
"Uhhh.."
Marisa merasakan nyeri yang luar biasa pada paha dalamnya. Pergulatan panasnya bersama Lucas semalam benar-benar membuatnya tidak bisa berjalan pagi ini. Itulah kenapa Marisa memutuskan untuk tetap bermalas-malasan di kamarnya.
Wanita itu menoleh saat mendengar suara pintu kamar mandi di buka. Sosok Lucas keluar dari dalam sana hanya dengan balutan handuk yang melingkari pinggulnya.
Aroma maskulin yang sangat Marisa sukai langsung berkaur di dalam indera penciumannya, saat Lucas keluar dari dalam sana. Pria itu mendengus melihat tatapan Marisa yang seolah ingin menerkamnya sekali lagi.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa semalam aku belum cukup memuaskan mu? Atau kau ingin melanjutkannya lagi?" Pria itu menyeringai.
Buru-buru Marisa menggeleng. "Tidak!! Bisa-bisa aku berjalan ngesot hari ini. Sebaiknya sekarang angkat aku, dan bantu aku ke kamar mandi." Marisa merentangkan kedua tangannya.
Lucas mendengus geli. Pria itu menghampiri Marisa kemudian mengangkat tubuhnya bridal style dan membawanya masuk ke kamar mandi. Lucas menurunkan tubuh Marisa ke dalam bathtub dengan hati-hati.
"Mandi sendiri atau aku bantu?"
"Bantu menggosok punggungku saja. Tanganku tidak sampai." Jawabnya.
Lucas menyiram punggung Marisa, lalu mulai menggosok punggung wanita itu dengan pelan. Dan saat itu pula, sebuah bayangan tiba-tiba melintas di kepala Marisa.
Dalam bayangannya itu, Marisa melihat seorang pria yang juga melakukan apa yang Lucas lakukan saat ini. Tapi sayangnya Marisa tidak tau siapa pria itu, karena wajahnya tidak jelas.
"Ahh." Marisa merasakan kepalanya seperti dihantam batu besar. Sebelah tangannya mencengkram kepalanya.
"Marisa, ada apa?" Tanya Lucas cemas.
Marisa menggeleng. "Tidak apa-apa. Hanya saja kepalaku tiba-tiba pusing. Lucas aku sudah selesai, bisa bantu aku keluar dari sini. Kepalaku benar-benar pusing."
"Baiklah." Kemudian Lucas mengangkat Marisa keluar dari bathtub dan membawanya keluar dari kamar mandi.
Setelah membantu Marisa berpakaian, dan menemaninya sarapan. Lucas langsung pamit pergi, Tao menghubunginya dan memintanya untuk segera datang ke markas Black Devil. Lucas tidak tau ada masalah apa, tapi sepertinya sangat mendesak.
-
Mobil hitam itu terparkir di halaman sebuah bangunan super mewah yang memiliki dua lantai. Beberapa pria berpakaian formal dan bersenjata tersebar di beberapa titik.
Seorang pria dengan balutan pakaian serba hitam memasuki bangunan mewah tersebut. Orang-orang membungkuk ketika pria itu melintas di depan mereka. Dua pria yang berjaga di depan pintu membukakan pintu untuknya.
Cklek...
Beberapa orang yang ada di dalam sana langsung berdiri setelah mendengar suara pintu di buka, dan sosok yang mereka tunggu akhirnya datang juga.
__ADS_1
"Bos, kami berdua sudah mengumpulkan mereka semua." Ucap pria berkulit sedikit gelap, Kai.
Pria-pria itu memberi hormat pada Lucas. Ini adalah moment yang sudah mereka tunggu-tunggu sejak lama, dimana Lucas memanggil mereka kembali dan memperkerjakan seperti itu.
Karena sejak Lucas memutuskan untuk berhenti dan meninggalkan dunia gelap yang selama ini telah membesarkan namanya, mereka pun memutuskan untuk meninggalkan organisasi. Alasannya hanya satu, mereka tidak ingin dipimpin oleh orang seperti Bondan.
"Bos, akhirnya Anda memanggil kama kembali. Ini adalah moment yang sudah kami tunggu sejak lama." Ucap salah seorang dari mereka mewakili yang lainnya.
"Mulai hari ini aku ingin supaya kalian bekerja lagi untukku. Ayo sama-sama kita kembalikan kejayaan Black Devil seperti dulu. Kita buktikan jika Black Devil bukanlah organisasi yang bisa diremehkan!!"
"Siap Bos!!"
Kemudian Lucas beranjak dari sana dan pergi menuju lantai dua. Tubuhnya terasa lelah, ia hendak mengistirahatkan tubuhnya meskipun hanya sesaat.
-
Rasa bosan menghinggapi diri Marisa, bagaimana tidak, seharian ini dia hanya diam tanpa melakukan apa-apa. Jangankan untuk beraktifitas normal. Untuk berjalan saja dia kesulitan. Dan jika ada yang harus disalahkan, maka orang itu adalah Lucas.
Wanita itu beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah balkon. Siang hari ini tidak begitu terik. Matahari bersinar normal hari ini, tidak terlalu terik tapi juga tidak mendung.
Sungguh suasana semacam ini sangat mendukung mereka yang sedang pergi ke luar menikmati hari.
"Ada apa, Bi?"
"Kau sibuk tidak hari ini? Bagaimana kalau kita pergi berbelanja. Glow Mall, mengadakan Sale besar-besaran."
"Kau pergi saja bersama Tania, aku sedang malas pergi kemana pun."
"Kau tidak asik, Marisa. Ayolah, kan sudah lama juga kita tidak pergi bersama-sama. Aku akan mengajak Tania juga, bagaimana!"
"Aku tidak janji, aku benar-benar sedang malas untuk pergi kemana pun hari ini."
"Oke, aku akan menjemputmu satu jam lagi."
"YAKK!!" Baru saja Marisa hendak memarahi Bianca, tapi wanita itu keburu menutup telfonnya.
Marisa mendesah berat, ia menyesal kenapa memiliki teman-teman yang hobinya memaksa. Mungkin satu-satunya cara untuk menghindari Bianca adalah pergi ke apartemen Lucas, karena hanya di sana mereka tidak bisa menemukan dirinya.
-
Lucas langsung meninggalkan markas Black Devil setelah membaca pesan singkat dari Marisa, jika saat ini kekasihnya itu sedang berada di apartemen miliknya.
__ADS_1
Marisa tidak menjelaskan apa alasan dia sampai datang ke Apartemennya.
Setelah hampir 30 menit berkendara. Lucas pun tiba di Apartemen miliknya. Setibanya di sana, dia mendapati Marisa tengah menonton televisi di ruang keluarga.
Lucas tidak heran bagaimana Marisa bisa masuk, ini adalah Apartemen pemberiannya, jadi Marisa mengetahui kodenya. Karena nomor kodenya adalah tanggal ulang tahun Marisa.
"Kenapa lama sekali?" Marisa melemparkan sebuah pertanyaan setibanya Lucas tiba di dalam.
"Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan. Tumben kau ingin diam di sini seharian?"
"Bianca ngotot mengajak belanja, sedangkan aku malas. Makanya aku kabur ke sini." Jawabnya.
Lucas mendengus, jari-jari besarnya kemudian mengacak helaian panjang Marisa yang terurai. "Dasar kau ini. Kalau begitu temani aku menyiapkan makan siang. Kau tidak ingin sampai kelaparan bukan?"
"Tapi aku susah berjalan." Rengek Marisa memelas. "Yak!! Jangan menatapku seperti itu. Aku begini juga kan karena dirimu." Wanita itu menceritakan bibirnya.
Lucas terkekeh. "Baiklah, Kalau begitu aku minta maaf. Aku tidak akan memintamu untuk membantuku menyiapkan makan malam. Tetap di sini, oke." Marisa mengangguk.
Moment seperti inilah yang Marisa sukai ketika bersama Lucas, pria itu selalu memperlakukannya dengan hangat.
Kehangatan yang pernah Marisa rasakan dulu. Tapi dia tidak ingat kapan dan dimana, hanya saja dia merasa pernah diperlakukan istimewa oleh seseorang.
Lucas menoleh dan mendapati Marisa tengah memperhatikannya dari kejauhan. "Ada apa? Kenapa kau terus menatapku seperti itu?" Tanya Lucas di tengah kesibukannya.
Marisa menggeleng. "Tidak apa-apa. Hanya saka aku pernah merasakan moment seperti itu. Dimana seseorang memperlakukanku dengan hangat, tapi aku tidak ingat kapan itu dan siapa yang melakukannya."
Deg...
Lucas tersentak mendengar kalimat yang meluncur bebas dari bibir Marisa.
Rasa cemas mulai menghampiri perasaan Lucas, dia takut Marisa akan mendapatkan kembali ingatannya suatu saat nanti, dan Lucas tidak tau apakah hubungan mereka masih bisa dipertahankan atau tidak. Karena mungkin saja Marisa akan membencinya.
"Mungkin seseorang yang pernah hadir dimasa lalu mu, seperti mantan kekasihmu, contohnya."
Marisa menggeleng. "Aku tidak tau, dan aku tidak ingat. Dulu aku sering sekali memimpikan hal yang sama. Dimana aku melihat seorang pria terbunuh di depan mataku dan aku menjerit, tapi aku tidak tau siapa pria itu dan kenapa aku bisa menangis. Tapi sudah lebih dari lima tahun ini mimpi itu tidak pernah datang lagi." Tutur Marisa.
Lucas terdiam selama beberapa detik. Kemudian pria itu melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Dia harus mengakhiri perbincangan itu dengan Marisa. Jujur saja Lucas masih belum siap jika Marisa sampai membencinya.
-
Bersambung.
__ADS_1