
Ting...
Sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponsel Lucas. Pria itu hanya membacanya saja tanpa berniat untuk membalasnya. Ia menatap Kai dan Tao secara bergantian, kemudian keduanya mengangguk.
Lucas meninggalkan jamuan sendiri, sedangkan Kai, Tao dan beberapa anak buahnya masih di sana. Mereka tidak mungkin menyia-nyiakan makanan enak yang disediakan oleh Tuan Tunder untuk para tamu undangan.
"Tuan Kim, kemana Tuan Muda perginya? Kenapa dia begitu terburu-buru?" Tanya seorang wanita bernama Im Yuna pada Kai.
"Bos, ada urusan mendadak yang tidak bisa ditunda lagi. Kenapa Nona Im begitu ingin tau? Apakah Nona Im tertaik pada Bos kami? Jika iya, sebaiknya Nona mundur saja. Karena sampai monyet beranak domba, Bos tidak akan pernah melirik mu." Tuturnya.
"Kenapa begitu?" Yuna memicingkan matanya.
"Kau ingin tau? Kemari lah, aku akan memberitahumu." Ucap Tao lalu membisikkan sesuatu di telinga Yuna. Sontak saja kedua mata wanita itu membelalak saking kagetnya.
"Apa? Jadi dia Impoten dan penyuka sesama jenis?!" Tao mengangguk.
Kai meringis ngilu, dia tidak tau hukuman seperti apa yang akan Tao dapatkan dari Lucas nanti jika dia sampai tau apa yang sudah temannya itu Katakan pada Im Yuna. Bisa-bisa Tao menjadi penghuni kamar mandi selama 2 haru 2 malam.
-
Menunggu.... Adalah salah satu hal yang paling Vivian benci dalam hidupnya. Tapi terkecuali untuk menunggu yang satu ini. Wanita itu sedang duduk dan menyandarkan punggungnya pada sebuah pohon besar yang berada di Sungai Han.
Sepasang Biner Hazel nya menatap langit malam bertabur bintang. Udara malam ini lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Dan Vivian menyesali kebodohannya karena tidak membawa mantel hangatnya dan malah meninggalkannya di mobil.
Sesekali wanita itu mengusap lengannya yang terbuka karena gaun model kemben yang dia kenakan malam ini. Sampai akhirnya dia merasakan sesuatu yang hangat jatuh di atas pundaknya. Sontak dia menoleh, sudut bibirnya tertarik ke atas melihat siapa yang datang.
"Ge," seru Vivian dan langsung berhambur ke dalam pelukan pria itu yang pastinya adalah Lucas.
Lucas membalas pelukan Vivian dengan merangkul pinggang rampingnya. "Maaf, sudah membuatmu menunggu lama." Ucap Lucas penuh sesal.
Vivian menggeleng. "Bukan masalah. Jika yang aku tunggu dirimu, aku tidak akan bosan meskipun harus seharian." Tuturnya.
Kemudian Vivian mengangkat wajahnya dari dekapan Lucas, jari-jari lentiknya menarik turun benda hitam bertali itu dari mata suaminya, dan tentara Lucas tidak berbohong. Mata itu memang baik-baik saja. "Bagaimana, apa sekarang kau percaya?" Vivian mengangguk.
__ADS_1
Kemudian Lucas melepaskan pelukannya. Ia dan Vivian duduk bersebelahan dibawah pohon Maple yang daunnya terus berguguran. Vivian menyandarkan kepalanya pada bahu Lucas yang lebar, sebelah tangannya memeluk lengan yang tertutup kemeja hitamnya.
"Ge, lihatlah Bintang-bintang itu. Sepertinya mereka sedang melihat kita berdua."
"Mungkin saja mereka iri padaku, karena memiliki istri secantik dirimu."
"Mana mungkin, bahkan mereka lebih indah dariku. Lihat saja cahayanya yang gemerlapan di sana, bukankah itu sangat sempurna."
"Tapi bagiku kau lebih indah dari Bintang maupun Bulan. Mereka jauh dan tidak terjamah, sementara kau... Aku bisa memilikinya. Mereka memang indah, tapi kau sempurna. Keindahan Bintang terkadang masih bisa tertutup awan hitam, tapi kau tidak, karena aku bisa melihat keindahan mu setiap saat." Ujar Lucas panjang lebar.
Blusss..
Rona merah muncul di kedua pipi Vivian yang sedikit memanas. Kata-kata Lucas membuatnya tersipu malu. Bagaimana bisa pria dingin seperti Lucas mengatakan kalimat yang begitu dalam seperti itu.
Vivian terkejut saat merasakan telapak tangan besar menangkup sisi wajahnya, dan yang dia rasakan selanjutnya adalah sebuah benda lunak dan basah yang menyapu permukaan bibirnya, disusul lum*tan lum*tan kecil yang semakin lama berubah menjadi ciuman yang menuntut.
Sebelah tangan Lucas yang berada di pinggang Vivian menariknya lebih dekat hingga terbunuh jarak diantara mereka. Tubuh mereka menempel sempurna, dengan kain yang melekat pada tubuh masing-masing lah yang menjadi pembatasnya.
Ciuman mereka berakhir beberapa saat kemudian, ketika Lucas merasakan pukulan ringan pada dadanya. Sepertinya Vivian sudah tidak sanggup untuk melanjutkannya ciuman mereka.
Wanita itu mengangguk lalu menerima uluran tangan Lucas. Lucas sengaja meninggalkan mobilnya, supaya nanti di bawah pulang oleh Kai dan Tao. Dia harus mengemudikan mobil Vivian, karena tak mungkin Lucas membiarkan istrinya mengemudi sendiri.
-
Adela meliukkan tubuhnya memasuki sebuah gedung perkantoran. Wanita itu berencana untuk bekerja kembali mulai hari ini. Vivian tidak memiliki hak untuk melarang apalagi mengusirnya, karena dia memiliki saham di perusahaan ini.
Kedatangan Adela tentu saja mengejutkan beberapa orang. Tatapan tak suka jelas sekali mereka tunjukkan padanya. Bagaimana tidak, Adela telah di depak dari perusahaan setelah Vivian mengungkap kejahatannya 10 tahun yang lalu.
Kasus dan masalah itu sudah sangat lama. Jadi Vivian tidak bisa membukanya apalagi sampai membawanya ke jalur hukum. Yang bisa dia lakukan hanyalah memecat Adela secara tidak hormat.
"Nyonya Adela, Anda tidak diijinkan masuk. Ini adalah perintah mutlak dari, Presdir!!"
Mia menghalangi langkah Adela ketika wanita itu hendak masuk ke dalam ruangan Vivian. Tapi tentu saja Adela tidak tinggal diam, dia mendorong Mia hingga sekretaris cantik itu terhuyung ke samping.
__ADS_1
"Karyawan rendahan sepertimu sebaiknya tidak usah ikut campur!!"
Dobrakan pada pintu mengalihkan perhatian Vivian yang sedang rapat dengan para Dewan direksi, Mia menjelaskan pada Vivian, jika dia telah melarang Adela untuk masuk tapi dia tetap memaksakan diri untuk masuk ke dalam.
"Tidak apa-apa, biar aku sendiri yang mengurusnya. Rapat hari ini cukup sampai di sini."
"Baik, Presdir. Kalau begitu kami permisi dulu." Vivian mengangguk. Semua orang meninggalkan ruangan Vivian termasuk Mia, menyusahkan Vivian dan Adela berdua di dalam ruangan tersebut.
Vivian melipat kedua tangannya dan menatap Adela dengan tatapan bertanya. "Untuk apa lagi, Bibi datang kemari?" Tanya Vivian tanpa banyak basa basi.
"Kembalikan posisiku, aku mau posisi itu kembali padaku!!!"
"Tidak bisa, karena posisi itu sudah ada yang menempatinya. Lagipula Bibi sudah tidak diijinkan lagi untuk bergabung dan bekerja di perusahaan ini!!!" Tegas Vivian.
"Tapi aku memiliki hak!! Saham ku ada di sini sebenar 10%. Jadi kau tidak memiliki alasan untuk melarang ku di sini!!"
Vivian melipat kedua tangannya dan menatap Adela dengan tatapan sinis. "Kau sudah tidak memiliki satu % saham pun di sini. Karena saham mu sudah aku jual untuk mengganti uang perusahaan yang telah kau gelapkan selama ini. Dan itu masih belum cukup."
"Kau!!!"
"Tapi jika Bibi memaksa untuk bekerja di sini. Aku bisa mengabulkannya, asalkan Bibi mau mencium kakiku dan memohon. Dengan begitu aku akan memberikan dudukan tertinggi di perusahaan ini. Dan posisi itu sangat cocok untukmu!!"
"Apa maksud dari perkataan mu itu? Apa kau berniat memberikan jawabanmu sekarang padaku?" Adela menyeringai.
Vivian menggeleng. "Tentu saja tidak, bagaimana mungkin aku menyerahkan posisi ini padamu. Sebaiknya jangan bermimpi terlalu tinggi, Bibi. Karena jika terjatuh itu, rasanya sangat sangat sakit. Dan posisi yang aku maksud itu sebenarnya adalah....." Vivian menggantung ucapannya dan bibirnya menyeringai.
"Katakan, jangan banyak basa basi!!"
"Baiklah karena kau tidak sabar untuk mengetahuinya. Kau bisa kembali bekerja di sini sebagai... OB!!!"
"APA?! OB!!!"
-
__ADS_1
BERSAMBUNG.
Author mohon dengan sangat, tinggalkan like komen nya 🙏🙏🙏 Jumlah Views banyak, tapi yang kasih like komen gak ada. Ayolah, bantu ramein Novel ini biar Author nya juga makin semangat ngetiknya 🤧🤧🤧😭😭😭