
Lucas tak sedetik pun beranjak dari sisi Marisa. Pria itu duduk disamping wanita itu berbaring. Marisa mengalami demam tinggi sejak semalam dan menolak untuk dibawah ke rumah sakit.
Sekali lagi Lucas memeriksa suhu tubuh Marisa, dan demamnya sudah sedikit turun. Tubuhnya tidak sepanas semalam, setelah diberi obat oleh Lucas.
"Kenapa? Apa kau ingin makan sesuatu?" Tanya Lucas saat Marisa mencoba untuk duduk.
Marisa menggeleng. "Aku capek berbaring terus. Aku ingin duduk." Jawabnya.
"Sebentar." Lucas menumpuk bantal dan guling supaya Marisa lebih nyaman saat bersandar.
Jujur saja Lucas merasa sedih melihat Marisa lebih seperti ini. Sepanjang dia mengenal Marisa. Baru kali ini Lucas melihatnya sakit dan selemah ini, dia adalah wanita yang kuat dan tangguh, dan dia jarang sekali sakit.
Lucas mengambil tempat disamping Marisa kemudian menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Menjadikan kepala coklat Marisa sebagai sandaran kepalanya.
"Lu, bisakah kau memanggilku dengan nama Vivian saat kita hanya bersama? Aku tidak ingat kapan terakhir kali nama itu dipanggil."
"Baiklah, mulai sekarang aku akan memanggilmu Vivian, jika kita hanya berdua." Ucapnya.
Marisa mengangkat kepalanya dari dekapan Lucas. Sepasang Hazel nya mengunci iris mata milik pria itu. Sebelah tangan Marisa menarik leher Lucas, kemudian meraup bibir itu ke dalam sebuah ciuman singkat.
Lucas yang tidak suka di dominasi segera mengambil alih ciuman tersebut, ciuman mereka berubah menjadi ciuman panjang yang menuntut. Tapi tidak lebih dari sekedar berciuman. Marisa sedang sakit, dan Lucas tidak mau membuat kekasihnya ini semakin sakit.
"Kau harus banyak beristirahat. Supaya kondisimu segera pulih kembali." Lucas mencium kening Marisa lalu meminta wanita itu untuk kembali berbaring.
Marisa memang harus segera sehat kembali. Karena besok dia harus pergi ke luar kota untuk menghadiri sebuah pertemuan penting. Tentu saja tidak sendirian, karena sudah pasti Lucas akan menemaninya.
"Jangan ditinggal, aku tidak mau sendirian disini."
Lucas mendengus geli. "Aku tidak akan kemana-mana."
-
Udara pagi menyapa, membelai dedaunan basah, menyerukan kan aroma khas yang sarat akan segarnya pagi itu.
Kicauan burung-burung pun menambah indahnya suasana, mengabarkan dunia bahwa sang matahari siap kembali bekerja menyinari hari.
Seorang wanita baru saja terbangun dari tidur nyenyak nya. Lalu pandangannya bergulir pada sosok tampan yang sedang tertidur pulas disampingnya. Bibirnya mengurai senyum tipis, Marisa tersenyum
Jam dinding sudah menunjuk angka 06.00 pagi. Wanita itu bangkit dari berbaring nya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan sekujur tubuhnya yang penuh dengan keringat.
__ADS_1
Setelah mandi dan berpakaian rapi. Marisa pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Dia hanya membuat roti panggang dan dua gelas susu untuknya juga Lucas.
"Kenapa kau bangun pagi-pagi sekali?" Tegur seseorang dari arah belakang.
Sontak Marisa menoleh dan mendapati Lucas berdiri di ambang pintu sambil bersidekap dada. Lucas masih memakai pakaian yang sama, seperti yang dia pakai semalam. Tank top hitam dan celana panjang putih.
"Kau sudah bangun?" Alih-alih membalas pertanyaan Lucas, Marisa malah balik bertanya.
Lucas menghampiri Marisa, kemudian mengambil alih pekerjaan wanita itu. Padahal Marisa hanya memanggang beberapa lembar roti.
"Duduklah, kau tidak boleh kelelahan. Kau baru saja putih."
"Jangan berlebihan, Lu. Lagipula aku baik-baik saja. Sebaiknya kau mandi dulu, setelah ini kita sarapan sama-sama. Oya, hari ini kau jadi menemaniku ke Busan kan?"
"Kau jadi pergi?"
"Tentu saja, tender itu sangat penting bagi perusahaan ku. Dan aku harus mendapatkannya." Jawab Marisa.
"Apa tidak bisa kau meminta asisten dan sekretaris mu saja yang pergi? Kau baru saja pulih, Vivian. Bagaimana kalau kau sampai drop lagi?" Lucas menatap Marisa dengan cemas.
Marisa menangkup wajah Lucas dan mengunci manik matanya. "Dengarkan aku, Lu. Wanita mu ini bukanlah orang lemah. Lagipula Busan-Seoul tidak jauh. Kan ada dirimu yang bisa menjagaku."
Lucas mendesah berat. Kekasihnya ini memang sangat keras kepala. "Baiklah, terserah kau saja!! Aku mandi dulu." Lucas kemudian beranjak dari hadapan Marisa dan pergi begitu Saja.
Lima belas menit kemudian Lucas kembali dengan penampilan yang jauh-jauh lebih baik dari sebelumnya. Dia memakai pakaian serba hitam yang kontras dengan kulitnya yang putih.
Lucas menghampiri Marisa kemudian mereka duduk saling berhadapan. Marisa dan Lucas menikmati sarapannya dengan tenang, tanpa ada perbincangan diantara mereka.
Usai sarapan. Lucas mengantarkan Marisa kembali ke Mansion nya. Wanita itu harus bersiap-siap untuk pergi ke Busan.
"Masuklah dulu. Aku akan bersiap-siap." Lucas mengangguk.
"PAMAN!!!"
Kedua mata Lucas membelalak melihat dua pemuda berlari menghampirinya. Buru-buru Lucas menghindar, endingnya si kembar malah menubruk tiang disamping Lucas.
"Aduh, gigiku copot!!" Teriak Mark histeris.
"Paman, kenapa kau sangat jahat dan kejam pada kami. Padahal kan kami hanya ingin memelukku saja. Gigi emas ku yang malang, huhuhu."
__ADS_1
"Jika aku tidak menghindar, yang ada kita bertiga malah jatuh berjamaah." Jawab Lucas.
Mark menggaruk tengkuknya yang tidak gatal."Hehehe, benar juga ya." Ucapnya.
"Yakk!! Kalian berdua, berhentilah mengobrol dan mengabaikan ku?!" Protes Vincent. Mark dan Lucas lantas menoleh. Kedua mata Mark membelalak melihat Vincent tersangkut diantara tiang dan sofa.
"Vin, apa yang kau lakukan di sana? Bagaimana bisa kau nyangkut di sana?!" Kaget Mark.
"Jangan banyak tanya,cepat bantu aku keluar dari sini. Aku tidak bisa bergerak, huaaa..."
"Iya, iya aku bantu."
Marisa yang baru saja kembali dari kamarnya dibuat kebingungan dengan tingkah si kembar. Kemudian dia menghampiri Lucas."Ada apa dengan mereka?" Marisa menunjuk Vincent dan Mark.
"Seperti kau tidak paham bagaimana tingkah mereka saja." Marisa terkekeh kemudian mengangguk. "Sudah siap?" Wanita itu mengangguk. Ia dan Lucas berjalan beriringan menuju halaman.
Mereka pergi dengan menggunakan mobil Marisa dan mobil Lucas di tinggalkan di rumah wanita itu. Mereka sengaja berangkat lebih awal karena Marisa ingin melihat bunga Canola, yang selalu muncul ketika musim semi tiba.
Lucas tau jika Marisa sangat menyukai bunga cantik itu. Karena mereka selalu pergi ke Busan setiap kali musim semi datang, hanya untuk melihat bunga Canola.
"Lu, kita mampir ke perusahaan sebentar. Karena dokumennya ada di sana."
"Baiklah."
-
Diana dan Nyonya Jimmy baru saja meninggalkan pusat perbelanjaan. Ditangan mereka penuh dengan berbagai barang bermerek.
Tidak salah jika mereka sering di sebut sebagai reinkarnasi setan belanja, karena hobinya belanja dan menghamburkan uang suaminya.
"Ma, bukankah ini perusahaan milik Investor di perusahaan kita? Bagaimana kalau kita masuk dan menyapa orang di sana. Mereka pasti senang jika kita datang membawakan banyak makanan."
"Mama setuju, itu bukan ide yang buruk."
Diana dan Nyonya Jimmy menghentikan langkahnya. Saat sepasang iris mata mereka melihat sosok wanita yang baru saja meninggalkan perusahaan itu sambil membawa beberapa map ditangannya.
Dia bersama dua pria yang salah satunya adalah Asisten CEO VL Group. Diana dan Nyonya Jimmy saling bertukar pandang dan sama-sama berseru memanggil nama wanita itu.
"Marisa?!"
__ADS_1
-
Bersambung.