CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY

CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY
Penyusup Dan Mata-Mata


__ADS_3

"Vivian?!"


Lucas terbangun dari tidurnya sambil menyerukan nama Vivian. Sepertinya dia baru saja bermimpi buruk. Kemudian pandangannya dia gulirkan pada sosok wanita yang saat ini sedang tertidur pulas disampingnya. Lucas menghela napas lega.


Kemudian jari-jari besarnya mengusap kepala Vivian dengan penuh kelembutan, sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk lengkungan indah di wajah tampannya.


"Aku pikir diantara kita benar-benar telah berakhir, Vi. Aku sungguh sangat menyesalkan apa yang terjadi hari itu. Dan aku juga sangat menyesalkan perpisahan kita, kau adalah satu-satunya wanita yang paling berarti dalam hidupku. Untuk itu aku tidak pernah ingin kehilanganmu."


Lucas akui, jika perpisahan mereka hari itu adalah salahnya. Jika saja dia mengatakan sejak awal tentang Kevin pada Vivian. Pasti tidak akan terjadi kesalahpahaman yang tidak berarti, dan mereka juga tidak mungkin berpisah.


Tapi Lucas memiliki banyak pertimbangan. Antara mengatakannya atau tidak. Saat itu Vivian masih dalam keadaan Amnesia, dan Lucas tidak ingin menambahkan beban pikiran bagi Vivian.


Kemudian Lucas beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah balkon. Inilah salah satu masalah terbesar Lucas, dia sulit tidur kembali ketika sudah terbangun, padahal jam dinding sudah menunjuk angka 01.00 dini hari.


"Sial!!" Lucas mengumpat sambil memegangi mata kirinya yang tiba-tiba berdenyut sakit.


Mungkin dia harus mengikuti saran Vivian secepatnya, untuk melakukan operasi agar ia tidak kesakitan lagi.


Tapi membuat mata Bionik tentu membutuhkan waktu dan proses, dan tidak sembarang orang tentu bisa membuatnya. Hanya Ilmuwan dengan kemampuan dewa yang bisa melakukannya.


Mata bionik ialah bola mata tiruan yang digunakan untuk mengganti bola mata asli yang telah rusak. Mata bionik dapat membantu mereka yang kehilangan penglihatannya akibat kecelakaan atau penyakit tertentu.


"Ge!!"


Vivian berseru sambil menyapukan pandangannya, saat dia tak mendapatkan Lucas berbaring disampingnya. Wanita itu kemudian menyibak selimutnya lalu turun dari tempat tidur, satu tempat yang terpikirkan olehnya saat ini 'Balkon' Vivian yakin jika suaminya itu ada di sana.


Mata Vivian membelalak melihat Lucas yang kesakitan sambil memegangi mata kirinya, cairan merah segar terlihat pada sela-sela jarinya. "Lu Ge," seru Vivian dan segera menghampiri Lucas.


"Ge, apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai seperti ini? Ayo masuk dulu, akan ku panggilkan dokter untuk memeriksa mu!!"

__ADS_1


Vivian menuntun Lucas masuk ke dalam, cemas terlihat jelas pada mimik wajahnya. Melihat Lucas kesakitan seperti ini membuat hati Vivian tercubit dan sakit. Lagipula istri mana yang tidak sedih saat melihat suaminya kesakitan seperti ini.


"Berbaringlah, Ge. Aku akan segera kembali!!" Vivian beranjak dari hadapan Lucas, tapi genggaman pada pergelangan tangannya menghentikan langkahnya. "Ada apa, Ge?!"


"Tidak perlu memanggil dokter, ambilkan obat pereda sakit ku di laci paling bawah. Ganti perbannya dengan yang baru." Vivian menatap Lucas, kemudian mengangguk.


"Baiklah."


.


Vivian menatap Lucas yang sedang menutup mata kanannya dan mendesah berat. Kemudian Vivian beranjak dan pergi meninggalkan Lucas yang sedang tidur. Tiba-tiba dia merasa lapar, mungkin karena sore tadi hanya makan sedikit saja.


Kedua mata Vivian memicing melihat salah satu anak buah Lucas sedang berbincang dengan seseorang melalui panggilan telepon. Dia berbincang secara sembunyi-sembunyi dan terlihat sangat mencurigakan.


Vivian mendekati pria itu dengan diam-diam. Bahkan dia melepas Heelsnya agar kedatangannya tidak dicurigai. Vivian ingin tau apa yang sedang pria itu bicarakan, dan siapa yang dia hubungi.


"Tuan, Bima. Anda tenang saja. Saya pasti akan terus mengawasi, Tuan Lucas. Dan secepatnya akan saya dapatkan dokumen yang Anda butuhkan!!"


Vivian mengepalkan tangannya. Ternyata dia adalah seorang penyusup dan mata-mata. Pria itu adalah suruhan bajingan bernama Bima itu. Orang yang membuat ia dan Lucas berpisah dan juga yang membuat mata kiri suaminya buta.


Dia tidak bisa melepaskan pria ini. Dan pasti dia mengetahui di rumah sakit mana bajingan itu di rawat. "Oh, ada penyusup dan mata-mata ternyata di sini?!" Ucap Vivian dan sontak membuat pria itu menoleh seketika.


Kedua matanya membelalak melihat keberadaan Vivian di sana. "Kau...!! Sejak kapan kau berdiri di sana?!" Tanya pria itu setengah panik. "Jangan macam-macam apalagi mencoba melaporkanku pada suamimu, jika tidak aku akan meledakkan kepalamu!!!"


Vivian menyeringai sinis. "Benarkah?! Lakukan jika kau memang bisa!!" Senjata di tangan pria itu terlepas dari genggamannya, setelah Vivian menendang lengannya. Dan pistol itu berpindah tangan dalam hitungan detik saja. Vivian mengarahkan pistol itu pada pemiliknya.


"Jangan macam-macam jika kau tidak ingin mati mengenaskan di tanganku!!!"


Pria itu sontak mengangkat tangannya dan mimik garangnya berubah ketakutan. "Ampun, Nyonya. Jangan bunuh saya," pinta pria itu memohon.

__ADS_1


"Lagu lama, kau pikir dengan memohon seperti itu. Aku akan melepaskan mu?! Jangan harap, kecuali kau mau bekerja sama dan memberitahu aku dimana bajingan itu dirawat!!"


"Oke, saya akan memberitahu Anda, Nyonya. Tapi jangan bunuh saya. Tuan Bima, dia dirawat di rumah sakit Seoul. Di kamar nomor 307 ruangan permata. Tapi untuk masuk ke sana tentu tidak mudah. Ruangan Bos, dijaga ketat dan hampir setiap jam selalu ganti yang menjaganya." Tutur pria itu memaparkan.


"Terimakasih atas informasinya. Kau sudah tidak berguna lagi untukku. Selamat tinggal dan pergilah ke neraka dengan tenang!!" Vivian menyeringai tajam.


"JANGAN!!!"


DOORR!!


Mata kanan Lucas yang sebelumnya tertutup seketika terbuka, setelah dia mendengar suara tembakkan dan teriakan seorang pria.


Lucas meninggalkan kamarnya dan mendapati Vivian yang berdiri memunggunginya sambil menggenggam sebuah senjata di tangan kanannya. Di lantai, seorang pria terkulai tak bernyawa dengan darah menggenangi kepalanya.


"Vivian, apa yang kau lakukan?!" Tegur Lucas setibanya dia di belakang Vivian.


Sontak saja wanita itu menoleh. Bukan hanya Lucas, ada Tao dan Alex juga serta beberapa anak buah Lucas. Sorot mata Lucas dingin dan tajam, mungkin saja dia berpikir jika Vivian menghabisi anak buahnya tanpa alasan.


"Dia adalah penyusup dan mata-mata. Bima, sengaja mengirim dia kemari untuk mengawasi dan memata-mataimu. Aku menghabisinya supaya dia tidak merepotkan kita dimasa depan." Tuturnya.


"Apa?! Dia penyusup dan mata-mata?!" Vivian mengangguk. "Tao, segera periksa tubuhnya!!" Pinta Lucas yang kemudian di balas anggukan oleh pria bermata panda tersebut.


Lucas mendesah berat saat melihat tatto di tubuh pria itu. Tatto di lengan kirinya adalah bukti dari mana dia berasal. Wajar saja jika identitasnya tidak diketahui oleh Lucas dan yang lainnya, karena dia selalu memakai setelan jas rapi.


"Segera buang mayatnya, Vivian ayo kembali ke kamar." Ucap Lucas dan berlalu begitu saja.


Tangan Lucas terkepal kuat, bahkan dalam keadaan cacat pun Bima masih mencoba mencari masalah dengannya. Secepatnya Lucas pasti akan membuat perhitungan dengan bajingan itu.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2