CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY

CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY
Tribal Tatto


__ADS_3

Rasa bosan mulai menghinggapi diri Vivian. Semenjak dia memutuskan untuk mengambil cuti dari pekerjaannya. Memang tidak banyak hal yang bisa dia lakukan untuk mengisi waktunya luang luang. Dia hanya bermalas-malasan di Mansion mewah milik suaminya.


Dia semakin kesepian karena para pelayan sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Tidak ada yang bisa dia ajak mengobrol, apalagi Lucas sedang pergi keluar. Dan Vivian sendiri tidak tau suaminya itu sedang pergi kemana. Karena Lucas tidak memberitahunya kemana dia akan pergi.


Terhitung sudah 10 jam lebih dia pergi meninggalkan rumah pagi ini, mungkin lebih. Vivian lupa, dia tidak menghitungnya berapa lama Lucas pergi. Vivian sudah mencoba menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif, sehingga dia tidak tau apa yang dilakukan oleh Lucas di luar sana.


Cklekk...


Karena asik melamun dan menikmati semilir angin senja. Bahkan Vivian tidak menyadari akan kedatangan seseorang yang sedari tadi dicarinya. Sampai sebuah suara dingin seorang pria masuk dan berkaur di dalam telinganya.


"Rupanya kau disini, pantas aku tidak menemukanmu di mana pun!!" Sontak saja Vivian menoleh sambil berseru kesal.


"Ge, kau darimana saja~" Vivian menggantung kalimatnya seraya bangkit dari duduknya saat melihat sebuah tinta hitam berpola yang menghiasi lengan kanan suaminya. "Ge, itu?" Ucapnya lirih.


Lucas hanya diam terpaku saat Vivian berjalan mendekat. Wanita itu tak melepaskan sedikit pun pandangannya dari tribal Tatto yang menghiasi lengan kanan suaminya. Persis seperti yang Vivian inginkan.


Dengan gemetar. Vivian mengangkat tangannya, jari-jarinya bergerak menuju tribal itu berada lalu merabanya dengan gerakan lembut. Pandangannya lalu bergulir pada Lucas yang juga menatap padanya dengan tatapan tak terbaca.


"Ge, kau sungguh-sungguh membuatnya?" Ucap Vivian seolah-olah tak sadar dengan apa yang dia katakan.


"Kau menyukainya?" Lucas menatap Vivian dengan tatapan yang sama.


Wanita itu mengangguk. Seharusnya tanya Lucas bertanya sekalipun, seharusnya dia sudah tau jika dirinya sangat menyukai tribal itu. "Mereka sangat indah." Bisik Vivian setengah mend*sah.


"Apa hanya di lenganmu ini saja?" Tanya Vivian.


Lucas tak lantas menjawab. Sebagai gantinya. Pria itu melepas Long Vest dan tank top putihnya. Tubuhnya kekar dan berotot, tidak terlalu besar, namun terlihat sangat kuat dan tegap, otot perutnya kencang.

__ADS_1


Seketika perut Vivian mengencang membayangkan ketika ia dan Lucas memadu Cinta dengan pemandangan yang begitu luar biasa ini. 


Tribal itu terlukis dari atas sikut lengan kanannya, kemudian menjalar ke atas bahu, menutupi seluruh bagian kanan dada nya, perutnya dan menjalar terus hingga pinggul depannya, dan menghilang dibalik celana jeans yang Ia kenakan. Indah.


"Apa itu juga terlukis di bagian belakang tubuhmu?" Vivian kembali berbisik sambil menatap biner mata milik Lucas.


Namun Lucas tidak menjawab pertanyaan Vivian, sebagai gantinya dia membalikan tubuhnya dan benar prediksi Vivian, tribal itu menutupi bahu nya, pola tribal di bagian atas punggungnya menjorok sedikit ke arah kiri, namun tidak untuk pola yang menuju kebawah.


Pola tribal yang menuju kebawah seperti diatur untuk lurus mengikuti tulang punggungnya. Dan lagi tribal itu menghilang dibalik celana jeansnya. Sempurna.


Dengan gemetar, Vivian menjulurkan tangannya untuk meraba bagian belakang tubuh Lucas, dan ketika jemarinya berhasil menyentuh kulitnya, tubuh kekar itu menegang sesaat.


Vivian terus menelusuri semua pola dengan jari jemari lentiknya, mulai dari atas hingga bawah. Perlahan ia mendekatkan wajahnya untuk mengecup salah satu pola yang terdapat di bagian atas punggungnya, terdengar jelas erangan keluar dari bibir Lucas.


"Apa kau puas dan menyukainya." Lucas melirik Vivian melalui ekor matanya.


Seperti dibelakang tadi, Vivian mengarahkan jari jemarinya di atas pola tribal itu, berlama-lama di sana dan beralih meraba perutnya yang berotot suaminya, untuk menikmati texture ototnya yang mengencang. Sentuhan Vivian memberikan pengaruh yang Luar biasa terhadap tubuh Lucas.


Lalu ia mendongkakan kepalanya dan melihat kobaran api yang semakin besar di dalam matanya yang tengah menatap Vivian juga, wanita itu berjinjit dan melingkarkan lengannya di leher Lucas untuk mencium bibirnya sekilas.


"Mereka indah." Ia kemudian berbisik di depan wajah Lucas dan dapat ia rasakan nafasnya yang memburu.


Tak mau kalah dari wanitanya. Kemudian Lucas melingkarkan kedua lengannya di pinggang Vivian, sehingga membuat tubuh mereka saling menempel, kali ini giliran Lucas yang membawa bibir Vivian ke bibirnya.


Satu tangannya berpindah ke bagian tengkuknya bersamaan dengan lidahnya yang memasuki mulutnya, Vivian sangat menyukai lidahnya yang terasa hangat didalam mulutnya. 


Lidah Lucas mengecap isi mulut Vivian dan mengajak lidahnya menari, bukan tarian lemah lembut seperti dansa atau bahkan balet, melainkan seperti krump dance yang berirama cepat, agresif dan menuntut.


Sesaat kemudian, Lucas melepas bibirnya untuk memandang wajah cantik Vivian dan mengembalikan lagi bibirnya ke bibir merah itu untuk mengecupinya selama beberapa saat sebelum melepaskannya.

__ADS_1


Lucas menyentuhkan keningnya tanpa melepaskan lengannya dari tubuh wanita itu. Ia semakin mengeratkan pelukannya, dan Vivian dapat merasakan hasratnya yang menempel di perutnya.


Sensasi yang mampu membuat perut Vivian mengencang dan organ int*mnya berkedut nyeri. 'Oh tuhan, seluruh tubuhku terasa terbakar oleh hasratnya' Dewi batin Vivian di dalam sana tersenyum lebar menampilkan barisan gigi putihnya karena senang, dan tubuhnya menyala di bakar gairah.


Vivian mencoba menggesek kan tubuhnya yang menempel di tubuh Lucas dan Ia mengerang. "Kau membuatku gila." Bisik nya. Ia mengecupi tepian wajah Vivian hingga mencapai cuping telinganya.


"Dan aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan dalam beberapa menit lagi." Lucas mengangkat tubuh Vivian dan membawanya menuju tempat tidur.


Dia tidak bisa melepaskan Vivian begitu saja. Istri cantiknya ini telah memancing dirinya untuk melakukan hal lebih. Alih-alih menolak, Vivian justru menyambutnya dengan sepenuh hati. Karena sebenarnya dia juga menginginkannya.


-


Mia menjatuhkan kepalanya begitu saja di atas meja kerjanya. Dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk. Sejak Vivian mengambil cuti, pekerjaannya menjadi lebih banyak dari biasanya. Karena Frans tidak banyak membantunya.


Perempuan itu mengangkat kepalanya dan menatap Frans yang datang sambil membawa dua cap kopi panas. "Kau terlihat lelah, sebaiknya minum dulu kopinya." Frans memberikan kopi itu pada Mia.


Alih-alih menerimanya, Mia malah mengomeli Frans habis-habisan. Sedangkan yang dia omeli hanya memasang muka tanpa dosa sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Mia, sebaiknya kau berhenti mengomel dan minum dulu kopinya. Presdir, menghubungiku dan memberitahu jika besok dia mulai masuk lagi. Untuk itu berhentilah mengeluh, karena aku juga sama lelahnya sepertimu!!"


"Lelah kepalamu, jelas-jelas semua pekerjaan kau lemparkan padaku. Dan sekarang kau mengatakan sama lelahnya denganku?! Dasar tak punya hati!!!"


"Oke, oke aku mengaku salah. Sebaiknya kau minum kopinya setelah ini aku traktir makan malam, bagaimana?" Frans mencoba membujuk Mia. Karena sedang kelaparan jadi Mia tidak menolaknya.


"Kedengarannya tidak buruk juga!! Baiklah, ayo."


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2