
Vivian diam termenung di balkon kamarnya. Wajahnya mendongak menatap langit malam yang kosong tanpa hiasan apapun, tidak ada bulan, tidak ada bintang. Semuanya bersembunyi di balik kabut kelam.
Pertemuan singkatnya dengan Lucas membuat hati Vivian seperti terkoyak. Hatinya sangat sakit melihat sikap dingin dan acuh Lucas padanya, terkadang dia merindukan kebersamaan mereka atau semua perlakuan hangat Lucas padanya.
Selama mereka bersama. Tak sekalipun Lucas menyakiti apalagi melukai perasaannya. Lucas selalu menyayanginya dan mencintainya dengan tulus. Dia memperlakukan dirinya dengan penuh cinta dan kehangatan.
Lalu apakah yang salah dengan semua itu? Dan kenapa Vivian malah menyalahkannya atas kematian Kevin? Seharusnya Vivian sadar, bukan hanya dirinya yang terluka karena kepergiannya, tapi Lucas juga. Dan mungkin saja Lucas jauh lebih terluka dibandingkan dirinya.
"Kenapa belum tidur?" Tepukan pelan pada bahunya menyadarkan Vivian dari lamunan panjangnya. Wanita itu menoleh dan mendapati Rossa berdiri dibelakangnya.
"Bibi, kau mengejutkanku."
"Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Vi? Apa mengenai Lucas dan kematian Kevin. Vi, ada satu hal yang ingin Bibi sampaikan padamu mengenai dia. Lucas tidaklah seburuk yang kau kira, jika kau menyalahkannya atas kematian Kevin maka kau salah besar. Karena kematian Kevin adalah rencana Tuhan."
"Tidak ada yang menginginkan hal itu terjadi, termasuk Lucas. Apa kau pernah merasakan ada diposisi nya? Dia kehilangan kakaknya, dia pasti sangat hancur, sama sepertimu."
"Bibi, tau kau sangat terluka dan kecewa, tapi Lucas jauh lebih terluka. Dia banyak berkorban untukmu, Sayang. Selama ini dia selalu melakukan yang terbaik untukmu, Bibi selalu mengingat apa yang kau katakan tentang Lucas pada Bibi, Vivian."
"Dan asal kau tau saja, yang menjagamu selama kau berada di rumah sakit adalah dia. Lucas lah yang selalu menjagamu setiap saat, dan pertemuan kalian malam itu tentu bukanlah sebuah kebetulan. Lucas adalah jodoh pengganti yang Tuhan kirimkan untukmu."
Vivian menjatuhkan tubuhnya pada balkon kamarnya dan menangis sejadi-jadinya. Wanita itu berteriak dan histeris. Berkali-kali Vivian memukul dadanya yang terasa sesak. Dia akui jika hidupnya terasa hampa semenjak Lucas tidak ada.
Rossa menghampiri Vivian lalu memeluknya."Tidak ada gunanya kau menangis sekarang. Kau harus menemuinya dan perbaiki hubungan kalian berdua. Terus terang Bibi sangat menyayangkan perpisahan kalian ini. Apalagi Bibi sangat berharap besar pada hubungan kalian berdua."
"Sebelum terlambat, pergi dan temui Lucas. Minta maaf padanya, dan katakan jika kau mencintainya."
Vivian menghapus air matanya dan mengangguk. "Bibi, benar. Aku harus pergi sekarang dan menemui Lucas. Aku sudah pernah kehilangan Kevin, dan aku tidak ingin kehilangan dia juga." Rossa mengangguk sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Bibi, mendukungnya."
-
Vivian menghentikan mobilnya di depan sebuah pagar tinggi di sebuah bangunan super mewah yang memiliki dua lantai. Wanita itu turun dari mobilnya dan mendapati jika tempat itu sangat sepi seperti tidak ada penghuninya.
Mobil Lucas juga tidak ada di dalam. Dan Vivian berani bersumpah jika suaminya itu sedang pergi ke luar. Wanita itu berdiri di depan pagar untuk menunggu pria itu kembali. Dia tidak bisa menundanya lagi, Vivian harus menyelesaikannya malam ini juga.
Hawa dingin yang berhembus membuat tubuhnya semakin menggigil. Jika saja dia tidak ceroboh dan membawa baju hangatnya, pasti dia tidak akan kedinginan seperti ini.
Sudah hampir tiga jam, dan waktu telah menunjuk angka 02.00 dini hari. Tapi belum ada tanda-tanda jika Lucas akan segera kembali. Sampai dia melihat silau lampu sebuah mobil yang menerangi sekujur tubuhnya.
Vivian menghalau sinar terang itu dengan sebelah lengannya. Seorang pria keluar dari mobil tersebut untuk membuka gerbang, dan saat itulah dia melihat keberadaan Vivian yang sudah pucat meringkuk di depan gerbang.
"NYONYA VIVIAN?!"
Tubuh Vivian jatuh dalam pelukan Lucas. Lucas menahan tubuh wanita itu yang terasa dingin agar tidak jatuh dalam posisinya berdiri."Akhirnya kau datang juga, Ge. Aku..." Vivian jatuh pingsan sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.
"Vivian!!" Pekik Lucas setengah panik.
Melihat Vivian tak sadarkan diri membuat Lucas sangat terkejut. Sekujur tubuhnya terasa dingin. Dia tidak tau kenapa wanita ini begitu bodoh, seharusnya jika ingin menemuinya, dia bisa langsung masuk ke dalam, atau menunggu di dalam mobilnya. Bukannya menunggu di depan pagar.
Tak ingin Vivian kenapa-napa. Lucas segera membawa Vivian masuk ke dalam mobilnya.
Dia tidak tau berapa lama Vivian berdiri kedinginan di depan pagar, kemungkinan besar sampai berjam-jam.
-
__ADS_1
Sudah satu jam Lucas menunggu wanita itu. Tapi belum ada tanda-tanda jika Vivian akan segera sadar. Menurut dokter dia tidak apa-apa hanya kelelahan dan sedikit tekanan batin, di tambah kedinginan karena terlalu lama berdiri di luar.
Lucas meraih tangan Vivian yang terasa dingin lalu menggenggamnya dengan erat. Mengangkat jari-jari lentiknya lalu menciumnya. "Dasar bodoh, sebenarnya apa yang kau pikirkan, Vivian Valerie." Ujar Lucas sambil menatap Vivian dengan sendu.
"Ge, Ge, jangan tinggalkan aku. Ge, Ge, aku sungguh-sungguh mencintaimu."
Lucas semakin mengeratkan genggamannya pada jari-jari wanitanya ini. Vivian mengigau kan dirinya. Apakah dia kembali untuk memperbaiki hubungan mereka? Lucas sangat berharap.
Cklekk...
Perhatian Lucas sedikit teralihkan. Tao memasuki ruangan itu dan menghampiri Lucas. "Bos, apa Nyonya belum sadar?" Tanya Tao yang hanya dibalas gelengan oleh Lucas."Sebaiknya kau istirahat, ingat apa yang dikatakan dokter padamu di rumah sakit. Saat ini kau sedang dalam perawatan jalan."
"Jangan pikirkan diriku, pikirkan saja dirimu sendiri. Bahkan keadaanmu tidak lebih baik dariku!! Sebaiknya cari dokter bedah terbaik untuk memperbaiki bentuk hidung dan rahang mu. Apa kau selamanya akan hidup dengan wajah mengerikan seperti itu!!!"
Tao tersentak. Bagaimana dia bisa melupakan keadaannya sendiri. Benar apa yang Lucas katakan. Hidungnya patah dan rahangnya sedikit bengkok. Jika tidak segera melakukan bedah plastik bisa-bisa dia akan kehilangan ketampanan seumur hidupnya.
Lucas baru saja mengalami sebuah insiden yang membuatnya mungkin akan mengalami cacat permanen. Dia dan anak buahnya terlibat perkelahian sengit dengan salah satu kelompok Mafia yang selama ini menjadi musuh besar mereka.
Demi bisa mengalahkan Lucas dan seluruh anak buahnya. Mereka sampai memakai Bom. Lucas dan Tao memang sama-sama terluka parah, meskipun luka yang mereka alami tidak sefatal Kai. Kai mengalami patah kaki dan lengan.
Dan untuk sementara dia harus di rawat di rumah sakit sampai keadaannya benar-benar membaik. Sebenarnya Lucas sendiri harus di rawat, tapi dia menolaknya dan memaksakan diri untuk pulang. Parahnya Tao malah ikut-ikutan juga.
"Kau benar Bos, mungkin aku harus segera menemui dokter bedah terbaik di kota ini. Aku harus melakukan oplas supaya bisa tampan lagi. Oke, Bos. Aku pergi dulu." Lucas hanya mendengus. Pria itu menggelengkan kepala melihat tingkah Tao yang seperti bocah.
-
Bersambung.
__ADS_1