekarang, akan ku ambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal. Tinggalkan kursi itu detik ini atau kau mati!!"


Lucas menodongkan sebuah senjata pada pria itu. Membuat suasana yang semula tegang menjadi terasa semakin mencekam. Kai dan Tao menjadi ketar-ketir sendiri. Antara cemas dan takut.


Diantara semua orang yang ada di ruangan itu, hanya mereka berdua yang tau seperti apa seorang Lucas Xi yang sebenarnya. Apakah mereka akan tetap dibiarkan hidup, atau justru Lucas malah akan menghabisinya?!


-


Bersambung.

__ADS_1


Yuk bantu jawab, apakah Lucas akan tetap membiarkan pria itu dan anak buahnya tetap hidup atau membantai mereka semua?! Ditunggu jawabannya...🤗🤗🤗


Ditunggu selalu like komen nya 🙏🙏🙏🙏 Novel ini masih sangat-sangat sepi 😭😭😭


__ADS_2