CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY

CEO CANTIK & KING MAFIA LOVE STORY
Istri Terbaik


__ADS_3

Cicit suara burung yang hinggap di atas pepohonan menyambut datangnya hari baru. Sang penguasa malam telah kembali ke singgasananya dan posisinya kini di gantikan oleh sang Raja siang.


Aroma tahan basah sisa hujan semalam masih begitu terasa dan menggelitik ujung-ujung syaraf penciuman.


Teori tentang aroma hujan dan memori manusia rupanya bukan isapan jempol belaka, wewangian alami seperti ini bisa menyeret ingatan manusia tentang apa yang diamatinya di masa lalu.


Seorang wanita terlihat beranjak dari tidurnya, dengan kaki tel*njang. Wanita itu berjalan menuju balkon kamarnya. Udara pagi yang masih sejuk dan alami langsung menyapa ketika sepasang kaki jenjangnya menapaki lantai balkon yang dingin.


"Segarnya." Kelopak matanya tertutup, menyembunyikan sepasang Hazel yang indah di sana.


Berdiri di balkon ketika pagi tiba, adalah salah satu rutinitas yang Vivian lakukan setiap pagi hari sebelum ia bersiap untuk bekerja. Lalu pandangannya bergulir pada sosok tampan yang masih terlelap dalam tidurnya.


Vivian tidak tega untuk membangunkan Lucas, hampir semalam pria itu tidak tidur karena demam. Mungkin karena luka-luka yang ada di sekujur tubuhnya. Vivian sudah menyarankan untuk pergi ke rumah sakit. Tapi Lucas menolaknya.


Luka yang Lucas peroleh dari perkelahiannya satu lawan satu semalam memang lumayan parah. Apalagi luka di dada dan lengan kirinya. Dan melihat keadaan Lucas saat ini, tentu saja Vivian tidak sampai hati untuk meninggalkannya.


"Vi,"


Suara berat seorang pria yang masuk ke dalam indera pendengaran Vivian langsung menyita perhatiannya. Wanita itu menoleh dan mendapati Lucas tengah duduk sambil memegangi kepalanya yang terlilit perban, rasanya kepalanya ingin pecah.


"Ge," kemudian Vivian beranjak dari balkon dan menghampiri Lucas yang tampak kesakitan. "Kau terlihat buruk, sebaiknya kita ke rumah sakit saja ya? Kau harus mendapatkan perawatan yang intensif." Ucap Vivian membujuk.


Lucas menggeleng. "Tidak perlu, aku di rumah saja. Istirahat satu dua hari juga akan membaik, kenapa kau masih ada di rumah? Apa kau tidak pergi bekerja?" Tanya Lucas memastikan.


"Aku mengambil cuti, tidak mungkin aku meninggalkanku dalam keadaan seperti ini. Lagipula aku memiliki banyak orang-orang yang bisa diandalkan selama aku tidak ada."


Lucas menarik lengan Vivian dan menuntun wanita itu untuk duduk disampingnya. "Maaf, karena diriku kau harus bolos kerja. Seharusnya aku bisa menjaga diri dan tidak sampai terluka seperti ini."


"Apa yang kau katakan, Ge. Kenapa kau harus minta maaf? Lagipula sudah kewajiban ku menjaga dan merawatnya ketika sedang sakit. Kau adalah suamiku, dan tugasku adalah melayani mu."

__ADS_1


Pria itu membawa Vivian Ke dalam pelukannya dan mendekap tubuh itu dengan erat. "Aku beruntung memiliki istri sepertimu, kau adalah wanita terbaik yang pernah aku miliki dalam hidup ini. Dan aku tidak pernah ingin kehilanganmu. Untuk itu berjanjilah jika kau akan selalu ada di sisiku apapun yang terjadi, jangan pernah meninggalkanku."


"Baiklah, Ge. Aku berjanji." Ucap Vivian sambil membalas pelukan Lucas.


Luca berharap jika kebersamaannya dengan Vivian akan berlangsung selamanya. Dia tidak rela jika harus kehilangannya. Vivian adalah separuh dari nafasnya, harta paling berharga yang dia miliki dalam hidup ini.


Dia adalah separuh dari jiwanya. Vivian adalah hidup dan matinya, dan dia adalah satu-satunya wanita yang dia inginkan dalam hidup ini. Satu-satunya orang yang pantas menjadi Ibu dari anak-anaknya kelak.


"Tidurlah lagi, aku mandi dulu." Vivian mencium kening dan pipi Lucas yang terbalut perban, dan meninggalkannya begitu saja.


Selepas kepergian Vivian. Suasana di dalam kamar itu menjadi lengang dan hening. Sepasang Biner Lucas menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan hampa.


"Kevin, apa kau merestui kami dari Surga sana? Maafkan aku, seharusnya kau yang bersanding dengannya. Jika saja tragedi itu tidak pernah terjadi. Pasti saat ini kalian berdua sudah hidup bahagia." Lucas menutup matanya, cairan kristal bening mengalir dari pelupuknya.


Jika bisa, Lucas ingin menukar posisinya dengan Kevin. Dia sangat menyesali apa yang terjadi hari itu. Jika saja ia tidak datang terlambat, pasti Kevin masih ada hingga detik ini. Tapi nasi telah menjadi bubur, apa yang terjadi tidak mungkin bisa kembali lagi.


Cklek...


Sebelah tangannya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah. Setelah itu, Vivian duduk di depan meja riasnya. Setelah memolesi wajahnya dengan make up tipis, Vivian berganti pakaian.


Dress putih kombinasi hitam yang mengikuti lekuk tubuhnya dan mengembang di bagian bawahnya menjadi pilihannya. Kemudian Vivian berbalik, dia terkejut melihat tatapan Lucas yang seolah ingin menerkamnya.


"Jangan menatapku seperti itu, kau membuatku gugup, Ge." Vivian menundukkan wajahnya. Dia malu sendiri karena tatapan Lucas yang begitu dalam.


"Memangnya kenapa? Kau terlihat semakin cantik saat tersipu, Xi Vivian."


"Sudah ah, jangan mengatakan omong kosong lagi. Aku mau menyiapkan sarapan untukmu dulu." Ucap Vivian dan pergi begitu saja.


Lucas terkekeh geli. Kemudian pria itu bangkit dari pergi ke kamar mandi, tubuhnya lengket semua oleh keringat.

__ADS_1


.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Lucas menghampiri Vivian yang sedang sibuk di dapur. Wanita itu sedang menyiapkan sarapan untuknya dengan dibantu beberapa pelayan.


Sebenarnya Vivian agak payah dalam urusan memasak, tapi dia selalu berusaha untuk melakukannya dan menjalankan salah satu kewajibannya sebagai seorang istri. Dan itulah yang membuat Lucas terharu.


Meskipun masakan Vivian jauh dari kata sempurna, tapi Lucas selalu memujinya dan mengatakan jika masakannya adalah yang terbaik. Dia selalu memakannya tanpa mengeluhkan rasanya.


"Ge, sarapan hampir siap. Setelah ini kita sarapan sama-sama ya." Ucap Vivian yang kemudian dibalas anggukan oleh Lucas.


"BIBI, PAMAN, KAMI DATANG!!"


Perhatian mereka teralihkan oleh suara teriakan nyaring dua pemuda yang pastinya adalah Vincent dan Mark. Mereka datang tidak dengan tangan kosong, mereka membawa kelapa muda, durian, nanas dan pisang. Kedua pemuda itu baru saja pulang dari berlibur di Bali, Indonesia.


Vivian melepas apronnya lalu meninggalkan dapur dan menghampiri si kembar yang sekarang sedang berbincang dengan Lucas di ruang keluarga. "Apa yang kalian bawah?" Kaget Vivian melihat oleh-oleh yang mereka bawa itu.


"Bibi, ini adalah oleh-oleh kami dari Bali. Dan semua ini untuk kalian berdua. Oya, Paman Tao dan Paman Kai pingsan di luar, mereka berdua mabuk setelah mencium aroma durian yang kami berikan untuknya."


"Bawa pergi durian itu dari sini, jika kalian tidak ingin wajah jelek kalian semakin jelek karena duri-duri durian itu!!"


"Tapi, Bibi. Kami membawakan ini untukmu." Jawab keduanya dengan kompak.


"KALIAN INGIN MERACUNIKU YA?! AKU INI ALERGI SAMA DURIAN!!!"


"Hah, maaf. Kami lupa. Baiklah kami bawa keluar saja. Tapi nanas, pisang dan kelapa mudanya kau terima kan?"


"Simpan saja di dapur. Kalian keterlaluan, gara-gara durian itu kepalaku jadi pusing." Ucap Vivian sambil memegangi kepalanya.


Dia memang alergi pada buah-buahan yang beraroma menyengat. Durian dan nangka salah satunya, Vivian pernah sampai tidak sadarkan diri selama 1 hari dua malam karena nangka dan durian.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2