CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY

CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY
Bukan Tawanan


__ADS_3

Lucas menghentikan mobilnya dihalaman luas mansion mewah milik Vivian. Dan kedatangan Dastan sudah ditunggu-tunggu oleh si kembar, bukan hanya Vivian saja yang dekat dengannya, tapi mereka juga.


Di depan pintu terdapat tulisan 'Wellcome Uncle Dastan' berukuran besar. Ada juga taburan bunga mawar di atas red karpet yang membentang di atas lantai.


Vivian dan Lucas saling bertukar pandang, mereka tidak menduga bila si kembar akan bertindak sampai sejauh ini untuk menyambut kepulangan Dastan. Sedangkan Dastan sendiri menjadi begitu terharu, sampai-sampai dia meneteskan air matanya.


"Huhuhu, jadi kalian siapkan semua ini untuk Paman?" Ketiganya mengangguk.


"Huaaa... Paman Dastan, kami sangat merindukanmu!!!" Teriak si kembar dan langsung memeluk Dastan.


"Paman juga sangat merindukan kalian. Tapi bisakah sekarang kalian membawa Paman masuk? Paman sangat lapar," Dastan memegangi perutnya yang keroncongan.


"O..Oke, ayo kita masuk Paman," Mark dan Vincent mengangguk lalu mengajak Dastan untuk masuk. Vivian dan Lucas berjalan mengekor di belakang mereka bertiga.


Vivian dan Lucas tidak ikut makan bersama mereka bertiga. Keduanya pergi ke kamar mereka yang ada di lantai dua. Vivian mengatakan jika dia lelah dan ingin beristirahat, dan Lucas mengiyakannya.


.


Lucas menghampiri Vivian yang sedang berbaring setelah menutup dan mengunci pintu kamar. Dia tidak ingin jika seseorang tiba-tiba nyelonong masuk tanpa permisi.


"Vi, apa kau sudah memikirkan baik-baik tentang keputusanmu itu? Apa kau benar-benar mau melepaskan posisi mu sebagai CEO dan menyerahkan pada Pamanmu itu?"


Vivian mengangguk mantap. "Tentu saja, Ge. Saat ini aku sedang hamil muda, dan ingin fokus pada kehamilanku saja. Lagipula setelah anak ini lahir aku hanya ingin fokus pada anak kita dan keluarga kecil ini. Apa kau tidak mendukungku sebagai Ibu rumah tangga, atau kau memang menyukai seorang wanita karir?" Tanya Vivian sambil menatap Lucas.


"Semu terserah padamu. Aku tidak akan melarang mu untuk melakukan ini dan itu, kau adalah istriku, bukan tawanan. Dan sebagai suamimu, aku hanya bisa mendukungmu," Tutur Lucas.


Vivian tersenyum, kemudian berhambur ke dalam pelukan suaminya. "Terimakasih karena sudah mengerti diriku, Ge. Aku sungguh beruntung memiliki suami sepertimu." Ucap Vivian sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Lucas.


Pria itu memejamkan matanya dan membalas pelukan Vivian. "Sama-sama, Sayang. Hanya ini yang bisa aku lakukan sebagai suamimu." Jawab Lucas menimpali.


Kemudian Lucas melepaskan pelukannya. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Membentuk lengkungan indah di wajah tampannya, Lucas menarik tengkuk Vivian dan menyatukan bibir mereka.


"Tadi kau bilang lelah, sebaiknya sekarang kau tidur dulu. Aku harus pergi untuk melakukan sesuatu."

__ADS_1


Vivian menahan lengan Lucas ketika pria itu hendak pergi meninggalkannya. "Memangnya kau mau pergi kemana?" Tanya Vivian sambil mengunci biner mata suaminya. "Bukan sesuatu yang bahaya bukan?" Lucas menggeleng. "Sungguh? Kau tidak sedang membohongiku kan?" Pria itu menggeleng.


"Tentu saja bukan. Aku akan menjemputmu sebelum makan malam. Kalau begitu aku pergi dulu." Lucas mengecup kening Vivian dan meninggalkannya begitu saja.


"Kenapa perasaanku tidak enak? Ge, semoga tidak ada hal buruk yang sampai menimpamu." Ujar Vivian lirih.


Vivian menatap kepergian Lucas dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Entah kenapa dia merasa jika Lucas pergi untuk sesuatu yang berbahaya. Dan Vivian hanya bisa berdoa, semoga suaminya pulang dalam keadaan baik-baik saja.


-


Mafia adalah salah satu ancaman keamanan yang selalu diantisipasi oleh setiap negara, karena potensi mereka yang menyebarkan kekerasan dan pelanggaran hukum lainnya hingga lintas negara.


Hampir setiap negara memiliki catatan Mafia yang paling membahayakan, salah satunya adalah kelompok mafia yang di dirikan dan diketuai oleh Lucas.


Entah sudah berapa banyak teror yang telah mereka sebarkan untuk kota ini. Ratusan nyawa manusia melayang sia-sia ditangan mereka. Tak jarang mereka melakukan tindakan kekerasan baik itu secara fisik maupun mental.


Tapi itu dulu, dulu sekali, ketika usia Lucas masih sangat muda. Ketika Lucas masih belum mengenal arti kata kemanusiaan, yang dia cari hanya kesenangan dunia saja. Dan dia selalu merasa puas setelah menghilangkan nyawa targetnya.


Tapi semua sudah berubah, perasaan hebat itu tak lagi sama setelah Lucas kehilangan Kevin. Karena rasa bersalahnya yang teramat sangat besar pada sang kakak, yang membuat Lucas memutuskan untuk meninggalkan dunia hitam yang telah membesarkan namanya.


"Lucas Xi, akhirnya kau datang juga." Sambut seorang pria yang diketahui bernama Ronald Alonso.


Lucas hanya menyeringai dingin menyikapi ucapan Ronald. "Apa kau begitu merindukanku, sampai-sampai kau sangat senang bisa bertemu denganku?!"


"Cuihh. Kau terlalu percaya diri, Xi Lucas. Aku terlalu senang karena akhirnya hari ini datang juga, hari dimana aku bisa menghabisi mu dan membalaskan dendam Lupita!!!"


"Kenapa kau harus susah-susah membalaskan dendam orang yang bahkan bukan adik kandungmu sendiri, atau kau marah karena dia tergila-gila padaku lalu mengakhiri hidupnya sendiri setelah aku menolak cintanya?!"


"XI LUCAS!!!!"


Dooorrr...


"Aaahhhh, sial!!!" Senjata dalam genggaman Ronald terlepas begitu saja setelah satu timah panas yang Lucas lepaskan bersarang pada lengan kanannya. "Brengsek, kenapa kau malah menembak ku duluan ha?!" Bentak Ronald marah.

__ADS_1


"Karena kau terlalu lamban!!!"


"Kau!!!"


Dooorrr...


Doorrr..


Dooorrr...


Tiga tembakan Lucas lepaskan pada anak buah Ronald yang mencoba untuk mengeroyoknya. Hebatnya, Lucas melepaskan tembakannya tanpa melihat posisi lawannya. Dan hebatnya tembakkan itu tepat sasaran.


Tiga anak buah Ronald pun akhirnya tumbang setelah kepala dan dada mereka tertembus peluru yang Lucas lepaskan. Tersisa tiga lagi, dan mereka tampak ragu-ragu untuk menyerang Lucas.


"Kenapa kalian diam saja, maju dan habisi bajingan itu!!!" Teriak Ronald sambil menggenggam pergelangan tangannya yang terus mengeluarkan darah segar. Peluh tampak membasahi dahi Ronald, mimik mukanya menunjukkan jika dia sangat kesakitan.


"Maju kalian semua, biar ku kirim kalian ke neraka!!!" Lucas menyeringai sinis.


Meskipun awalnya ragu. Tapi akhirnya mereka tetap menyerang juga. Mereka menyerang Lucas secara bersamaan, tapi sayangnya serangan mereka berhasil dipatahkan oleh Lucas dengan mudah. Dan Lucas berhasil menumbangkan ketiganya kurang dari 5 menit.


Semua anak buah Ronald tumbang dan menyusahkan pria itu sendiri. "Bagaimana, masih ingin mencari gara-gara denganku? Ingat Ronald Alonso, aku tetaplah bukan lawan yang mudah untuk kau tumbangkan. Atau begini saja, bagaimana kalau aku kirim kau untuk menemani Lupita. Pasti dia sendiri dan kesepian di Neraka!!!" Ujar Lucas dengan seringai tajam andalannya.


"Kau pikir kau siapa bisa membunuhku dengan mudah?! Aku, tidak akan mati sebelum menghabisi mu!!!"


"Dasar mulut besar!!!"


Doorrr..


Doorrr...


Tubuh itu tumbang setelah timah panas yang Lucas lepaskan menerjang dada dan kepalanya. Karena urusannya sudah selesai di sini, Lucas pun memutuskan untuk pergi. Dia sudah terlalu lama meninggalkan Vivian. Pasti wanita itu sudah sangat mencemaskan dirinya.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2