
Sang Raja siang telah kembali ke peraduannya. Namun Sang Dewi malam belum juga menampakkan pesonanya.
Malam yang pekat menenggelamkan bintang, dan menyembunyikan Sang penguasa malam.
Malam ini suasana di Kota Seoul memang terasa sangat sepi dan udara yang kian lama menusuk kulit.
Tidak seperti malam-malam biasanya, malam ini seperti sengaja untuk membuat semua orang tidak berani keluar dari rumah atau pun kantor mereka.
Tapi sepertinya hal tersebut tidak berlaku pada pasangan kekasih satu ini. Marisa dan Lucas, atau mungkin harus di panggil Vivian? Tapi sayangnya Vivian masih belum mau membuka identitasnya sebelum dendam sang kakak terbalaskan.
"Kau kedinginan?" Tanya Lucas pada wanita disampingnya. Marisa mengangguk. Dia tidak mungkin berbohong pada Lucas.
Pria itu mendengus berat. "Sudah tau suhu udara malam ini sedang menurun, tapi malah tidak membawa pakaian hangat. Sebaiknya kita beli mantel untukmu."
Marisa mengecutkan bibirnya. "Dasar menyebalkan. Tadi kau yang bertanya apa aku kedinginan. Giliran aku menjawab iya, kau malah memarahiku!! Dasar pria menyebalkan." Gerutu Marisa.
Lucas memutar jengah matanya. "Dasar bocah. Kau ini seorang CEO, tapi kenapa tingkah mu terkadang seperti bocah?!"
"Dasar bodoh!! CEO juga manusia, memangnya seorang pemimpin tidak boleh kekanakan dan manja pada kekasihnya sendiri. Berhentilah bertingkah menyebalkan!!"
"Sudah, jangan banyak bicara lagi." Lucas menggenggam tangan Marisa dan membawanya ke sebuah boutique yang berada di seberang jalan.
Marisa tersenyum. Dia melepaskan genggaman tangan Lucas kemudian beralih memeluk lengan terbukanya. Membuat sudut bibir Lucas tertarik ke atas.
.
Lucas membawa Marisa memasuki sebuah boutique yang khusus menyediakan pakaian wanita.
Dia membebaskan wanitanya berkeliling dan memilih sendiri mantel hangat yang dia inginkan. Sedangkan Lucas memilih menunggu dan memperhatikan Marisa dari kejauhan.
Grep..
Marisa dan Diana sama-sama menyentuh mantel yang sama. Keduanya saling bertukar pandang dan memberikan tatapan mematikan .
"Lepaskan tanganmu dari mantel ini, karena aku yang pertama melihatnya!!" Ucap Diana menuntut.
"Tidak mau, kenapa aku harus mengalah pada pelakor sepertimu?! Jadi sebaiknya cari saja yang lainnya." Tegas Marisa.
__ADS_1
"Sebaiknya kau saja, karena aku mau yang ini!!" Diana tetap kekeuh ingin mantel yang disukai oleh Marisa juga.
Marisa melepaskan tangannya dari mantel tersebut kemudian bersidekap dada. Sudut bibirnya tertarik ke atas.
"Mengambil milik orang lain sepertinya adalah hobi mu ya?! Aku sudah tidak minat lagi dengan mantel itu, jadi ambil saja untukmu!!" Marisa beranjak dari hadapan Diana dan pergi begitu saja.
Diana yang tidak terima karena sudah dipermalukan oleh Marisa, tentu tidak tinggal diam. Wanita itu mengejar Marisa lalu menjambak rambutnya, sampai membuat kepalanya mendongak kebelakang.
Tak kehabisan akal. Marisa menarik lengan Diana lalu membanting tubuh wanita itu ke lantai.
"AAAHHH." Membuat teriakan kesakitan meluncur bebas dari bibirnya.
Seketika orang-orang berkerumun setelah mendengar teriakan Diana, termasuk Lucas. Lucas tidak tau apa yang terjadi, dan bagaimana Diana bisa berakhir di lantai.
Lucas menghampiri Marisa yang terlihat sangat emosi. "Apa yang terjadi?" Tanya Lucas, Marisa menoleh dan membalas tatapan pria itu.
"Wanita ini selalu saja mencari masalah denganku. Dia selalu mengambil apa yang aku miliki. Pertama, suamiku dan sekarang dia juga menginginkan pakaian yang aku sukai. Bukankah itu sangat keterlaluan?!" Tuturnya.
Marisa sengaja meninggikan suaranya agar orang-orang tau siapa wanita yang mereka beri simpatik ini sebenarnya. Dan orang-orang yang awalnya merasa iba, kini merasa jijik padanya.
"Marisa, aku pasti akan membunuhmu!! Kau keterlaluan!! Aarrrkkhhh..."
Tap..
Langkah kaki Lucas terhenti di depan Boutique, saat dia melihat seorang pria yang sangat dia kenal, dan beberapa anak buahnya tengah menunggunya di parkiran. Tempat Lucas meninggalkan mobilnya sebelum berkeliling dengan berjalan kaki.
"Lucas, siapa mereka? Sepertinya mereka orang jahat?"
"Jangan panik, mereka hanya cacing-cacing tanah yang sudah bosan hidup."
Pria itu menyeringai, dan menatap Lucas dengan pandangan meremehkan. Alih-alih marah, Lucas malah menyeringai sinis. Lucas mengeluarkan kunci mobilnya yang ada di dalam saku celananya, lalu mengarahkan pada salah satu mobil yang ada di parkiran.
Mata pria itu terbelalak, dia terkejut saat sadar jika telah salah sasaran. Ternyata mobil yang dia hancurkan bukanlah milik Lucas tapi milik orang lain.
"Brengsek!! Siapa yang berani menghancurkan mobilku?!" Dua pria berbadan gempal dan bermuka sangar datang dan marah besar melihat mobilnya telah hancur dan penyok semua.
"Kau lihat orang-orang tidak berguna itu. Merekalah yang sudah menghancurkannya!!" Sahut Lucas menimpali.
__ADS_1
Sadar mereka dalam bahaya. Pria itu pun segera memberi kode pada anak buahnya. Tapi sepertinya si pemilik mobil tidak bisa melepaskan mereka begitu saja. Mereka mengejar orang-orang yang telah merusak kendaraannya.
"Huft, aku pikir akan ada pertumpahan darah di sini. Tapi baguslah, ternyata masalah bisa teratasi dengan mudah."
"Bukankah aku sudah memintamu untuk tidak panik. Sudahlah, ayo pergi." Marisa mengangguk.
Mobil sedan hitam milik Lucas mulai melaju meninggalkan parkiran dan menuju jalan raya yang padat kendaraan. Ini sudah larut malam, Lucas hendak mengantarkan Marisa pulang.
-
"Diana, apa yang terjadi padamu? Kenapa jalanmu aneh begitu?!"
Nyonya Jimmy terkejut dan kebingungan saat melihat Diana pulang dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Wanita itu berjalan sedikit terseok-seok sambil memegangi pinggangnya.
"Sebaiknya Mama jangan banyak tanya. Carikan aku tukang urut. Pinggangku nyaris saja patah karena ulah mantan menantimu yang jelek itu!!"
"Marisa?!"
"Memangnya siapa lagi kalau bukan dia. Sekarang dia semakin berani dan kurang ajar. Mama harus membantuku memberinya pelajaran.",
"Kau tenang saja, Sayang. Mama akan menemuinya besok dan memberikan pelajaran padanya!! Tapi Diana, memangnya dimana kita harus menemuinya, sedangkan kita saja tidak tau dimana dia tinggal sekarang."
Diana menggeleng. "Aku juga tidak tau. Nanti saja aku akan menyelidiki tentang wanita itu. Sebaiknya sekarang Mama bantu aku ke kamar."
"Iya, Sayang."
-
Marisa melepaskan semua kain yang melekat di tubuhnya. Wanita itu menghampiri Lucas kemudian mendorong lalu menindihnya. Marisa membuka satu persatu kancing kemeja Lucas, tapi tidak menanggalkannya.
Pandangan mata Marisa masih terhalangi oleh singlet putih yang menjadi dal*man kemeja tanpa lengannya.
"Lucas, sudah lama kau tidak menghangatkan ku. Bagaimana kalau malam ini kita habiskan untuk bercinta?" Usul Marisa sambil menggerakkan jari-jari lentiknya pada bibir dan sekitar wajah Lucas.
Pria itu menyeringai. "Dan malam ini aku akan membuatmu menyerukan namaku sampai pagi tiba." Kemudian Lucas mencium singkat bibir Marisa. Dan malam ini akan mereka habiskan untuk saling menghangatkan.
-
__ADS_1
Bersambung.