CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY

CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY
Ketegasan Marisa


__ADS_3

Kabar tentang 'Hantu Nyasar' sudah sampai ke telinga semua orang yang tinggal satu atap dengan Marisa.


Para pelayan dan Bodyguard yang bekerja di sana menjadi tidak nyaman. Itulah kenapa Marisa memutuskan untuk pindah ke Mansion utama keluarga Valerie yang memang sudah lama dia tinggalkan.


Semenjak kematian seluruh keluarganya. Marisa menolak untuk tinggal di sana, karena di mansion itu menyimpan 1000 kenangan bersama mereka. Dan selama ini Mansion itu di tempati oleh Adela dan putrinya.


Adela sendiri adalah Bibi dari pihak ibu. Wanita itu bekerja di perusahaannya untuk menggantikan posisi sang suami yang turut menjadi korban dalam kecelakaan tragis tersebut.


Suami Adela sendiri merupakan adik dari ayah Marisa, sementara wanita itu adalah adik dari ibu Marisa.


Mereka saling menyukai dan akhirnya memutuskan untuk menikah. Dan dari pernikahan itu, mereka dikarunia satu putri yang kemudian diberi nama Andin Valerie.


"Ma, sedang apa mereka? Kenapa sejak pagi mereka begitu sibuk dan berlagak seperti akan ada tamu Agung yang datang?" Ucap Andin penuh kebingungan.


Adela mengangkat bahunya. "Mama sendiri juga tidak tau. Ayo kita cari tau." Andin mengangguk.


Keduanya menghentikan salah seorang pelayan dan bertanya padanya. Mereka sungguh sangat penasaran setengah mati.


Bagaimana tidak, seumur hidup mereka tinggal di Mansion mewah ini, belum pernah sekalipun diperlakukan seistimewa ini apalagi sampai menggelar karpet merah dan menaburkan kelopak mawar.


"Memangnya siapa yang akan datang? Kenapa kalian begitu sibuk seharian? Apakah tamu agung?"


"Nona Muda, akan kembali hari ini. Dan kami di minta menyiapkan penyambutan semaksimal mungkin, untuk menyambut kepulangan beliau kembali ke Mansion ini."


"Apa?! Nona Muda, maksudmu Marisa?!" Pelayan itu mengangguk.


"Dan mulai malam ini, kamar kalian berdua akan dipindahkan ke kamar tamu. Karena dua kamar utama akan di tempati oleh Nona dan Tuan Muda."


"Apa?! Tidak, tidak, tidak!! Aku tidak setuju, enak saja main pindah saja. Aku tidak mau pindah ke kamar manapun dan akan tetap di kamar itu, titik!!"


"Oh, itu artinya kau sudah siap angkat kaki dari Manson ini!!" Sahut seseorang dari arah belakang.


Sontak ketiganya menoleh. Panjang umur, baru saja dibicarakan, tapi orangnya sudah muncul. Marisa datang bersama Mark dan Vincent. Tak lupa para penjaga dan pelayan membawa semua barang-barang milik mereka.


"Kau!!!"


"Siapa kau, berani sekali kau merebut apa yang sudah menjadi milik kami!!" Bentak Andin penuh emosi.

__ADS_1


Marisa menyeringai sinis. "Milikmu?! Memangnya sejak kapan mansion milik keluarga Valerie menjadi milikmu?! Aku tau kau memang putri dari mendiang Pamanku, tapi dia tidak memiliki hak sama sekali atas mansion ini dan seluruh isinya!!"


"Apa maksudmu?!" Adela menatap Marisa dengan tatapan menusuk.


Lagi-lagi wanita itu menunjukkan seringainya."Karena saudara tertua lah yang berkuasa, dan itu adalah Papa!! Sudah bisa dipastikan siapa yang lebih berhak atas Mansion ini bukan?!" Ujar Marisa dengan seringai yang sama.


Plakkk...


Marisa menahan gerakan tangan Adela yang hendak menamparnya. Wanita itu menghempaskan tangan Adela lalu balik menamparnya. "Lancang!! Berani sekali kau mengangkat tangan pada bos mu?! Apa kau sudah tidak mau bekerja di perusahaan lagi?!"


"Kau!!!"


"Tunjukkan kamar Tuan Muda." Perintah Marisa pada pelayan di sampingnya.


"Baik, Nona. Tuan Muda, mari saya antar."


"Kalian ikutlah bersama mereka. Ini adalah rumah kalian juga, jangan pernah sungkan ataupun malu untuk meminta bantuan pada orang-orang di sini."


"Apa semuanya, Bibi?" Marisa mengangguk.


"Nenek, aku lapar. Bisakah kau menyiapkan makan siang untukku?!"


"Kalian!!" Teriak Adela dan Andin secara bersamaan. Sedangkan Marisa menyeringai penuh kemenangan. Mengabaikan mereka berdua, wanita itu pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua.


Lucas membaringkan tubuhnya pada kasur di kamarnya. Dia sudah pulang sejak kemarin siang. Meskipun perban masih belum mau beranjak dari kening dan bahu kirinya, tapi kondisinya sudah semakin membaik.


Dalam hati dia terus bertanya-tanya. Siapa sebenarnya orang yang telah dengan sengaja ingin mencelakainya? Apakah itu Belinda atau mungkin orang lain? Misteri itulah yang harus segera dia pecahkan.


Pemuda itu bangkit dari berbaring nya lalu menyambar rompi bertudung yang ada di samping dia berbaring.


Tak ingin terlihat mencolok. Perban yang melilit keningnya itu dia timpa dengan sebuah kain hitam bercorak putih yang saat ini sudah melingkari keningnya dengan rapi.


"Lu, kau mau kemana?" Tegur seorang pemuda jangkung pada Lucas saat melihat dia meninggalkan ruang keluarga.


"Ada urusan!" Jawabnya singkat dan jelas.


Yang terdengar selanjutnya hanyalah deru suara motor yang meninggalkan halaman bangunan sederhana yang menjadi markas anak-anak Five Corner.

__ADS_1


Lucas mengendarai motor besarnya dengan kecepatan tinggi. Dia terlihat menyalip beberapa kendaraan yang ada di depannya.


Tak jarang sebuah makian dan umpatan orang-orang berikan pada Lucas, karena pemuda itu beberapa kali hampir menimbulkan kecelakaan.


Setelah 15 menit berkendara. Lucas tiba di semua Apartemen yang terletak di kawasan elit. Itu adalah tempat tinggal Belinda, dan Lucas mencurigai jika sebenarnya dialah dalang di balik insiden yang nyaris merenggut nyawanya.


"Lucas, ada angin segar apa kau datang kemari, Sayangku? Apa kau telah berubah pikiran dan menginginkan aku lagi?"


Lucas menyentak tangan Belinda dari tubuhnya lalu menghimpit wanita itu pada tembok. Sebelah tangan Lucas mencengkram rahang Belinda, membuat mata wanita itu menyipit karena merasakan sakit.


"Lu..Lucas, apa yang kau lakukan?! Ka..Kau menyakitiku!!"


"Katakan dengan jujur, benar kan jika kau yang melakukannya?! Kau adalah orang yang mengirimkan orang-orang dari organisasi Hitam untuk menghabisi ku?!"


"Atas dasar apa kau menuduhku?! Apa kau memiliki buktinya?!"


"Saat ini memang belum, tapi lihat saja bagaimana aku akan menghabisi mu jika aku sampai menemukan bukti jika memang kaulah orang yang ada di balik insiden itu!!"


Kemudian Lucas mendorong tubuh Belinda hingga dia tersungkur di lantai, lalu meninggalkannya begitu saja.


"Lucas?!"


Pemuda itu mengangkat wajahnya setelah mendengar seseorang memanggil namanya. Sudut bibir Lucas tertarik ke atas. Melihat sosok cantik bak boneka Barbie berjalan menghampirinya.


Lucas menarik lengan wanita itu dan meminta Marisa untuk duduk disampingnya. "Ada apa kau mengajakku bertemu di sini?" Tanya Marisa tanpa banyak basa basi.


"Aku merindukanmu, itulah kenapa aku memanggilmu kemari."


"Bukankah baru kemarin kita bertemu? Kenapa semakin hari kau semakin manja saja, EO?!"


"Why? Memangnya tidak boleh? Apa kau merasa keberatan?"


Marisa menggeleng. "Sama sekali tidak." Jawabnya.


Marisa menangkup wajah Lucas kemudian mencium singkat bibir Kiss Able nya. "Noona memiliki sesuatu untukmu. Tinggalkan saja motormu di sini, biar supirku yang membawanya. Kau, kemudian mobilku!!" Pintanya yang kemudian di balas anggukan oleh Lucas.


"Yes, Lady!!" Marisa terkekeh. Dia mengecup kembali bibir Lucas lalu menarik pemuda itu meninggalkan taman.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2