
Vivian memagut dirinya di depan cermin. Wanita itu telah siap untuk pergi bekerja. Setelah mengambil cuti, hari ini Vivian mulai bekerja lagi. Sudah terlalu lama dia meninggalkan pekerjaannya. Dan Lucas tidak melarangnya.
Setelah memastikan tak ada yang kurang pada penampilannya. Vivian meninggalkan kamarnya dan menghampiri Lucas yang sudah menunggunya di meja makan.
Dari tangga paling atas, Vivian melihat keberadaan seorang wanita muda yang saat ini sedang berbincang dengan Lucas ruang keluarga. Mereka terlihat dekat, dan Lucas terlihat tidak keberatan saat perempuan itu memeluk lengannya dengan manja.
Penasaran siapa perempuan itu. Vivian pun menghampiri keduanya. Dan kedatangan Vivian rupanya tak disambut dengan baik oleh perempuan tersebut. "Ge, siapa dia?" Tanya Vivian tanpa basa basi.
"Kenalkan, dia adalah Maya, cucu angkat Kakek yang baru kembali dari Eropa. Maya, ini adalah Vivian, istriku."
Sontak kedua mata Maya membelalak."What?! Istri?!" Pekiknya tak percaya. "Lalu kenapa Kakak tidak pernah memberitahuku jika sudah menikah? Kak, sebaiknya ceraikan wanita ini. Aku tidak suka punya kakak ipar berwajah sinis seperti dia!!!"
"Punya hak apa kau meminta Lucas menceraikan ku?! Jangan kau pikir kau adalah cucu angkat, Kakek. Maka aku akan segan padamu!! Ge, aku muak melihat gadis ini disini, sebaiknya aku berangkat saja!!!" Vivian meninggalkan Lucas dan Maya.
Lucas menyentak tangan Maya dan segera mengejar Vivian. Tapi sebelum pergi sebuah tamparan ia darat kan pada wajah Maya, Lucas tidak bisa menerima apa yang dia katakan.
"Kak, kau mau kemana? Kau akan pergi hanya demi wanita itu?! Kak, aku yang lebih lama hidup dan kenal denganmu. Kakak, jangan pergi!!"
"Sekali lagi kau berani bersikap kurang ajar pada Vivian, tanggung akibatnya. Pergi kau dari sini, rumah ini tidak menerima gadis kurang ajar sepertimu!!! Vivian tunggu!!"
"Kakak!!!"
Maya menghentakkan kakinya kesal. Lucas mengabaikan dirinya dan lebih memilih Vivian. Tentu saja dia tidak bisa menerimanya. Padahal dia sengaja pulang dan meninggalkan Study nya demi bisa bertemu dan berkumpul bersama Lucas, tapi ia malah diabaikan.
"Kakak, kau menyebalkan!!!" Teriak Maya.
"Sudahlah, terima saja kenyataan jika Bos lebih memilih nyonya di bandingkan gadis manja sepertimu. Lagipula mana mau Bos sama orang sepertimu!!! Kelas mu dan Nyonya Vivian beda jauh!!!"
"PANDA!! DIAM KAU, MEMANGNYA SIAPA YANG MENGIJINKAN MU UNTUK BICARA?!!!"
"Bicara saja kenapa aku harus minta ijin darimu? Aku punya mulut dan telinga, jadi bebas dong aku untuk bicara apa saja!!!"
__ADS_1
"Kau...menyebalkan!!!" Maya menarik kopernya dan meninggalkan kediaman Lucas. Dia akan mengadukan apa yang dialaminya hari ini pada Kakek Xi, biar dia sendiri yang memberi pelajaran pada Vivian.
-
"Kenapa kau tidak pernah bercerita jika Kakek memiliki cucu angkat?"
Setelah cukup lama saling bungkam, akhirnya sebuah pertanyaan mengakhiri keheningan diantara mereka. Vivian menatap Lucas yang sedang mengemudi dengan penasaran. "Kau tidak pernah bertanya." Jawabnya datar.
"Memangnya harus ya, aku bertanya dulu baru kau mau terbuka padaku?!"
"Vivian, jangan mulai. Oke, aku akui itu salahku karena tidak memberitahumu. Tapi tidak bisakah kita usah memperpanjang kan masalah ini lagi? Yang penting aku dan Maya tidak ada hubungan apapun, beres kan!!!"
"Jika tidak ada hubungan apapun, lalu kenapa kau membiarkan dia bermanja padamu? Ah, karena dia adalah cucu angkat Kakek yang artinya dia adikmu?! Alasan yang tidak masuk akal!!"
Lucas mendesah berat. "Aku sudah melarangnya, bahkan membentak juga, tapi memang dasarnya keras kepala jadi dia tidak kau dengar dan tetap bertingkah sesuka hatinya!!!"
"Tapi aku tidak suka jika ada wanita lain bergelayut manja pada suamiku!!"
"Kau hanya perlu mempercayaiku, aku tidak mungkin mengkhianati mu dan janji suci kita. Dan percayalah, jika hanya kau satu-satunya wanita yang ada dalam hidupku." Ucap Lucas sambil mengeratkan pelukannya. Matanya tertutup rapat.
Vivian menyeka air matanya. Lalu dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Lucas. "Aku mempercayaimu, Ge. Selalu mempercayaimu, hanya saja aku kesal dan cemburu saat melihat ada wanita lain yang bersikap manja padamu, bahkan jika itu adalah adik angkat mu." Tutur Vivian.
Kemudian Lucas melepaskan pelukannya. Biner matanya menatap Vivian dengan sudut bibir tertarik ke atas. "Aku senang saat kau cemburu padaku, karena itu artinya kau sangat mencintaiku!!!" Ucapnya. Lucas memegang wajah Vivian dan ******* singkat bibir ranumnya.
Vivian meninju pelan lengan Lucas setelah ciuman itu berakhir. "Konyol!!!" Kemudian mereka melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda. Karena Vivian bisa terlambat sampai dikantornya.
-
"Presdir!!!"
Tubuh Vivian terhuyung kebelakang karena ulah Frans yang memeluknya dengan tiba-tiba. Dan drama pun dimulai, Frans meneteskan obat tetes mata ke kedua matanya. Agar tangisnya terlihat lebih dramatis.
__ADS_1
"Huaaa, Presdir. Akhirnya kau kembali lagi, apa kau tau bagaimana tersiksanya kami semenjak kau tidak ada. Mia dan aku selalu pulang larut malam, tiada hari tanpa lembur, huhuhu."
Tanpa Frans sadari, sedari tadi ada mata yang terus menatapnya dengan berbahaya. Bahkan aura orang itu pun terlihat suram dan berbahaya. Mia yang menyadarinya pun segera memberi tau Frans.
"Ekhem, sepertinya ada yang sudah bosan hidup!!!"
Sontak mata Frans membelalak. Buru-buru ia melepaskan pelukannya pada Vivian sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Frans tersenyum tiga jari. "Hehehe, maaf Tuan Bos. Itu hanya refleks karena terlalu bahagia." Dia mencoba membela diri.
"Sekali lagi kau berani memeluk Vivian, habis kau!!!"
"Baik, saya berjanji tidak akan memeluk Presdir sembarangan lagi." Frans mengangkat tangannya, jarinya membentuk huruf V.
Sedangkan Vivian dan Mia sama-sama terkekeh melihat ketidakberdayaan Frans dihadapan Lucas. Vivian menghampiri Lucas lalu memeluk lengannya. "Ge, tidak perlu diperpanjang lagi. Ayo, kita masuk saja." Lucas menatap Vivian lalu mengangguk. Keduanya berjalan beriringan memasuki ruangan Vivian.
Vivian menangkup wajah suaminya yang terlihat kesal itu. Sebuah ciuman Vivian darat kan pada bibir suaminya. "Sudahlah, Ge. Tidak perlu memasang muka seperti ini lagi. Frans, tidak ada maksud apa-apa kok. Dia hanya terlalu senang aku kembali." Vivian mencoba meredam kekesalan Lucas.
"Tapi tetap saja aku tidak suka orang lain menyentuhmu seperti itu." Jawabnya ketus.
"Tidak akan lagi, itu yang pertama dan terakhir kalinya. Lagipula dia tidak akan berani lagi memelukku sembarangan. Percaya padaku, hm."
Lucas mengambil napas panjang dan menghelanya."Aku akan melupakan kejadian itu. Tapi jika aku melihat dia melakukannya lagi, ku pastikan dia hanya tinggal nama!!!" Ucap Lucas bersungguh-sungguh. Vivian mengangguk.
"Aku mengerti. Kau ingin tetap di sini atau~"
"Tetap di sini!!!" Lucas menyela cepat. Dia tidak ingin hal serupa kembali terulang, sedangkan Vivian hanya bisa mengiyakannya. Karena jika dilarang, pasti Lucas akan salah paham.
"Baiklah."
-
Bersambung.
__ADS_1