
"Kau...Adalah pembunuh, Xi Lucas!! Jika bukan karena dirimu, Kevin tidak akan pergi meninggalkanku, dan aku tidak akan kehilangan ingatan. Kau...Pembunuh!!! Pergi kau dari sini, jangan pernah lagi muncul di hadapanku, aku tidak Sudi lagi melihat mukamu yang penuh kepalsuan itu!!"
Lucas menutup matanya saat kata-kata Vivian hari itu kembali terngiang di telinganya. Satu bulan telah berlalu, tapi perpisahan mereka masih begitu membekas dihatinya. Kisah cinta yang awalnya begitu indah dan penuh dengan kebahagiaan, hancur dalam satu detik saja.
Apa Lucas menyesali apa yang terjadi malam itu? Maka jawabannya iya, karena malam itu dia harus kehilangan orang yang sangat dan paling dia cintai dalam hidupnya.
Orang yang ingin dia lindungi disisinya kini telah meninggalkannya, sungguh sebuah perpisahan yang begitu menyakitkan. Dan Lucas merasa kosong tanpa Vivian disisinya.
Tidak ada yang tersisa dari perpisahan tersebut, selain duka dan air mata. Mungkin rasanya aneh, jika seorang pria menangis dan rapuh karena Cinta, apalagi orang itu adalah seorang Bos Mafia. Tapi ketahuilah, sekuat dan sehebat apapun pria, ada saatnya dia lemah dan hancur.
"Bos, kau ada di dalam. Sudah saatnya kita pergi." Ketukan pada pintu kamarnya langsung menarik Lucas kembali ke dalam dunia nyata. Suara yang berkaur di dalam telinganya, menyadarkan Lucas dari lamunan panjangnya.
"Sepuluh menit lagi aku turun!!"
"Baik, Bos!!"
Lucas bangkit dari duduknya. Jari-jari besarnya membuka satu persatu kancing pada kemejanya, lalu memasukkan kain berharga mahal itu ke dalam tong sampah dan menggantinya dengan kemeja yang lain.
Gerakan tangan Lucas terhenti pada sebuah kemeja hitam lengan terbuka. Dia mengambil kemeja itu dan menatapnya dengan sendu. Itu adalah kemeja pemberian Vivian satu bulan sebelum perpisahan mereka.
Kemudian Lucas memakai kemeja itu, lalu dibalut sebuah Long Vest berwarna hitam pula, Lucas membiarkan bagian lehernya tetap berdiri. Tak ketinggalan sebuah benda hitam bertali dia pasang pada mata kirinya.
Lucas menatap penampilannya di cermin dan mendesah berat. Andaikan saja Vivian masih ada di sini. Pasti dia akan menjerit kegirangan melihat dirinya yang berpenampilan seperti ini.
Dia teringat saat-saat kebersamaannya dengan Vivian, yang sampai kapanpun tidak akan bisa terulang kembali. Karena wanita itu telah pergi selamanya dari hidupnya.
"Bos, mobil Anda telah siap." Ucap Kai saat melihat kedatangan Lucas.
Hari ini Lucas akan bertemu dengan kawan lamanya. Mereka mengundang Lucas untuk minum di bar, tempat yang dulu sering sekali mereka datangi hampir setiap malamnya ketika masih remaja.
-
Ketukan pada pintu ruangannya mengalihkan perhatian Vivian dari tumpukan dokumen di depannya, tak berselang lama sosok Frans memasuki ruangan Vivian dan menghampiri wanita itu. Vivian hanya menatap sekilas pada Frans. Wajah cantiknya tak menunjukkan ekspresi apapun, dingin.
__ADS_1
Sifat dan sikap Vivian berubah drastis sejak hari itu. Tidak ada lagi senyum ceria yang dulu selalu menghiasi wajah cantiknya, kecantikan Vivian selalu tertutup oleh awan mendung.
"Ada apa, Frans?" Tanya Vivian dingin.
"Presdir, ini sudah malam. Apa Anda tidak ingin pulang?! Anda harus memikirkan tentang kondisi tubuh Anda juga." Ucap Frans mengingatkan.
Lalu pandangan Vivian bergulir pada jam yang menggantung di dinding ruangannya. Waktu menunjuk angka 10 malam. Vivian mendesah berat. "Aku masih belum ingin pulang. Frans, malam ini temani aku minum. Aku ingin minum sampai mabuk!!!"
"Tapi, Presdir?!"
"Menolak gaji mu bulan ini aku potong 50 persen!!!"
Sontak kedua mata Frans membelalak saking kagetnya. "Jangan, Presdir!! Baiklah, saya akan menemani Anda minum." Jawabnya pasrah. Jika Vivian sampai memotong gajinya hingga sebesar itu, lalu bagaimana dengan kucing liarnya?! Bisa-bisa Frans kehilangan mereka.
-
Kehangatan menyelimuti kebersamaan Lucas dan teman-teman lamanya. Saat ini mereka sedang berada di club' malam milik salah satu anggota Black Devil 'Marcell'
Tapi hal itu tidak pernah terjadi lagi semenjak Lucas memilih meninggalkan dunia Mafia, pasca kematian Kevin. Dan malam ini pertama kalinya setelah 10 tahun. "Lu, ayolah. Di sini hanya kita berlima. Sampai kapan kau akan membiarkan benda sialan itu ada Dimata kiri mu?!" Ucap Noel mengomentari.
"Matamu buta ya?! Jelas-jelas di sini banyak orang. Lagipula ini bukan tempat VIP!!" Ujar Tao menyahuti.
"Yak!! Panda jelek, aku bicara dengan Lucas, bukan denganmu. Kenapa mulutnya nyambar saja seperti Beo!!"
"Aku punya mulut, aku punya telinga, jadi sayang kalau tidak dimanfaatkan." Tao menjulurkan lidahnya. Dia tidak mau kalah dari Noel.
"Panda, Kau~"
"Kalian berdua, berhenti!!" Jika ingin ribut, keluar sana!!!" Keduanya langsung diam setelah Lucas angkat bicara. Bahkan untuk membalas tatapannya saja mereka tidak berani. Lucas terlalu mengerikan jika sudah seperti ini.
Dan sementara itu...
Ditempat dan di lokasi yang sama. Seorang wanita terlihat meliukkan tubuhnya memasuki club' malam tempat dimana Lucas dan teman-temannya berkumpul. Dibelakangnya seorang pria berjalan mengekor, mengikuti kemana wanita itu melangkah.
__ADS_1
Dan kedatangannya disadari oleh Kai dan Tao. Mereka pun segera memberitahu Lucas tentang kedatangan wanita itu yang pastinya adalah Vivian.
"Bos, itu bukannya Nyonya?!" Sontak saja Lucas menoleh, begitu pula dengan tiga kawan lama Lucas.
Pria itu langsung berdiri dan menatap wanita yang juga menatap padanya. Vivian menghentikan langkahnya ketika melihat keberadaan Lucas, setelah perpisahan mereka malam itu. Ini pertama kalinya mereka bertemu kembali.
"Ge," dengan lirih Vivian memanggil Lucas.
Mereka saling menatap selama beberapa saat. Mata mereka saling bersirobok, saling melepaskan rindu melalui tatapan itu. Tapi Lucas sendirilah yang mengakhirinya. Pria itu beranjak dari mejanya dan pergi meninggalkan teman-temannya.
Tubuh Vivian terpaku, melihat langkah Lucas yang semakin mendekat. Mata kanannya terus menatap Vivian dengan tatapan yang sulit diartikan. Vivian termanggu, mematung dalam posisinya.
Lucas melewatinya begitu saja. Kedua mata Vivian tertutup detik itu juga, tampak liquid bening mengalir dari sudut matanya. Wanita itu menggeleng, tidak seharusnya dia bersikap seperti ini. Memangnya apa lagi yang bisa dia harapkan dari orang yang telah membunuh kekasihnya.
Vivian mengambil napas panjang dan menghelanya. Wanita itu melanjutkan langkahnya dan berjalan menuju konter bar. Dan Frans berjalan mengekor dibelakang.
"Adakah yang bisa menjelaskan padaku?" Willy menatap Kai dan Tao bergantian. Bukan hanya Willy yang penasaran, tapi Suho dan Noel juga.
"Namanya Vivian Valerie, dia adalah istri bos juga mantan kekasih Tuan Muda Kevin. Mereka menikah sejak 5 bulan yang lalu. Tapi satu bulan lalu hubungan mereka hancur setelah Nyonya Vivian mendapatkan kembali ingatannya, dan mengingat jika Bos adalah penyebab dia hilang ingatan juga kematian Tuan Muda Kevin."
"Apa?! Astaga kenapa bisa serumit itu. Lalu bagaimana hubungan mereka saat ini?" Tanya Suho ingin tau.
"Bagaimana apanya. Tentu saja berantakan. Nyonya, marah besar dan memaki, Bos. Dan akhirnya mereka berpisah. Sejak saat itu Bos menjadi semakin dingin dan tertutup."
"Ini tidak bisa dibiarkan, jangan sampai perpisahan mereka berlangsung selamanya. Bocah, apa kalian berdua tahu kejadian yang sebenarnya?!" Keduanya mengangguk. "Ayo, kita buat mereka bersatu lagi!!!"
"Setuju!!!"
Tao dan Kai sejujurnya sangat menyayangkan perpisahan mereka. Pasalnya mereka adalah pasangan yang sangat cocok. Dan mereka bersumpah akan membuat Lucas dan Vivian bersatu kembali, bagaimana pun caranya.
-
Bersambung.
__ADS_1