
Dastan menatap tumpukan document di atas meja kerjanya dengan tatapan ngeri. Belum genap 1 bulan dia menjadi CEO, rasanya Dia sudah mengalami penuaan dini. Dastan, tidak tahu jika pekerjaan seorang CEO akan menguras seluruh tenaga dan pikirannya.
Dia pikir menjabat sebagai CEO, kerjaannya hanya ungkang-ungkang kaki dan menunggu uang mengalir kedalam rekening dengan sendirinya. Ternyata pekerjaan itu tak sesederhana yang dia pikirkan.
Tok tok tok...
Ketukan pada pintu mengalihkan perhatian datang dari tumpukan dokumen yang ada di depannya. Pintu ruangannya terbuka, dan sosok wanita cantik terlihat meliukkan kakinya menghampirinya.
"Presdir, ini adalah beberapa dokumen yang harus segera di tandatangani dan Anda periksa. Dan jangan lupa ada rapat penting jam 11 siang ini." ujar wanita itu mengingatkan.
Dastan mengangguk. "Baiklah aku paham, kau bisa keluar sekarang aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku!!" ucap Dastan.
Perempuan itu mengangguk, ia membungkuk lalu meninggalkan ruang kerja Dastan. Dastan memijit pelipisnya yang terasa pening, belum selesai satu pekerjaan sudah datang pekerjaan lainnya. Apakah Hidupnya akan terus seperti ini?! Rasanya Dastan tidak sanggup.
Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak memiliki pilihan lain. Mau tidak mau, Suka tidak suka dia harus tetap melakukannya. Atau dia akan berurusan dengan Lucas, pria mengerikan untuk dihadapi. Itulah yang Dastan pikirkan.
"Semangat Dastan, semangat. Vivian saja yang perempuan bisa, masak kamu yang laki-laki tidak. Kamu pasti bisa, semangat Dastan!!" Dastan mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Dia harus segera menyelesaikan semua pekerjaan itu, agar bisa pulang lebih awal dan tidak perlu lembur lagi seperti kemarin malam.
-
Di siang yang terik, seorang wanita terlihat berdiri di antara bunga-bunga yang sedang bermekaran. Sesekali dia menghirup aroma bunga cantik itu, dengan senyum yang terlukis di wajah cantiknya.
Bukan rahasia lagi bila seorang Vivian, sangat menyukai bunga mawar. Mawar adalah bunga kesukaannya selain Daisy. Itulah kenapa dia meminta Lucas membuatkannya taman mawar di halaman belakang rumah mereka.
Taman itu begitu cantik dan indah, berbagai jenis dan warna mawar tumbuh dengan subur di sana. Bukan hanya Mawar Putih dan Merah saja, tapi ada juga mawar ungu dan biru yang langka yang harganya tentu sangat mahal.
Itu adalah hadiah dari Lucas, atas kehamilan Vivian. Tapi baru berkuncup, karena Vivian mendapatkannya baru minggu lalu. Dan kedua Mawar itu menjadi mawar kesayangan Vivian.
__ADS_1
"Rupanya kau disini, pantas aku mencarimu di dalam kau tidak ada." seru seseorang dari arah belakang.
Sontak saja Vivi yang menoleh, sudut bibirnya tertarik ke atas melihat Siapa yang datang. Lucas terlihat menghampirinya sambil membawa sebuah bunga cantik di tangan kirinya.
"Wow, Bunga apa ini, Ge? Cantik sekali, aku sangat menyukainya. Terima kasih karena sudah membawakan ku bunga yang cantik ini." Vivian tersenyum lebar lalu berhambur kedalam pelukan Lucas.
Lucas menarik sudut bibirnya lalu membalas pelukan Vivian. "Apa kau menyukainya?" tanya Lucas yang kemudian dibalas anggukan oleh Vivian.
Vivian tersenyum manis, ia mengangkat kepalanya dari pelukan Lucas. Menatap pria itu masih dengan Tatapan yang sama. "Ya aku sangat menyukainya, Ge. Aku akan menyimpannya sekarang." vivian melepaskan pelukannya pada tubuh Lucas lalu pergi begitu saja.
Koleksi bunga Vivian bertambah satu lagi, dan lagi-lagi Lucas yang memberikan untuknya. Vivian sangat senang, memang Lucas yang paling mengerti dirinya.
"Sebaiknya kita pergi dari sini, mataharinya terlalu terik." ucap Lucas yang kemudian dia balas anggukan oleh Vivian.
"Kebetulan sekali aku juga sangat haus, ta bisakah kau menggendongku sampai dalam, Ge?!" Vivian membuka kedua tangannya sambil tersenyum lebar.
Lucas mendengus. "Kau ini bukan pacar lagi, Vi. Tapi kenapa kau sangat manja sekali, Sayang?!"
Lucas menyentil kening Vivian. "Jangan gunakan dia sebagai alasan, Nyonya Muda Xi!!" geram Lucas kesal, sedangkan Vivian yang hanya tertekeh geli, dimatanya suaminya itu begitu menggemaskan.
"Baiklah Baiklah, aku tidak akan menjadikan dia sebagai alasan lagi. Sekarang kau puas. Hoam, aku sangat ngantuk, Ge. Bagaimana kalau setelah ini kau menemaniku tidur, Ge? Aku ingin dipeluk sepanjang siang ini olehmu. Mau ya," mohon Vivian.
Lagi-lagi Lucas hanya bisa mendesah berat. Dia tidak bisa menolak keinginan Vivian. Lucas mengangguk setuju untuk menemani istri tercintanya itu. "Baiklah, Sayang. Aku akan menemanimu," jawab Lucas.
Vivian tersenyum lebar, dia tahu Lucas tidak mungkin menolak permintaannya. Apalagi permintaan sesederhana itu."Kau memang yang terbaik, Ge. Aku semakin mencintaimu." vivian mengeratkan pelukannya pada leher Lucas.
"Aku juga sangat mencintaimu istriku, sangat-sangat mencintaimu, Vi."
Kata-kata Lucas bagaikan sihir untuk Vivian. Hatinya selalu menghangat setiap kali mendengar kata cinta dari suaminya, memang Lucas yang paling memahami dirinya. Dan hanya dari Lucas dia menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.
__ADS_1
Bagi Vivian, Lucas bukan hanya sekedar suami. Tapi dia adalah nyawa hidupnya, dan Vivian tidak yakin bisa hidup tetap tanpa Lukas di sisinya. Dan Begitupun sebaliknya, karena Vivian adalah tulang rusuk Lucas. Mereka diciptakan untuk saling mencintai dan memiliki, takdir menakdirkan mereka untuk berjodoh.
-
Lucas langsung pergi setelah mendapatkan telepon dari Tao. Bersama Alex dia pergi ke tempat yang Tao sebutkan dalam panggilan telepon tadi. Lucas tidak tahu hal penting apa yang ingin Tao tunjukkan padanya.
Setelah 35 menit berkendara, lucas dan Alex Tiba di lokasi. Mereka segera turun dan menghampiri Tao dan beberapa anak buahnya yang ada di sana.
"Ada apa ku menghubungi dan menyentak untuk datang?!" tanya Lucas pada pria bermata Panda di depannya.
"Bos, coba kau lihat ini. Kami menemukan mayat pria ini, sepertinya dia adalah orang yang kau cari." ujar Tao sambil menunjukkan mayat itu pada Lucas.
Lucas memicingkan matanya. "Kenapa kau bisa yakin jika pria itu yang sedang kita cari?" tanya Lucas pemasaran.
"Karena dia memiliki ciri-ciri orang yang kita cari selama ini. Sepertinya dia sengaja dilenyapkan, agar kita tidak menemukan bukti apapun." timpal Alex menyahuti.
Gyutt...
Lucas mengepalkan tangannya dan matanya berkilat tajam. "Selidiki kematiannya dan temukan pelakunya, aku ingin mengetahui motif Kenapa pria ini sampai di habisi."
"Masalah itu serahkan pada kami, Bos." Jawab Tao dan Alex serempak.
"Temukan pelakunya dengan segera dan terseret dia ke hadapanku." Tao dan Alex mengangguk paham.
Lucas meninggalkan keduanya dan kembali ke mobilnya. Dia harus pulang sekarang atau Vivian akan kebingungan karena tidak menemukannya di rumah. Apalagi wanita itu memintanya untuk menemaninya tidur siang.
Lucas tidak ingin dihujani berbagai pertanyaan oleh Vivian. ketika dia bangun dan tidak mendapati dirinya berbaring di sampingnya.
-
__ADS_1
Bersambung.